BAL’AM, SI PELACUR INTELEKTUAL

tikusAda manfaatnya saya belajar sejarah. Dengan belajar sejarah saya dapat mengetahui berbagai macam peristiwa di kelampauan yang berlangsung di permukaan bumi. Dengan belajar sejarah saya menjadi paham bahwa setiap kejadian di masa lalu niscaya dilakukan oleh manusia secara sadar. Tidak ada peristiwa yang tercatat dalam sejarah manusia dilakukan karena faktor kebetulan.

Dari sejarah saya tahu bahwa bahwa pergerakan manusia di dalam sejarah itu dilakukan oleh motif yang tidak semata tunggal. Ada berbagai macam elemen yang menjadikan manusia berpikir dan meramu, bergerak dan bertarung demi menghasilkan sebuah “karya” sejarah yang agung, mempesona, dan menggetarkan. Ada motif ekonomi di sana. Ada motif kekuasaan di situ. Bahkan tidak terkecuali motif seks.

Ada hikmahnya saya mengambil tugas akhir untuk bergelut secara intens dengan pemikiran Ali Syariati, tokoh aktivis dan intelektual Iran yang berperan amat penting dalam peristiwa Revolusi Islam Iran pada 1979. Sebab dari tokoh yang terbunuh di Inggris setelah ia terbuang dari revolusi yang dibidaninya itu saya mengenal tokoh paling kelabu dalam sejarah intelektual kenabian Islam, yakni Bal’am bin Baurah.

Siapakah itu Bal’am, tokoh yang dikonotasikan sebagai wujud paling lengkap seorang pelacur intelektual?

Saya tidak pernah berpikir bahwa sejarah adalah sebuah peristiwa yang hitam putih. Karena, bagi saya sejarah memang tidak diposisikan untuk menjadi justifikasi sebuah kejadian sebagai hanya bermakna benar dan salah. Pun tidak pernah terlintas dalam bayangan saya bahwa manusia adalah sebuah produk Sang Khalik yang hitam putih. Sebab manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang tengah, “pendamai” sifat malaikat yang suci dan iblis yang kotor.

Tetapi, pada Bal’am saya telah digiring kepada sebuah pemikiran bahwa manusia bisa juga serupa malaikat atau serupa iblis. Manusia tidak harus dan tidak pasti berposisi di tengah. Otonomi manusia untuk memilih berdiri di dekat iblis yang kelam atau bergandengan dengan malaikat yang bersih itulah yang sejatinya membuat manusia dikatakan sebagai makhluk sempurna.

Pada Bal’am kesempurnaan memilih itu dilakukan dengan sengaja memilih untuk tidak menjadi sempurna. Hasrat kekuasaan dan kemasyhuran, godaan perempuan dan kenikmatan, serta rayuan kekayaan dan kehormatan telah menjadikan Bal’am lupa kepada watak hakikinya. Kemuliaan untuk menjadi tokoh panutan, tempat manusia lain bertanya dan berguru telah diabaikannya. Ia memilih gemilangnya kekuasaan.

Bal’am sendiri adalah sosok pribadi berilmu, ilmuwan kondang yang hidup di masa kenabian Musa. Orang zaman itu mengenalnya sebagai tokoh panutan karena kedalaman pengetahuan dan keluasan ilmunya. Semua ingin berdekatan dengan Bal’am demi tertular pengetahuannya. Alhasil, Bal’am merupakan wujud yang tercerahkan dan mencerahkan pada masanya.

Tercerahkan karena pada masa Musa memang tidak ada figur yang secerdas Bal’am dan tidak ada makhluk manusia yang sepintar Bal’am. Tuhan menganugerahkan Bal’am kemudahan untuk memahami hakikat ilmu dan pengetahuan. Otaknya mudah menyerap segala perangkat pengetahuan dan menyimpannya dalam waktu yang ia kehendaki.

Mencerahkan sebab sesuai fitrah orang yang berilmu, ia memiliki tugas dan tanggung jawab yang mulia. Ilmu dan pengetahuan tidak diperuntukkan baginya secara pribadi. Ilmu dan pengetahuan didayagunakan demi kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan sehingga ia mesti disebarkan dan digemakan di hadapan khalayak.

Namun, Bal’am telah memilih. Ia memilih mengkhianati Musa, sang nabi pemilik tongkat ajaib. Perintah Musa agar ia mendatangi Raja Madyan demi menyerukan kebenaran ajaran Musa justru berbalik arah. Ia lebih tertarik kepada “ajaran” Raja Madyan yang penuh dengan kenikmatan perempuan cantik, kekayaan yang melimpah, dan kehormatan yang disembah.

Bal’am lupa akan tugas dan tanggung jawabnya yang mulia. Ilmunya sengaja diabaikan. Bal’am hanya memunculkan ambisi pribadinya yang kukuh. Ilmunya bahkan digunakan sebagai dalih pencerah dalam menghadapi cercaan, ancaman, dan hujatan manusia-manusia lain. Tidak ada kemuliaan abadi di sisi Bal’am selain kekuasaan semata.

Bal’am ibarat seorang pelacur intelektual! Ia rela menggadaikan kemuliaan ilmunya untuk ditukar dengan uang, jabatan, atau perempuan. Tidak ada kebenaran baginya selain ketiga hal tersebut. Selama ketiga hal tersebut belum mampu dicapainya, maka ia akan melakukan segala cara. Ia tidak peduli cercaan dan hujatan, nasihat dan peringatan. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.

Tuhan mengibaratkan Bal’am sebagai anjing, hewan yang suka menjulur-julurkan lidahnya (QS: 7: 175-176). Jika kita menghalau, ia akan menjulurkan lidahnya. Jika kita tidak menghalau, iapun akan menjulurkan lidahnya. Mereka seolah cerdas dan pandai, padahal mereka sebenarnya melukai dirinya sendiri.

Maka orang-orang bijak menasihatkan kita bila berhadapan dengan figur Bal’am seperti ini, “Manakala engkau melihat seseorang dapat berjalan di atas air atau terbang di langit angkasa sana karena keilmuannya, jangan engkau terpedaya. Sekali lagi jangan engkau terpedaya dan terpesona! Lihat saja, bagaimana cara dia bersikap, bertindak, dan bertingkah laku. Adakah dia menyesuaikan diri dengan kebenaran hati nurani?”

Tapi, ngomong-ngomong, adakah sosok Bal’am di sekitar kita kini? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: