KONDANGAN KE PEJABAT

ring“Bisakan, Mas? Cuma sebentar. Tidak sampai satu jam paling acara sudah selesai. ”

Entah sudah berapa kali pagi itu istri saya merayu. Merayu agar sore nanti saya mau menemaninya ke pesta atasannya, seorang pejabat eselon satu di lingkungan departemen tempat dia bekerja yang hendak menikahkan salah satu anaknya.

“Kenapa sih nggak bareng sama teman-teman, ikut bus jemputan?” elak saya. Saya tahu, departemen tempat dia bekerja memiliki banyak bus yang mengantar dan menjemput para karyawan setiap hari kerja dari Bogor menuju Jakarta. Jadi, untuk pesta kali ini, pasti bus itu dimanfaatkan.

“Mas, bus jemputan departemen itu untuk para staf…”

Istri saya tidak melanjutkan perkataannya. Ah, saya baru ingat, ia bukan lagi staf. Istri saya sudah jadi pejabat sekarang, meski pejabat eselon empat. Pejabat eselon empat adalah pejabat terendah dalam kasta kepangkatan di instansi pemerintahan negeri ini.

“Jadi, ibu pejabat tak bisa naik bus jemputan lagi dong,” sindir saya.

Wajah istri saya berubah. Mukanya masam. Tak sedap dipandang.

“Mas, sekarang mau tidak menemani saya?!” istri saya mulai memakai jurus paksaan. Saya tahu, kalau sudah begini, ia bisa nekad berangkat sendiri. Wah, kacau nanti, pikir saya.

“Memang kalau nggak datang kenapa?” saya coba lagi bernegosiasi.

Istri saya menarik napas panjang.

“Mas, kita ini diundang ke pernikahan. Kalau diundang, ya kita datang. Nggak pantes saja kalau saya tidak datang tanpa alasan. Apa kata orang nanti. Macem-macem pasti. Tahu sendirilah pegawai negeri….”

Tahukah Anda kenapa saya begitu malas menemani istri saya ke pesta pernikahan anak salah seorang pejabat di departemennya?

Jakarta! Terus-terang saya malas datang karena pesta itu diselenggarakan di Jakarta. Datang ke Jakarta sama saja kita menemui kata-kata seram berikut ini; macet, polusi, kotor, kriminal, semrawut, dan masih banyak lagi. Tapi, apa sih yang dapat dibanggakan seorang suami terhadap istri selain keikhlasannya untuk berada di sisinya pada saat ia memerlukan.

Maka pada Minggu sore itu, sekitar pukul lima, kami berangkat dari Bogor menuju Jakarta. Gila! Baru saja mobil yang saya kemudikan memasuki pintu tol Bogor, kemacetan sudah menerpa. Mobil tak bisa bergerak. Ribuan mobil orang kaya Jakarta yang baru pulang “mendaki” kawasan Puncak (Cisarua) menjadi penyebabnya.

“Dik, kita balik saja ya….” usul saya mulai gerah.pengantin

“Mas, sabar sedikit. Paling sebentar lagi jalanan lega,” jawab istri saya.

Kali ini istri saya benar. Setelah kami memutuskan untuk sholat magrib sambil duduk-duduk di tempat peristirahatan, jalan tol kembali lancar. Bahkan hanya dalam waktu 45 menit mobil kami sudah memasuki kawasan parkir di tempat pesta pernikahan .

Aduh! keluh saya membatin. Ratusan mobil menumpuk di tempat parkir. Saya bingung, di mana saya mesti memarkir mobil yang saya kemudikan. Bolak-balik mata saya jelalatan, bolak-balik pula saya harus menerima kekecewaan. Saya tidak mendapatkan satupun ruang parkir yang tersisa. Darah saya mulai panas.

“Sudah pak, di samping sini saja,” anjur seorang satpam yang meminta mobil saya diparkir di samping ruangannya.

Saya dan istri berjalan ke ruang pesta. Sial! Lagi-lagi sebuah keluhan tak bisa saya tahan. Ratusan orang antre demi mengucapkan selamat kepada mempelai. Edan! Berapa jam saya harus berdiri seperti ini? Antrean itu mirip sekali dengan antrean rakyat yang hendak membeli minyak tanah. Berjubel! Darah ini kembali mendidih.

“Pak, silakan ke sini….” seorang pria berbadan tegap “menarik” dengan penuh hormat seorang pria berbaju jas dan perempuan berkebaya mewah untuk ke luar dari antrean.

“Lho… Lho… Kok mereka langsung ke depan!” mulutku berucap keras tanpa bisa saya cegah.

“Ssst… Mereka itu Pak Dirjen. Orang nomor dua di bawah Pak Menteri,” tukas istri saya lirih, tapi tegas.

Saya benar-benar sudah tidak tahan. Tapi, waktu akhirnya datang juga. Setelah bersalaman dengan mempelai, saya dan istri berjalan menuju tempat makan. Ratusan orang numplek di situ. Pandangan saya tebarkan. Namun, saya tak memperoleh apa yang saya bayangkan.

“Dik kita pulang saja!” ajak saya.

“Nggak makan dulu?”

Makan apaan! Wong tinggal sisa-sisa! Batin saya sambil ngeloyor pergi untuk mengambil mobil di tempat parkir dekat satpam. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: