MANUSIA-MANUSIA SERBA TAHU DI TELEVISI KITA

Farah Quinn

Farah Quinn

Saya suka terpaku dengan Farah Quinn, sang Host ala Chef yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta di tanah air. Gayanya khas; centil, renyah, ramai, dan tak lepas dari bumbu kata-kata asing dalam tuturnya. Pesona dan pesannya jelas, berusaha memikat semua orang yang menyaksikan acaranya di televisi dengan keseluruhan penampilannya. Ya figurnya, ya ramuan acaranya, ya keterampilannya.

Farah Quinn menabrak “etika” acara masak di televisi yang dominan dengan warna yang “itu-itu saja”, laki-laki atau ibu-ibu setengah baya. Farah lain dengan Bondan Winarno, Rudy Choiruddin, William Wongso, atau Sisca Soewitomo. Farah “seksi” karena ia memang muda, cantik, enak dilihat, dan memiliki latar belakang studi masak yang sesuai di bidangnya itu.

Saya juga suka dengan Bima Arya Sugiarto, intelektual muda yang ahli politik dari Universitas Paramadina, Jakarta itu. Kata-katanya bernas, mudah dimengerti. Tutur katanya lancar, tak pernah berhenti di tengah jalan. Setiap penjelasan darinya tentang politik di Indonesia selalu saya amini dengan anggukan kepala. Saya tahu, kemampuan dia mengenai partai politik, demokrasi, dan kepemimpinan nasional, di atas rata-rata orang yang seusianya.

Bima Arya Sugiarto menjadi bintang dalam setiap talk show politik di televisi. Tidak ada analis politik lain yang sesibuk dia, tidak juga R. Eep Saefullah Fattah, Boni Hargens, atau Moh. Qodari. Pada pemilu 2009 yang lalu, Bima Arya bahkan mesti menjaga kesehatannya karena sejak pukul enam pagi dia sudah melayani interview hingga baru bisa pulang ke rumah pukul satu dinihari. Tidak kurang dari 19 interview dan 5 tv interview ia layani.

Saya senang dengan Yusuf Mansyur. Pria bertubuh kecil yang -konon- memiliki masa lalu yang kelam itu ibarat magnet baru dalam dakwah Islam di televisi. Suaranya khas, dengan dialek Betawi yang amat kental. Dakwahnya membumi, tidak seperti para pakar Islam dari universitas yang kerap membuat kening para pemirsa televisi di rumah berkerut.

Yusuf Mansyur seolah mengambil momentum yang pas sejak “hilangnya” nama Aa Gym (Abdullah Gymnastiar) dalam blantika dakwah televisi di tanah air. Bila Aa Gym mengkhususkan diri dalam bahasan “Manajemen Qolbu”, maka Yusuf Mansyur mengajak pemirsa untuk menggerakkan niat dan hati dalam bersedekah. Seperti halnya Aa Gym, buku-buku tentang Yusuf Mansyur menyeruak di etalase-etalase toko buku di negeri ini.

Farah Quinn, Bima Arya, dan Yusuf Mansyur adalah bintang dari berbagai macam bintang di televisi kita. Farah Quinn menjerat imaji kelihaian, Bima Arya menyentuh kesadaran rasio, dan Yusuf Mansyur memeluk kedalaman hati orang-orang yang menyaksikan acara mereka. Farah, Bima, dan Yusuf berhasil “menghipnotis” para pemirsa televisi untuk tidak bangkit dari tempat duduk dan menggantinya dengan saluran televisi lain.

Satu kesamaan mereka, mampu memuaskan dahaga para pemirsa televisi di rumah dari kehebatan mereka. Tidak ada rumus susah dan sulit pada diri mereka. Farah, Bima, dan Yusuf senantiasa mampu menjawab setiap permasalahan yang ditanyakan, dibicarakan, dan bahkan dikeluhkan oleh para pemirsa televisi. Mereka seolah memiliki ramuan mujarab yang menjadikan orang-orang yang melihatnya untuk mengangguk setuju atau menyatakan iya.

Namun, benarkah pada kenyataannya mereka pintar, cerdas, dan mumpuni seperti yang kerap kita saksikan dalam televisi? Saya tidak tahu karena saya tidak mengenal secara pribadi mereka-mereka itu. Saya hanya mengenal ketokohan mereka melalui media massa. Dengan media, seperti koran, majalah, radio, dan televisi, saya paham bahwa mereka telah menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi masyarakat yang menontonnya.

Saya tahu Farah, Bima, dan Yusuf adalah orang-orang yang dinilai serba tahu bagi sebagian masyarakat. Satu yang saya rindukan dari orang-orang seperti mereka, yakni kerendahan hati untuk sekali waktu menyatakan “tidak tahu” terhadap apa yang mereka memang tidak ketahui. Kok sederhana? Memang iya. Karena saya tidak sekalipun pernah melihat mereka “tidak tahu” ketika berada di layar kaca. Mereka selalu mampu menjawab problema yang dihadapkan kepada mereka.

Tapi, apakah kerinduan saya itu sesuatu yang mungkin? Entahlah, sebab setahu saya, medium televisi kita tidak mengenal hukum “tidak tahu”. Bagi televisi kita “tidak tahu” merupakan simbol ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, dan kelemahan diri. Maka, semua itu harus dibuang jauh-jauh. Padahal, “tidak tahu” niscaya juga sebuah lambang kerendahan hati untuk saling berbagi kelemahan dan kekuatan. Atau jangan-jangan, kerendahan hati memang bukanlah hukum yang jamak di televisi kita? * * *

4 Responses

  1. hmmm… bener juga nih, tapi sebenernya “saya tidak tahu”🙂

    dalem bro, lanjuut

  2. anda ko sama dng saya yaaaa sedang mngagumi mrk brtiga>…tp sy fikir penokohan ini hanya soal ksem,patan saja….ad banyak orang2 Y pandai mnjual dirinya jg bis adkenal krn dberi kesempatan

    • Bener sekali. Sayang potensi itu kadang tidak terlihat oleh kejelian para pengelola televisi. Andai dilihat pasti pengelola televisi itu bisa berubah. Atau memang krn pengelola itu sudah mendapatkan “manfaat” yg dicari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: