“ANAK LEBAH, BUKAN ANAK LALAT”

Afif, anakku yang kedua

Afif, anakku yang kedua

Hari ini istri saya bisa tersenyum lega, juga tertawa gembira. Ia tersenyum dan tertawa gembira melihat sikap dan tindak tanduk Afif, anak kami nomor dua yang telah “kembali”. Lho kok “kembali”? Begini ceritanya.

Sejak dua minggu yang lalu Afif bertingkah tidak seperti biasanya. Ia seperti bukan Afif yang kami kenal selama ini. Afif tiba-tiba berubah menjadi anak yang begitu menyebalkan. Sikapnya menjengkelkan, tingkahnya memuakkan. Tidak jarang istri saya dibuat terperangah untuk kemudian marah kepadanya.

Saya paham, setiap anak memiliki tubuh, jiwa, dan kepribadian sendiri. Mereka tidak pernah sama, bahkan yang kembar sekalipun. Afif berbeda dengan kakaknya, Irfan. Dalam soal makan, ukuran Afif bisa dua kali lipat dari ukuran kakaknya itu. Maka, meski berbeda dua tahun, tubuh Afif hampir menyamai tubuh Irfan.

Irfan punya watak penurut, ramah, dan suka bergaul. Afif lebih cuek, kadang seenak udelnya sendiri, dan tidak terlalu suka “dinasihati”. Sekali kata-kata nasihat keluar dari saya atau istri saya, maka puluhan bantahan akan keluar dari mulutnya yang mungil.

“Lho, bukannya Adik sudah bisa mencuci piring sendiri? Kenapa piring itu ditaruh saja, nggak dicuci sekalian….” cetus istri saya saat melihat sehabis makan Afif tidak mau mencuci piringnya.

Afif tidak bersuara. Mukanya ditekuk. Masam. Ia tidak mempedulikan suara ibunya. Piring itu tetap tergeletak di tempat cucian, sedangkan dirinya sudah kabur, entah ke mana. Saya akui, saya memang mendidik mereka berdua untuk paham tanggung jawab. Sedari kecil. Maka kalau hak makan sudah dipenuhi, kewajiban membersihkan juga wajib dipatuhi.

“Kok malas belajar sih, Dik. Katanya pingin jadi pilot pesawat tempur. Mosok pilot tak suka baca buku….” kata istri saya di suatu malam ketika melihat Afif hanya sibuk dengan mainan robot-robot kecil yang dipandanginya tanpa henti.

Istri saya mendekatinya. Ia mengajak Afif membuka lembaran buku-buku pelajaran di hadapannya. Afif menyimak. Tapi, hanya sekejap. Setelah itu, kembali ia asyik “berbicara” dengan robot-robotnya itu. Ia tak peduli suara peringatan ibunya yang keras menghujam. Afif tetap Afif. Sekali keasyikan sudah menerpa, maka jangan harap orang mampu membelokannya. Tidak ibunya, tidak pula ayahnya.

“Dik, hormati Mas Irfan. Kalau Adik menghormati Mas Irfan, Mas pasti akan menyayangi Adik ….” nasihat istri saya di hadapan Afif yang terisak-isak.

Sebuah pukulan yang sebenarnya tidak terlalu keras menghujam di badan Afif. Irfan

Irfan, Si Sulung

Irfan, Si Sulung

melontarkannya karena marah melihat adiknya itu merusak buku tulis miliknya. Irfan tak terima. Tapi, kemarahan sang kakak tidak membuat Afif jeri. Ia justru marah kepada kakaknya yang dinilainya pelit. Kikir. Pertengkaran hebatpun terjadi yang berakhir dengan jerit tangis kesakitan Afif.

Kali ini istri saya menyerah. Afif harus “diselesaikan”. Maka beberapa hari kemudian istri saya menumpahkan segala masalah tentang Afif kepada saya. Kata istri saya, ada yang salah pada diri Afif di minggu-minggu ini. Afif sudah berubah menjadi anak yang susah diatur, lalai dari tanggung jawab, dan jauh dari kebersamaan.

“Ah, mosok. Aku lihat dia biasa-biasa saja, ” tanggap saya santai karena saya memang tidak melihat ada perubahan yang menyolok pada diri Afif. Bagi saya, Afif tetaplah Afif , anak kedua saya yang manis. Tidak ada yang ganjil pada dirinya.

“Ih, Mas gimana sih…” bantah istri saya. “Masa sebagai Bapak tidak pernah tahu perkembangan anaknya. Habis makan dia sudah mulai malas mencuci piringnya. Belajar dilalaikan. Kakaknya setiap hari dia bikin marah…”

“Yah, itu biasa. Nanti juga normal lagi.”

“Ini sudah nggak biasa. Saya ingin Sabtu besok kita bawa Afif ke psikolog. Saya penasaran apa sebenarnya yang terjadi padanya. Wong dia nggak biasanya gitu kok sekarang jadi gitu….”

Dugh! Olala! Psikolog? Saya tidak mendengarkan lagi omongan istri saya. Saya balik badan. Saya tidak rela anak saya dikorek-korek segala hal tentang diri dan keluarganya, padahal dia tidak mengalami masalah yang pelik dengan dirinya. Bagi saya, Afif adalah normal, senormal kebanyakan anak-anak seusianya.

Saya sengaja melupakan kehendak istri saya ke psikolog sampai akhirnya, di suatu malam, istri saya berbisik lirih di telinga saya.

“Mas, Afif sudah kembali seperti semula…”

Wajahnya berbinar. Bibirnya merekah. Saya tahu istri saya gembira. Namun, bagaimana saya mesti menanggapi kegembiraan istri saya jika faktanya Afif memang sama sekali tidak berubah. Maka saya hanya menanggapinya dengan diam.

Di pelupuk hati yang terdalam, saya yakin, Afif bukan seekor lalat. Afif lahir bukan dari sesuatu yang kotor, dibesarkan oleh lingkungan yang kotor sehingga berhak untuk menghasilkan sesuatu yang kotor. Afif jauh dari itu semua.

Afif adalah seekor lebah. Ia lahir dari sesuatu yang bersih, berdiam dalam lingkungan yang bersih sehingga mesti menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Inilah yang saya cita-citakan sejak dulu, sejak mengawali bahtera pernikahan saya dengan istri saya. Dengan bercita-cita menjadi keluarga lebah, saya berharap keluarga kami jauh dari segala hal yang “kotor”. Semoga.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: