PAKAR PENGKHIANATAN

badut 1Siapa golongan makhluk manusia paling hebat di negeri ini?

Tentu, Anda boleh berpusing ria dengan pertanyaan seperti itu. Namun, andai pertanyaan seperti ini diajukan kepada saya, maka saya tidak akan ragu menjawab, PAKAR! Kenapa pakar? Karena di tangan para pakar, sesuatu yang sebelumnya bermasalah menjadi tidak lagi bermasalah. Sesuatu yang awalnya ribet, akhirnya berubah mudah. Segalanya clear! Hebatkan?!

Pakar, bagi saya lebih hebat daripada profesi lain dalam masyarakat. Ia lebih dari seorang dokter, pengusaha, pengacara, tentara ataupun guru. Julukan pakar, bahkan lebih mentereng dalam strata sosial masyarakat kita dibanding julukan yang lain, semisal kalangan terdidik, intelektual, intelegensi, atau cendekiawan.

Di hadapan pakar, semua lapisan masyarakat dari yang tertinggi hingga terendah tak akan bisa apa-apa. Mereka bergantung kepadanya. Para pejabat, menteri, atau presiden sekalipun bahkan tak mungkin menjadi seseorang yang hebat dan berhasil tanpa didampingi para pakar di sisinya. Seorang presiden niscaya memerlukan pakar dibanding para pakar yang membutuhkan seorang presiden.

Saya ingat, dulu sekali, sebuah media ternama di ibukota pernah menulis dalam rubrik Tajuk Rencana mereka mengenai soal pakar ini. Menurut mereka, kalau pakar sudah bicara segalanya telah selesai. Persoalan berakhir! Diskusi sudah tertutup sebab apa yang mau didiskusikan bila pakar sudah mengakhiri segalanya. Dengan kepakaran yang dimiliki seorang pakar ibarat pemilik otoritas yang sah dan tak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Pakar berbeda dengan cendekiawan atau intelektual. Pakar lebih dipahami sebagai orang yang sangat ahli dalam bidangnya, seorang spesialis tulen. Keahliannya bukan semata-mata diperoleh dari jenjang pendidikan yang ditekuni selama ini, melainkan juga dari pengakuan masyarakat atau lembaga keilmuan lain.

Karena itu, seorang pakar memiliki tanggung jawab yang besar dan mulia dalam masyarakat. Ia berfungsi memberikan jawaban atas segala keluh kesah dan keluh resah yang terjadi dalam masyarakat dengan landasan keilmuan yang dipunyai. Bukan seorang pakar andai ia hanya diam membisu, tak memberikan pencerahan atas apa yang dialami masyarakatnya.

Agaknya, bisa dimengerti bila secara kuantitas, jumlah pakar lebih sedikit dibanding cendekiawan atau intelektual. Sebab cendekiawan “hanyalah” segolongan cerdik pandai yang memiliki sikap hidup terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikir untuk dapat memahami sesuatu. Sedangkan, makna intelektual lebih kepada orang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih dengan landasan pengetahuannya.

Maka, tentu siapa saja bisa masuk golongan cendekiawan atau intelektual. Tapi, tidak semua orang bisa masuk klasifikasi seorang pakar. Hanya “orang-orang terpilih” dari para cendekiawan yang bisa masuk segolongan kaum yang bernama pakar. Dalam konteks ini, peran media massa menjadi sangat vital karena dari dialah klasifikasi seseorang pantas disebut pakar atau bukan biasanya muncul.

Jika demikian halnya, sucikah seorang pakar dari segala bentuk rayuan, godaan, dan ancaman yang membuat dirinya bisa mengkhianati tugasnya yang mulia itu? Mestinya, iya. Suci! Seorang pakar harusnya putih bersih. Ia bukan hamba seorang pejabat. Ia tidak menjadi budak uang. Ia jauh dari seorang pemburu kekuasaan.

Cukuplah sudah Julien Benda menyebut petualangan kaum intelektual yang “menghamba” dalam The Betrayal of The Intellectuals sebagai akhir dari kisah pedih kaum cerdik pandai yang tercerahkan. Sehabis itu, semestinya tidak ada lagi. Biarlah para intelektual dan pakar layaknya sumur ilmu, penuh dengan air hikmah dan kabar cita.

Namun, dapatkah harapan ini terwujud mengingat betapa banyak para pakar yang selama ini tak ubahnya pemburu uang, jabatan, atau kekuasaan. Mereka siap untuk menggadaikan kepakarannya selama tiga hal di atas tadi belum direngkuhnya. Alhasil, mereka tampil layaknya selebritis. Mereka berbicara di televisi. Mereka menulis di koran. Mereka turun seolah hendak menyapa rakyat. Namun, mereka tega menyimpan kebenaran jika kebenaran itu telah mengganggu ambisi pribadinya.

Saya kini berpikir, buku Julien Benda itu mestinya memang bersambung. Setelah para intelektual itu mengkhianati “keilmuannya”, Benda seharusnya menuliskan nasibnya kelak. Menjadi orang terhormat atau menjadi hamba sekarat di terali besi. Inilah nasib yang akan dipilih para pakar. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: