CINTA PERTAMA ITU

First Love“Dik, ada salam dari Gadis….”

Suara saya memecah sunyi. Di rumah, malam itu, sesaat setelah saya selesai mandi sepulang dari kantor. Istri saya tak menyahut. Mungkin karena dia tidak mendengar suara saya. Saya tak lagi mengulanginya.

Tapi, uphs! Ternyata istri saya lagi asyik memandang saya. Ia seperti tak berkedip. Matanya menelusuri seluruh tubuh saya, menyelidik. Dari kepala sampai kaki.

“Kok kamu seperti itu….” protes saya.

Istri saya malah tersenyum. Ia mengabaikan ketidaksenangan saya. Ia bahkan terkekeh melihat suaminya yang salah tingkah dan bersemu merah.

“Cieee…baru saling sapa nih….” goda istri saya.

Saya bingung. Sejak sepulang dari kantor saya memang bingung. Sebuah situs jejaring sosial membuat saya bisa bersua dengan siapa saja, bahkan termasuk Gadis. Dan Gadis menyalami istri saya melalui saya. Siapa itu Gadis? Gadis adalah teman saya dan teman istri saya. Dia teman lama kami berdua, sejak di bangku sekolah menengah di kota kelahiran saya.

Bagi saya, Gadis adalah pesona. Matanya indah, hidungnya lancip. Tubuhnya semampai, kakinya jenjang, dan kulitnya hitam manis. Sejak duduk di bangku sekolah saya telah akrab dengannya. Dari keakraban yang rapat itu, saya tahu saya jatuh cinta kepadanya. Cinta pertama!

Saya tahu Gadis merasakan hal yang sama. Maka kami pun sepakat untuk selalu bersama. Tapi, adakah cinta pertama selalu meneguhkan rasa bersama? Ternyata tidak! Semakin dewasa kami, semakin kami menyadari bahwa kami banyak bertolak belakang.

Gadis tipe perempuan yang terbuka, saya pribadi yang sedikit pendiam sehingga berkesan tertutup. Gadis pemberani, saya penakut. Gadis anak yang pandai di kelasnya, saya pelajar yang teramat biasa-biasa saja. Dan…. Gadis anak orang berada, saya anak orang biasa.

Maka bagi teman-teman di sekolah, pertautan kasih kami bak gosip semata. Kami tidak pernah saling mendekat meski kami saling melihat. Kami tidak pernah saling bersatu meski hati kami sudah menyatu. Bahkan dalam hati saya tidak pernah tebersit keinginan untuk berjalan-jalan bersama Gadis layaknya sepasang kekasih. Memiliki Gadis bagi saya seolah anugerah yang tak terbayangkan. Itu sudah cukup!

Ketika kuliah di Yogya saya tidak berusaha menemukan Gadis meski saya tahu ia kuliah di salah satu universitas swasta ternama di sana. Saya lebih asyik mengejar kegiatan keagamaan yang penuh gelora. Saat surat dari Gadis mampir di rumah, saya bergegas menemuinya di Yogya. Saya pastikan kelanjutan hubungannya. Ia tak menjawab, tapi saya tahu ia ingin segera mengakhirinya.

Kini, Gadis telah menjadi milik orang lain dan memiliki tiga putra-putri yang -tentu- manis seperti dirinya. Bahkan kini ia tinggal di kota yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat saya tinggal bersama anak dan istri. Jadi, kenapa istri saya harus menggoda saya ketika saya menyampaikan salam darinya?

“Ah, cinta pertama memang sulit pudar dan pupus….” cetus istri saya sembari menerawang. Wajahnya sedikit masam. Saya tahu kini ia dilanda cemburu yang amat. Ia cemburu kepada Gadis, perempuan yang sebenarnya sudah sangat dikenalnya!

Saya mendatanginya. Saya peluk tubuhnya. Di telinganya, saya bisikkan kata-kata mesra.

“Cinta pertama memang sulit pudar dan pupus. Tapi, cinta pertama mesti menyingkir demi cinta sejati….”

Istri saya terkejut. Ia terpana sejenak. Saya tersenyum, ia pun tersenyum. Saya mengecup ia pada keningnya. Ah, cinta memang ibarat tumbuhan, ia harus senantiasa disiram dan dipupuk, dirawat dan dipelihara agar selalu sehat dan mencerahkan. * * *

6 Responses

  1. Cinta pertama memang harus menyingkir demi cinta sejati. Masalahnya, seberapa besar keinginan untuk menyingkirkannya. Betul gak Mas?

    • Tul banget, maka berbahagialah orang yg mendapatkan cinta sejati pada cinta pertamanya.

  2. saya ga yakin ada orang yg bisa ngilanging cinta pertama, apalagi menyingkirkannya. Begitu ada kesempatan pasti berusaha menjalin hub. kembali, apalagi teknologi sekarang (sms/email/hp) begitu mudah. Setuju gak mas? Semoga Allah melindungi kita …..

  3. Ah, Gadis. Pasti benar2 seorang gadis yg menarik. Baik hatikah dia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: