ANTARA SURIPISME DAN SIRUPISME

Ketika Puthut EA dalam status jejaring sosialnya menjelaskan bahwambah_surip_ dirinya sedang menggali dan memahami suripisme, saya terkekeh. Suripisme? Saya tidak berpretensi menertawakan ulah Puthut, sang cerpenis itu yang nganeh-nganehi, apalagi merendahkan Mbah Surip, sang legenda baru yang “dicatut” namanya menjadi sebuah isme baru. Jauh, jauh dari itu semua!

Saya hanya berpikir betapa ruh Mbah Surip terus berkelana untuk menyebarkan jejak-jejak pengalaman yang sarat dengan nilai kebersahajaan, kegembiraan, dan keliatan dalam menghadapi hidup sampai-sampai orang memberi hormat kepadanya begitu tinggi. Suripisme sejajar dengan ideologi lain semacam marxisme, komunisme, atau liberalisme? Mungkin terlalu berlebihan.

Maka saya segera membalas status Puthut itu dengan kata-kata demikian, “sedih… suripisme mesti menyingkir demi sirupisme.” Saya sengaja menulis balasan seperti itu karena dalam pikiran sekejap saya itu, saya hanya ingin memposisikan sekadar memberi sahutan atas umpan atau celotehan yang disajikan Puthut. Namun, suripisme dan sirupisme, apa itu sebenarnya?

Saya paham, Mbah Surip adalah fenomena dalam dunia industri hiburan di tanah air. Ia mampu menerobos masuk ke dalam lingkaran industri musik pop yang biasanya mensyaratkan dua hal. Pertama, muda sehingga niscaya para pelaku industri itu biasanya ganteng atau cantik. Kedua, wajib larut dalam kecenderungan pasar yang sedang menjadi mainstream.

Siapa yang patuh dan setia kepada dua hal tersebut, maka industri hiburan niscaya mau menerimanya. Namun, Mbah Surip membalikkan itu semua. Ia tidak mau terpedaya dan diperdaya oleh industri hiburan yang sejatinya memang kejam. Baginya, industri hiburan mesti tunduk dan patuh pada “hukum” yang dimainkannya. Ia tidak peduli bahwa hukum itu akan meruntuhkannya.

Pop culture art showMuda? Jelas Mbah Surip sudah tidak muda lagi. Usianya saja sudah di ujung senja, yakni sekitar limapuluhan tahun. Ganteng? Bukan bermaksud merendahkan, tapi hanya orang tidak waras yang akan menyebut Mbah Surip itu ganteng. Larut dalam mainstream? Wow, jauh dari itu. Musik yang dimainkan Mbah Surip jauh dari musik ke-Melayu-Melayu-an yang sedang ngetrend saat ini seperti ditunjukkan grup-grup band, Radja, ST12, Wali, Hijau Daun, dan lain-lain.

Saya yakin kalaupun ditanya, Mbah Surip tidak akan mampu menjawab pertanyaan kunci sukses di dunia tarik suara pada ujung senjanya. Persoalan takdir? Mungkin iya. Namun, jika jawaban ini ditampilkan menjadi kunci tunggal dalam membedah persoalan kesuksesan Mbah Surip, maka niscaya kita sedang menafikan buah kerja keras dan ikhtiar tak kenal menyerah dari Mbah Surip selama bertahun-tahun, sejak ia hijrah ke Jakarta tahun 1985.

Kesuksesan memang tidak memiliki hukum yang tunggal dan tersendiri. Kesuksesan bahkan seringkali bergerak liar dan kadang tidak terduga. Maka orang kerap salah kira dan salah tangkap terhadap hukum kesuksesan. Mereka menyangka bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan segala perangkat baku yang sudah terpola dan tersistem. Faktanya, kesuksesan lebih rumit dari itu semua.

Mbah Surip jelas out of context. Dan ia mampu menahan segala gempuran industri pop terhadap identitas dirinya. Mbah Surip berhasil karena industri pop ternyata gagal mengubah citranya untuk sekadar menjadi pekerja hiburan yang “semestinya” sombong, jaim alias jaga image, tak kenal lagi teman, serta hidup dan penampilan yang berubah. Mbah Surip jauh dari itu. Ia tetap bersahaja, bergembira, dan tampil apa adanya di tengah ketenaran yang merengkuhnya.

Namun, pada titik lain, Mbah Surip sesungguhnya gagal menahan laju gerak tangan industri pop dengan segala ritme hidup dan kinerjanya yang tidak peduli dengan segala kelelahan dan kebosanan, kejemuan dan ketidakberdayaan. Mbah Surip tak mampu lagi mengatur dirinya, dan bahkan tak mampu memahami dirinya. Ia larut. Maka Mbah Surip terbujur kaku di tengah tarikan identitas dirinya yang tidak berubah dan gempuran hukum industri hiburan yang tidak pandang bulu. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: