“HMI SEMANGKA”, BIRU, DAN MITOLOGI WARNA

warnaSaya tertawa ngakak ketika mendengar julukan seorang teman terhadap teman lain yang merupakan mantan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di masa kuliahnya dulu. “Iya, dia memang HMI, tapi HMI Semangka. Di luar hijau, tapi di dalam merah ha…ha…..”

Saya tidak akan berkomentar mengenai kebenaran julukan itu. Sebab saya memang tidak terlalu berkepentingan dengan “merah” atau “hijau”nya seseorang. Bagi saya, mau orang memilih merah atau hijau itu adalah pilihan pribadi sehingga kita tidak berhak menghalang-halangi keyakinannya. Bukankah pada akhirnya sejarah yang akan menentukan pilihannya itu sebagai benar atau salah?

Kemudian, saya juga tidak hendak mendiskusikan segala hal tentang HMI, sebuah organisasi kemahasiswaan Islam tertua di negeri ini. Saya justru ingin mendiskusikan barang sejenak mengenai pemaknaan bahasa kita terhadap warna, seperti merah, putih, biru, hijau, kuning, dan lainnya. Kenapa demikian? Karena saya baru menyadari betapa kompleksnya cara kita memaknai warna dalam kultur politik, sosial, atau budaya kita.

Di masa perjuangan, -konon- para pejuang kita mengenakan ikat kepala berwarna merah putih saat bertempur menghadapi serdadu Belanda atau Jepang. Merah berarti berani, putih bermakna suci. Bagi bangsa Indonesia, merah tak mungkin terpisah dari putih karena keduanya simbol bangsa. Usaha untuk memisahkan merah dan putih hanya akan memunculkan perlawanan dari berbagai elemen dalam masyarakat.

Tapi, apakah merah dan putih selalu menyatu dan memiliki makna yang sama dalam konteks keindonesiaan? Entahlah. Ketika wilayah Ambon (Maluku) dilanda konflik hebat antara massa Kristen dan Islam di tahun 1999, mereka menggunakan ornamen bendera kebangsaan itu dalam pergerakannya. Warna bendera kita, Merah Putih dipecah. Massa Kristen menggunakan ikat kepala merah, sedangkan massa Islam berikat kepala putih.

Saya tidak tahu bagaimana masyarakat yang berkonflik itu memandang merah dan putih dalam kenyataannya. Bagi massa Islam, putih berarti suci atau bersih, simbol keluhuran budi dan ketinggian akhlak. Namun, apakah hal yang sama pula saat massa Kristen memandang putih di pihak lawannya? Saya yakin tidak. Sebab ini juga sama halnya dengan makna merah yang berarti berani dan pantang menyerah di pihak massa Kristen, tapi disikapi sebagai simbol rasa marah, api, atau setan di pihak massa Islam.

Maka pemaknaan warna dalam budaya kita sebenarnya juga ditentukan oleh posisi dan keberadaan kita. Warna dengan demikian menjadi sangat fleksibel, tergantung kepada siapa “pemiliknya”. Entah bagaimana mulanya, umat Islam disimbolkan dengan warna hijau. Beberapa partai politik Islam dan ormas Islam memakai latar hijau pada lambang benderanya.

Tapi, penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul konon– kadung suka pada segala hal yang berwarna hijau. Tidak boleh ada yang menyaingi dirinya. Ia akan “marah” bila mendapati penduduk yang tetap bandel dengan segala macam pakaian berwarna hijau saat mengunjungi dirinya di pantai selatan. Apakah dengan demikian Islam dan Nyi Roro Kidul merupakan satu paket yang sama dan sebangun? Boro-boro! Bagi kebanyakan umat Islam Nyi Roro Kidul justru dinistakan sebagai penyebab munculnya wabah kesyirikan di tengah masyarakat.

Saya kini yakin pemaknaan warna memang sangat subjektif. Saya jadi ingat pesan seorang teman menjelang pemilu 2009 yang lalu. Dalam pesannya ia berkata, ingat ya jangan contreng yang biru. Kenapa memang? Sebab biru itu warna yang menipu. Laut yang biru saat didekati ternyata tidak biru. Langit yang biru ketika disambangi juga tidak biru. Bahkan api yang paling panas ternyata adalah biru.

Tapi, bagaimana para pendukung partai berlambang biru itu memaknai warna benderanya? Entahlah. Saya tidak tahu karena saya bukan pendukung partai berlambang biru. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: