HIDAYAT NUR WAHID; Kesederhanaan dalam Bernegara

Hidayat Nuw Wahid

Hidayat Nur Wahid

Saya hanya pernah bertemu sekali. Itupun sudah lama sekali. Pertemuan itu terjadi dalam sebuah acara diskusi yang diselenggarakan teman-teman dari gerakan Tarbiyah (cikal bakal PKS) pada sekitar awal tahun 1990-an di Yogyakarta, tepatnya di Masjid Mardiyah, masjid yang terletak di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mulanya, saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Namun, dari beberapa kawan yang saya temui, diperoleh keterangan bahwa ia merupakan tokoh dari gerakan Tarbiyah di Indonesia. Ia sangat aktif menyebarkan gagasannya di kalangan kaum terpelajar. Kalau ingin mendengar kisah tentang semangat dakwah model Ikhwanul Muslimin (Mesir) di tanah air, maka dia adalah tempatnya. Ia sejajar dengan tokoh-tokoh lain, semisal Ustadz Abu Ridho, Ustadz Rakhmat Abdullah, Ustadz Hilmi Aminuddin, dan yang lainnya.

Santun dan bersahaja! Itulah kesan kuat pertama saat saya bertemu dengan Dr. Hidayat Nur Wahid atau biasa disapa Ustadz Hidayat. Sikap dan bicara alumni Universitas Madinah (Arab Saudi) itu terkesan lembut, tidak meledak-ledak. Senyum yang ramah selalu terlontar darinya. Penampilannya juga tidak terlalu menyolok, hanya baju batik lengan panjang yang dipadu dengan celana berwarna gelap.

Sekilas, melihat Ustadz Hidayat saya selalu teringat ucapan teman saya. Kata teman saya, begitulah khasnya seorang ustadz. Wajahnya mirip, sikapnya tidak berbeda, perilakunya juga sama. Apa itu? “Lembut dalam penampilan, tapi keras dalam pendirian”! Seorang ustadz akan bersikap lembut dan sopan, hati-hati dan damai. Namun, sekali ia bicara tentang kebenaran, hatinya kukuh bagai cadas. Tidak mudah goyah.

Seorang ustadz berbeda 180 derajat dengan para preman, koruptor, atau pelaku kejahatan lain. Jika seorang ustadz berciri “lembut dalam penampilan, tapi keras dalam pendirian”, maka para preman atau pelaku kejahatan lain berprinsip sebaliknya. Mereka “keras dalam penampilan, tapi lembut dalam pendirian”. Keras karena mereka memerlukan kekerasan untuk menaklukan orang lain. Lembut sebab mereka mudah terombang-ambing oleh berbagai macam godaan dengan mengorbankan kebenaran.

Saya amat senang hadir dalam acara tersebut. Apalagi acara itu memang sengaja khusus dibuat untuk membahas persoalan dakwah yang saat itu sedang ngetren, yakni “Apa itu salaf dan siapa yang disebut salaf?”. Dan tokoh yang diundang untuk membahasnya juga tidak main-main, yakni Ustadz Hidayat dan Ustadz Jafar Umar Thalib, dedengkot gerakan Salafiyah di negeri kita.

Saya sebenarnya berharap diskusi akan berlangsung ramai dan menggairahkan. Masing-masing pihak berusaha untuk mempertahankan dan mematahkan alur pikiran masing-masing. Tapi, apa faktanya? Ternyata Ustadz Jafar berhalangan hadir pada acara yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan itu.

Gosip yang terdengar, Ustadz Jafar sengaja tidak mau hadir karena ia menghormati Ustadz Hidayat. Meskipun berbeda dalam manhaj, tapi Ustadz Jafar menganggap Ustadz Hidayat adalah temannya. Karena teman, ia tak mau pernyataan-pernyataannya dalam diskusi itu nantinya menjadi alat yang digunakan pihak lain dalam menyerang Ustadz Hidayat dan gerakan Tarbiyah-nya.

Meski Ustadz Jafar tidak hadir, Ustadz Hidayat tetap menjadi sasaran bombardir dari para ikhwan salafy yang notabene adalah murid-murid dari Ustadz Jafar. Para ikhwan salafy tidak dapat menerima inti pernyataan Ustadz Hidayat yang menerangkan bahwa tanpa perlu masuk ke dalam gerakan yang bernama “salafy”, siapapun bisa disebut salafy jika ia setia kepada manhaj salafy. Bagi para ikhwan salafy, hanya orang yang masuk ke dalam gerakan salafy sajalah yang patut dianggap salafy. Tanpa masuk ke dalamnya tidak mungkin seseorang disebut salafy.

Diskusi berlangsung alot dan tanpa menemui hasil. Hingga diskusi berakhir masing-masing berusaha mempertahankan keyakinannya. Tak ada yang menyerah, tak ada yang kalah. Uniknya, ketika diskusi berakhir dengan bergegas Ustadz Hidayat langsung menuju ke audiens untuk menemui sosok berbadan tinggi besar dan berjubah. Siapa dia? Ustadz Abu Nida! Dialah sosok gerakan salafy yang lain selain Ustadz Jafar.

Ustadz Hidayat dan Ustadz Abu Nida saling berangkulan. Keduanya bercakap-cakap dengan akrab. Ustadz Hidayat lalu bercerita bahwa dirinya sudah akrab dengan Ustadz Abu Nida sejak di Saudi. Mereka banyak mendiskusikan tentang gerakan dakwah di tanah air. Mereka saling mengagumi dan memuji, seolah tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Kini saya menyaksikan Ustadz Hidayat telah menjadi tokoh di negeri ini. Dia adalah Ketua lembaga tinggi negara, MPR. Mungkin semua orang yang hadir pada acara diskusi itu tidak ada yang pernah membayangkan bahwa tokoh yang sedang berbicara dakwah Islam itu kelak menjadi orang yang begitu penting di negeri ini.

Namun, apa perubahan yang telah dilakukan oleh Ustadz Hidayat sebagai Ketua MPR? Banyak orang yang tidak tahu, termasuk diri saya. Mungkin karena itu banyak kader PKS yang menginginkan ia dapat mendampingi SBY sebagai wakil presiden dalam pemilihan presiden 2009. Dengan menjadi wakil presiden apa yang dilakukan Ustadz Hidayat akan lebih jelas sehingga terbaca nantinya. Sayangnya, SBY lebih memilih Boediono.

Tapi, entah mengapa saya tidak terlalu peduli dengan itu. Karena saya yakin sulit bagi seorang Ustadz Hidayat untuk mengubah persoalan kenegaraan dan ketatanegaraan dalam sebuah sistem yang sudah baku. Apanya yang mau dan mampu diubah? Maka kita semua sebenarnya sedang menunggu peran apa yang akan “kembali” disandang oleh seorang Ustadz Hidayat Nur Wahid. Jangan-jangan Ustadz Hidayat memang lebih pas untuk kembali “menyapa” dan memberi semangat terhadap kalangan terpelajar dalam persoalan dakwah Islam di tanah air. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: