PRESIDEN KEBAL SIHIR

karton presidenSaya baru saja menjadi pecundang. Jagoan saya yang bertarung dalam Pilpres 2009 kalah telak. Ia harus bertekuk lutut di bawah pasangan pemenang, Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Sebagai orang yang dilatih untuk tidak bersedih dalam menghadapi setiap kekalahan, saya berusaha tegar. Namun, tetap saja di hati saya ada yang mengganjal.

Saya jengah! Bagaimanapun pasangan yang saya jagokan adalah pasangan terbaik menurut hati nurani dan otak “cerdas” saya. Tapi, nyatanya ia tidak cukup menarik hati bagi orang-orang di sekitar saya, bahkan keluarga saya sendiri! Ayah, ibu, dan kakak serta adik saya tidak seiring dengan saya. Padahal saya sudah menjelaskan kepada mereka hingga berapi-api.

Saya katakan kepada keluarga saya bahwa selama lima tahun masa pemerintahannya, SBY telah gagal. SBY tidak cukup sukses mengelola keamanan di negeri kita. Perdamaian di wilayah konflik, seperti Poso, Aceh, Ambon, dan daerah lain, bukan hasil karya SBY sebagai presiden. Perdamaian di daerah-daerah itu lebih merupakan kreativitas sang wakil presiden yang punya nyali dan berani menanggung risiko.

Ironisnya, saat upaya perdamaian itu sukses, SBY seperti ingin hadiah Nobel ada di tangannya. Entah bagaimana perasaan SBY bila Panitia Nobel akhirnya menghadiahkan penghargaan prestisius itu kepadanya. Pasti ia akan menjelaskan bahwa penghargaan itu semata-mata bukan kehormatan bagi dirinya, melainkan kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya katakan kepada keluarga saya bahwa SBY tidak cukup mampu menangani masalah-masalah ekonomi yang amat pelik di negeri ini. SBY sukses menyenangkan hati rakyat dengan berbagai macam program ekonomi dan pendidikan, seperti BLT, BOS, dan yang lainnya. Namun, semua dana bagi program itu bukan berasal dari uang negara.

Kata Kepala BPK, berbagai macam program yang moncer di hati rakyat itu sebenarnya bersumber dari duit utang negara-negara donor. Bahkan -menurut Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil- utang di masa pemerintahan SBY dinilai terbesar dalam sejarah republik ini. Di masa depan utang itu akan menjadi beban rakyat seluruhnya jika tidak hati-hati dalam mengelolanya.

Saya katakan kepada keluarga saya bahwa SBY adalah presiden yang gagal menyelesaikan masalah sosial yang menimpa rakyatnya. Ia gagal menuntaskan masalah bencana lumpur Sidoarjo di Jawa Timur sehingga ribuan kepala keluarga harus terusir dari tanah kelahirannya. Mereka harus hidup di pengungsian tanpa tahu kapan mereka mampu hidup layak.

Dari kasus lumpur Lapindo itu, SBY telah membuktikan bahwa dirinya tidak berani berhadapan dengan para pemilik modal yang superkaya di negeri ini. Ia memang berani marah-marah, tapi kemarahan itu tetap tidak mampu menjadikan para pemilik modal itu takut, bertekuk lutut, dan akhirnya menyerah.

Saya katakan kepada keluarga saya bahwa SBY adalah figur presiden yang terlalu takut kepada bangsa asing. Lumpur laut dikeruk Singapura, SBY diam. Blok Ambalat dirongrong Malaysia, SBY tak bersuara. Para TKI kita diperas, disiksa, dan diusir dari negara lain, SBY tak mampu menelurkan kebijakan yang “membela”.

Dengan negeri-negeri kecil saja SBY gamang, apalagi berhadapan dengan “penguasa-penguasa” adidaya semacam AS, China, atau Australia. SBY tidak mungkin mampu seperti Soekarno yang berteriak keras demi mempertahankan harkat dan martabat bangsa, “go to hell with your aid”. Lembaga-lembaga asing semacam World Bank, IMF, ADB, dan lain-lain tetap menjadi “tuan” di negeri kita.

Lewat telepon, saya katakan kepada keluarga saya, jangan pilih SBY!

Tetapi, di seberang suaranya lain. Dengan tegas ayah saya berkata, tidak bisa! Justru kamu harus pilih SBY karena SBY adalah presiden paling lengkap di negeri ini! SBY adalah seorang jendral dengan karir militer yang cemerlang. SBY juga seorang doktor pertanian mumpuni yang lulus dari institut ternama di negeri ini. Dan terakhir, ingat ya ini yang terakhir, kata ayah saya. SBY adalah satu-satunya presiden di dunia yang kebal sihir!

Saya tak bersuara lagi. Mulut saya telah dikunci alasan ayah saya yang sangat kuat dan tak mungkin bisa digoyah. Saya tertunduk. Lesu. Saya sadar kini saya telah menjadi seorang pecundang. * * *

One Response

  1. ah masa? keputusan JK kan keputusan SBY jg sebagai atasannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: