BERTIKAI GARA-GARA BUKU

KingRudy Hartono, si pahlawan bulutangkis negeri kita asalsintong 2 Surabaya jengkel berat. Ini semua gara-gara buku Panggil Aku King (Gramedia, 2009) yang membuka rahasia kemenangannya atas Liem Swie King dalam final All England tahun 1976. Kata King, ia dipaksa kalah dalam final itu demi rekor Rudy, juara delapan kali All England.

Menjelang Pemilu 2009, Prabowo bertengkar hebat dengan Sintong Panjaitan gara-gara buku Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (Kompas, 2009). Dalam buku itu, Sintong menceritakan sosok Prabowo Subianto, baik sebagai perwira muda maupun saat menduduki jabatan tinggi. Saat sebagai perwira muda, Prabowo hendak melakukan counter-coup terhadap Panglima ABRI Jendral LB. Moerdani yang disebut akan mengkudeta Presiden Soeharto. Ketika sebagai Pangkostrad Prabowo disebut Sintong hendak mengkudeta Presiden BJ. Habibie.

Saya suka sekali membaca buku-buku biografi, memoar, otobiografi, dan sejenisnya. Buku-buku seperti itu memberikan inspirasi kepada saya untuk sedikit merenung dan memikirkan sejarah perjalanan kehidupan manusia yang bak karang terjal. Kadang naik, kadang turun, kadang menukik, bahkan kadang tergelincir. Begitu senangnya saya dengan jenis buku tersebut sampai saya terbiasa menceritakan isi buku seperti itu kepada anak-anak saya.

Namun, begitulah adanya. Biografi, memoar, ataupun otobiografi yang menarik memang selalu kontroversial. Haruskah kontroversial? Iya! Sebab, bila tidak kontroversial, maka buku sejenis itu susah untuk dilirik para penggila buku. Bila tidak kontroversial, buku sejenis itu hanya akan menjadi iklan pajangan yang tidak lebih dari sekadar perjalanan sejarah kemanusiaan seseorang.

Di negara-negara barat, terbitnya buku biografi, memoar, atau otobiografi sangat ditunggu masyarakat. Lebih-lebih jika tokoh yang tertulis didalamnya memiliki sejumlah kontroversi. Masyarakat bahkan sering dibuat penasaran oleh “kerja sama” sang tokoh dengan pihak penerbit karena meski buku itu sudah selesai dikerjakan, tetapi tetap belum bisa diluncurkan. Mereka sengaja menunggu momentum yang tepat untuk meluncurkannya sehingga buku itu mampu “berbicara” di pasar.

Ada dua hal yang membuat masyarakat menunggu buku berjenis seperti itu terbit. Pertama, sifat ketokohan dan kedua, personalitas. Soal yang pertama mengantar kita pada pertanyaan, seberapa terkenal dia dan seberapa jauh masyarakat tahu tentang dirinya. Soal yang kedua mengarah pada, apa yang menarik dari dirinya dan apa yang menjadikan masyarakat ingin tahu mengenai hidupnya. Maka tidak usah heran bila biografi, memoar, atau otobiografi bisa menyentuh siapa saja; dari mulai presiden, politisi, pengusaha, artis, sampai olahragawan terkenal.

Dalam perspektif yang lain, keragaman sisi manusiawi sang tokoh membuat biografi, memoar, atau otobiografi berfungsi membangun simpati, empati, dan aspirasi luhur di tengah masyarakat. Jungkir baliknya sang tokoh berhadapan dengan beragam persoalan, termasuk masalah pribadi, menjadi drama yang tak bisa dilewatkan begitu saja karena berkesan unik.

Secara psikologis, masyarakat sangat menyukai kisah-kisah perjuangan tokoh dalam mengatasi hambatan kultural, sosial, ekonomi, atau politik yang menjeratnya. Sisi humanis di balik kebesaran tokoh memperoleh perhatian pula, seperti sikap dan penghargaan kepada kawan dan lawan, penghormatan terhadap orang tua, serta perhatian kepada lingkungan sekitar. Keuniversalan sifat manusia inilah yang sebenarnya menjadi pesan tunggal biografi, memoar, atau otobiografi sehingga ia mampu mendekatkan sang tokoh kepada masyarakat pembaca buku.

Tokoh tidak dipandang sebagai “makhluk langit”, tetapi manusia yang secara niscaya jauh dari kesempurnaan. Dia jujur, tapi sesekali mungkin dia berbohong. Dia berani tapi kadang bisa saja ragu-ragu. Dia nekad, tapi sesekali dia terukur. Karena itu, pesan dalam biografi, memoar, atau otobiografi tidak semestinya mutlak dipaksa untuk tampil. Pesan akan mengalir dengan sendirinya seiring dengan konteks historical mindedness yang dimiliki penulis saat ia merangkai kalimat demi kalimat dalam menuangkan gagasan.

Maka yang unik dari biografi, memoar, atau otobiografi adalah segala kisah yang masih tertutupi awan misteri sampai akhirnya si tokoh mau bicara dalam buku. Andaikata hal ini bisa ditulis, maka biografi, memoar, atau otobiografi akan sangat berharga bagi proses pembelajaran kemanusiaan sebuah bangsa.

Jika dikatakan bahwa penulisan biografi, memoar, atau otobiografi hanya sekadar untuk mengingatkan pembaca tentang kegemilangan seseorang, maka niscaya hal seperti itu masih kurang lengkap. Biografi, memoar, atau otobiografi ditunggu karena memang ada “ketidaksempurnaan” dalam diri tokoh plus kontroversi di dalamnya. Dalam konteks inilah buku Liem Swie King dan Sintong Panjaitan nisacaya berhasil. * * *

2 Responses

  1. commend 200 luar biasa dahsyat artikel anda sangat bermanfaat bagi saya. dan jangan lupa berkunjung ke situs saya.

  2. Trima kasih atas komentarnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: