PERANG ACEH, CAKAP MINANG, KUASA JAWA

jawaSaya percaya, karakter, watak, sifat, atau bahkan budaya suatu suku bangsa tercermin dari sejarahnya. Mengapa demikian? Karena sejarah memang ibarat sebuah cermin, cermin kelampauan demi kekinian dan keakanan. Sejarah mampu melihat dan meraba, mengamati dan mendeteksi apa yang dilakukan sebuah bangsa dalam perjalanannya.

Begitu percayanya saya terhadap pernyataan seperti itu, maka susah bagi saya untuk memandang karakter, watak, sifat, atau bahkan budaya bangsa itu tanpa melihat perjalanan sejarah bangsa itu sendiri. Tidak mungkin! Ibaratnya, mustahil kita mampu membaca karakter seseorang tanpa kita memperhatikan sejarah kehidupannya di masa kecil, remaja, dewasa, hingga tua.

Sukarno terkenal sebagai pribadi yang terbuka, keras, dan apa adanya. Sebaliknya, Hatta dipandang sebagai pribadi yang santun, lembut, dan pendiam. Karakter Sukarno dan Hatta yang berbeda timbul karena mereka lahir dari “kantong sejarah” yang berlainan. Fase didikan kasih orang tua, pertemanan sebaya, dan lingkungan pergaulan sosial menjadi faktor penentu munculnya perbedaan itu.

Tentu, saya tidak bermaksud menafikan persoalan watak bawaan sebagai anugerah dari Tuhan yang sifatnya tetap. Tapi, akan menjadi semakin jelas bila kita mampu mengurai persoalan karakter dan watak itu dalam konteks perjalanan sejarahnya yang tanpa putus. Setiap pertanyaan ataupun gugatan tentang karakter seseorang akan selalu mendapatkan jawabannya; bukan karena semata pemberian Tuhan.

Jepang dan Jerman adalah dua bangsa yang dikenal memiliki karakter kuat dan tahan banting. Selain itu, Jepang dan Jerman disebut pula sebagai bangsa yang amat peduli dengan teknologi tinggi. Tentu tidak heran bila kita mendasarkan karakter bangsa Jepang dan Jerman itu pada jawaban sejarah bangsa itu yang penuh gelora, bersemangat, dan tak mudah putus asa.

Jerman gemilang di era Bismarck, tapi runtuh ketika Sekutu menerjang kekuasaan Hitler. Jepang bangkit di masa Meiji Tenno, namun ambruk saat bom atom menyerang dua kotanya. Sejarah yang panjang tidak menjadikan kedua bangsa itu letih dan tua. Sejarah yang panjang justru membuat mereka lebih percaya diri dan berpengalaman.

Saya percaya karakter bangsa kita sesungguhnya tidak terlalu beda dengan Jerman dan Jepang. Naik turunnya sejarah bangsa kita yang diwakili oleh perjalanan peradaban Hindu-Buddha dan Islam di Nusantara menjadi bukti. Bahkan karakter itu kemudian menyebar ke dalam kedalaman hati sanubari suku-suku bangsa di seantero Nusantara, seperti Aceh, Minangkabau, Jawa, dan yang lainnya.

perang acehAceh tidak sudi menyerah kepada Belanda hingga akhir abad ke-20. Tanah rencong bahkan rela mengorbankan putra-putri terbaiknya sebagai martir demi tetap tegak dan sejajarnya mereka di hadapan bangsa asing. Teuku Umar, Panglima Palom, Cut Nyak Dien adalah sebagian diantara putra putri Aceh tersebut. Bahkan di era Orde Baru, Soeharto tetap tidak mampu “menaklukkan” seluruh rakyat Aceh dalam naungannya.

Minangkabau kaya dengan kalangan cerdik pandai. Sejarah mencatat merekalah yang melahirkan tokoh-tokoh besar republik ini di masa lalu, seperti Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Moh. Natsir, Tan Malaka, Adam Malik, dan masih banyak lagi. Semangat menuntut ilmu dan haus akan pengetahuan menjadi dasar pembentukan karakter Minangkabau yang cakap dan cerdas itu.

Jawa mahir dalam memainkan kuasa. Mereka ahli dalam strategi merebut, mengolah, dan bahkan mempertahankan kekuasaan. Warisan sejarah dan budaya kerajaan-kerajaan Hindu-Budda hingga Islam menjadi dasar bagi masyarakat Jawa dalam memandang sebuah kekuasaan. Maka dari situ lahir pucuk-pucuk pemimpin tertinggi bangsa ini dari mulai Sukarno, Soeharto, Megawati, Abdurrahman Wahid, dan Soesilo Bambang Yudhoyono.

Dari hal itu, saya yakin, bahwa karakter bangsa kita niscaya lekat dengan sikap pantang menyerah, cakap cerdas, dan mahir dalam “memainkan” kekuasaan. Kita tidak mungkin menyerah kalah kepada tekanan dan ancaman bangsa asing. Kita akan mampu mengadu otak dengan modal kecakapan dan kecerdasan. Kita bahkan tidak takut mengadu strategi karena kita sudah terbiasa dengan kekuasaan.

Lalu, ke mana semua warisan itu sekarang?

Entahlah. Saya sendiri tidak tahu. Hingga sekarang saya tidak habis pikir kenapa kita mudah sekali takluk dan menyerah kepada tekanan lembaga asing, semacam IMF atau World Bank. Saya juga tidak paham ke mana perginya budaya cakap dan cerdas yang ditumbuhkan di ranah Minang. Saya malah tidak mungkin tidak menggeleng-gelengkan kepala melihat kita gagap dan kerdil saat melihat kuasa negeri-negeri kecil tetangga, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Bener saya bingung!!! * * *

6 Responses

  1. gak lengkap;

  2. Thanks komentarnya. Moga2 ada yg bisa melengkapi….

  3. HE..HE… ACEH TU MULAI PERANG DENGAN BELANDA BARU MULAI SEJAK TAHUN 1873 DAN BERAKHIR PERANGNYA HANYA SAMPAI AWAL2 TAHUN 1900, DAN WAKTU ITU HAMPIR SELURUH WILAYAH ACEH SUDAH DIKUASAI BELANDA DAN SEBAGIAN BESAR PEMBESAR ACEHPUN SUDAH DITANGKAP ATAU TERBUNUH, JADI KURANG LEBIH PERANG ITU CM 30-AN TAHUN SAJA , PASUKAN BELANDA YANG DIKERAHKAN DLM EKSPEDISI PERTAMA CUMA 3000 ORG SAJA, EKSPEDISI BERIKUTNYA JUMLAHNYA LEBIH BANYAK SEDIKIT DAN ISTANA SULTAN LANGSUNG BISA DIKUASAI, KALAU DI JAWA MULAI BELANDA MENJEJAKKAN KAKI DI BATAVIA SUDAH TERJADI PERANG BESAR 2 KALI,(1628 DAN 1629) OLEH SULTAN AGUNG YANG MELIBATKAN PULUHAN RIBU PRAJURIT MATARAM, TERUS PERANG DIPONEGORO (1825-1830) YANG MERUPAKAN PERANG TERBESAR YANG DI ALAMI BELANDA DALAM MELAWAN BUMIPUTERA, KARENA BIAR CUMA 5 TAHUN BERPERANG TAPI KERUGIAN YANG DITIMBULKAN SANGAT BESAR…,PULUHAN RIBU SERDADU BELANDA (BELANDA+PRIBUMI) DAN RATUSAN RIBU (HAMPIR 1/3 JUTA ORANG DI WILAYAH KESULTANAN MATARAM) AKIBAT PEPERANG TERSEBUT…MATI. BELUM LAGI PERANG2 SPORADIS YANG TERJADI HINGGA TAHUN 1923 YANG MASIH TETAP ADA PEMBERONTAKAN DI JAWA, JADI KALAU MELIHAT RENTANG WAKTU YG ADA DALAM PEPERANGAN MELAWAN PENJAJAH SAMPAI RATUSAN TAHUN JELAS PERANG DITANAH JAWA LAH YG MEMPUNYAI RESISTENSI PALING TINGGI DI ANTARA PEPERANGAN-PEPERANGAN YANG ADA DI BUMI NUSANTARA

  4. Di Indonesia, ada 3 perang paling berat bagi Belanda yaitu Perang Aceh, Perang Diponegoro dan Perang Paderi…

    Khusus untuk perang Aceh, waktu perangnya panjang melibatkan beberapa generasi… untuk perang Jawa pendek saja yaitu hanya 5 thn perang dan seluruh jawa takluk….

    tapi untuk perang paderi berlangsung dari thn 1821 sampai 1845 yaitu 24thn perang, walau benteng bonjol jatuh thn 1837 dan banyak pihak yg terlibat… Termasuk tentara barisan diponegoro sebagian kecil berperang dipihak Paderi, orang batak juga sebagian berperang dipihak paderi, orang Aceh juga ikut perang dipihak paderi, termasuk barisan Melayu Riau….

    sementara Belanda didukung oleh banyak pihak…. mulai dari orang belanda sendiri, tentara Inggris, tentara Prancis, Barisan sentot bekas panglima Diponegoro, barisan batak animisme, barisan Bugis/makassar, Orang Madura, Petarung dari Ambon dan pembelot-pembelot dari orang minang sendiri… Setelah Perang Dijawa selesai, baru gerakan Paderi bisa diselesaikan..

    Artinya Perang Diponegoro bisa diselesaikan dgn cepat, sementara untuk menundukkan orang minang, Belanda perlu waktu 4 kali lebih lama dibanding perang Di Jawa… mana yg lebih berat coba pikir sendiri?

    Joe

  5. Penaklukan Belanda terhadap Jawa jauh lebih lama dibanding penaklukan Aceh. Boleh dibilang mulai tahun 1628 s/d 1830 diakhir perang Diponegoro. Berbeda dengan daerah lain, dalam penaklukan jawa oleh VOC (kemudian Hindia Belanda) memainkan politik adu domba yang dikombinasi operasi militer dengan sangat cantik sehingga secara perlahan Jawa (Mataram) dapat dikuasai. Belanda paham betul serangan frontal ke jawa seperti yang dilakukan ke Aceh, Minangkabau, Makasar atau tempat lain sangatlah beresiko. Serangan Mataram ke batavia tentunya menjadi pelajaran berharga kepada Belanda untuk tidak meremehkan Mataram.
    Bahkan hanya untuk menumpas pemberontakan Diponegoro di kasultanan Yogyakarta, Belanda didukung raja2 jawa pro Belanda harus mendatangkan pasukan pribumi dari Bali, Bone, Gorontalo, Tidore, Ternate dan Arafuru dan ribuan pasukan expedisi dari Eropa. Perang Aceh memang paling lama tetapi kalah brutal dibanding perang Diponegoro. Bandingkan hanya dengan medan perang seluas kabupaten Aceh besar saja Belanda kehilangan 15.000 orang pasukan dan 200.000 orang Jawa tewas dalam waktu kurang dari 5 tahun. Perang pun diakhiri dengan “tipu daya”..” Tipu daya” inilah yang selalu diterapkan Belanda pada konflik dengan Indonesia hingga masa Trikora dan kemudian dipakai negara negara barat untuk menguasai Indonesia melalui “tipu daya” spt :berupa pinjaman World Bank, IGGI, IMF, kontrak pertambangan, kerjasaama militer dll sehingga kemerdekaan kita tergadaikan.
    Jangan lupa sejarah, yang menjajah Indonesia pertama kali adalah VOC, sebuah “kongsi dagang”.

  6. Bila diuraikan th. 1619 Belanda baru mendapat wilayah Batavia, th 1670 mendapat wilayah jawa barat minus Banten atas keterlibatannya dalam perang Trunojoyo, th 1705 Belanda mendapat wilayah madura dan jawa timur bagian timur (karesidenan Besuki) atas keterlibatan dalam perang Untung Suropati-Sunan Mas. Th 1724 Belanda mendapat wilayah Rembang karena terlibat perang melawan pemberontakan pangeran Haryo Mataram. Th 1744 Belanda mendapat wilayah seluruh pantai utara jawa dari Tegal hingga Surabaya. Th 1755 dan tahun 1775 Mataram dipecah belah menjadi 3 kerajaan kecil. Th. 1810 Belanda mendapat wilayah karesidenan Kedu (Magelang) dan Pacitan setelah menumpas perlawanan Hamengkubuwono III. Pd th 1830 setelah perang Diponegoro mendapat wilayah karesidenan banyumas, kebumen, purworejo, wonosobo, karesidenan Madiun, Karesidenan kediri, karesidenan malang dan bojonegoro. Mataram tinggal tersisa Yogyakarta dan Surakarta sebagai wilayah vorstenlanden yg otonom tetapi dalam pengawasan ketat Belanda. Tidak hanya itu, disekitar Surakarta dan Yogyakarta juga banyak bangun tangsi dan benteng seperti fort generaal cochius (gombong), vredeburg (yogya), vastenburg (solo), fort willem I dan Willem II (ambarawa), fort oranje (semarang) dan fort du bus (ngawi). Tangsi militer juga dibangun di Purworejo, Magelang dan Salatiga. Sampai kedatangan Jepang, Belanda tidak berani membubarkan kerajaan Surakarta dan Yogyakarta seperti halnya mereka membubarkan kesultanan Aceh, Palembang, Banjar dan Makasar. Meskipun diawasi sangat ketat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: