MITOS-MITOS DI SEPUTAR KEMERDEKAAN

benindonBenarkah kolonialisme Belanda bercokol di tanah air selama 3,5 abad? Kalau Anda bertanya kepada anak-anak kita yang duduk di bangku SD-SMU, maka mereka akan menjawab singkat. Iya! Bangsa Indonesia dijajah Belanda selama 3,5 abad karena begitulah kenyataan sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Saya selalu meyakini bahwa mitos bertentangan dengan realitas. Karenanya, orang yang hidup dalam mitos tak akan mampu menangani realitas. Mitos sengaja dihadirkan untuk melebih-lebihkan atau mengeramatkan sebuah peristiwa yang sesungguhnya jauh dari realitas.

Kemerdekaan bangsa Indonesia bukanlah mitos. Kemerdekaan adalah fakta, kenyataan yang diperjuangkan seluruh komponen bangsa. Namun, tidak sedikit dari kita yang sengaja melingkupi kemerdekaan itu dengan mitos. Maka mitos di seputar kemerdekaan begitu banyak menghinggapi benak orang hingga orang seringkali gagal memahami, mana yang mitos dan mana yang realitas.

Mitos penjajahan 3,5 abad sudah baku dihujamkan ke jantung bangsa kita. Entah oleh siapa dan untuk tujuan apa. Memang benar bahwa selama 3,5 abad pengaruh Belanda merembes dalam kehidupan masyarakat sejak kedatangan Cornellis De Houtman tahun 1596 di Banten. Tetapi, itu hanya terjadi di Jawa dan awalnyapun hanya pada elemen ekonomi. Di pulau-pulau lain, pengaruh Belanda tak tampak sama sekali, untuk kemudian baru mulai terlihat di waktu-waktu berikutnya.

Maka ini pula yang menjadi faktor mitos Jawa sebagai yang “terhebat” alias pulau yang diimpikan. Jawa didatangi dan dikunjungi, dirindui dan dibenci oleh pulau-pulau lain yang tidak seberuntung pulau Jawa. Pesona Jawa terus menghantui hampir oleh seluruh bangsa-bangsa di Nusantara sejak di masa lalu hingga kini.

Faktanya, Jawa memang unik dibanding pulau-pulau lain di negeri kita. Sejarawan Harry J. Benda menuturkan bahwa sejak abad ke-4 Jawa telah menjadi pusat kebudayaan yang terkena pengaruh India. Selama beratus-ratus tahun Jawa kemudian menjadi pusat mesin pemerintahan birokratis Belanda yang dijalankan secara modern. Selama Jepang bertahta (1942-1945), Jawa tetap tak berubah, bahkan hingga era kemerdekaan kini.

Sebagai perbandingan, daerah-daerah luar Jawa yang sangat kurangmerdeka mengalami pengaruh India, setelah abad ke-10 dan pada zaman modern, tak dijamah pengaruh asing secara mendalam hingga pertengahan abad ke-19. Bahkan meski zaman kemerdekaan berlaku, konsep “pembangunan Indonesia Timur” menjadi bukti otentik betapa tertinggalnya pulau-pulau di luar Jawa hingga harus ada seorang menteri yang mengurus hal itu.

Maka nasionalisme Jawa dan luar Jawa adalah mitos ketika disematkan kepada seluruh perjuangan bangsa melawan kolonialisme Belanda di masa lalu. Nasionalisme tidak pernah menjadi daya dorong bagi tokoh-tokoh besar, semacam Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, atau Tuanku Imam Bonjol, untuk membebaskan diri dan bangsanya.

Berpikir keras untuk tetap menjadikan nasionalisme sebagai elemen penting bagi perlawanan di masa lalu tidak semata adalah mitos, tetapi juga bisa-bisa kita terpeleset ke dalam anakronisme, yakni keliru dalam menempatkan persoalan pada konteks waktunya. Sebab nasionalisme adalah paham yang baru berkembang pada awal abad ke-20 seiring dengan perlawanan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika melawan kolonialisme Barat.

Namun, mungkinkah keberhasilan perlawanan-perlawanan di Nusantara terhadap kolonialisme Belanda-Jepang karena faktor bambu runcing dan umbul-umbul merah putih yang diikatkan di tengahnya? Begitulah mitos yang kerap terdengar di telinga kita. Bambu yang diruncingkan dan umbul merah putih itu seolah menjadi senjata pamungkas bagi seluruh komponen bangsa ketika memerdekakan dirinya.

Saya tidak banyak tahu mengenai bambu runcing dan umbul merah putih serta perannya dalam sejarah nasional bangsa Indonesia. Dalam foto-foto sejarah yang pernah saya lihat, bambu runcing “hanya” menjadi medium latihan bersenjata dan baris-berbaris bagi pemuda Indonesia yang sedang digojlog bangsa Jepang. Tidak lebih dan tidak kurang (atau mungkin saya salah?).

Maka, bagi saya, masa 3,5 abad, Jawa yang hebat, nasionalisme, dan bambu runcing dapat tetap menjadi mitos jika kita tidak mampu menatap realitas. Adakah bangsa yang maju dengan bertakhtakan mitos dan menyingkirkan realitas? Ah, nonsens! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: