KALA “ORANG BESAR” PERGI

Alexander_the_greatSetiap “orang besar” pergi, saya selalu teringat Noam Chomsky. Sebab dari Profesor Linguistik, Massachussetts Institute of Technology (MIT) di AS itu saya mendapatkan kisah unik tentang perbedaan antara “orang besar” dan orang kecil .

Dalam buku klasiknya Pirates and Emperors: International Terorism in The World yang terbit tahun 1986, Chomsky mengisahkan secara satir dialog yang menggugah antara Alexander The Great dan perompak kecil yang berhasil ditangkapnya.

Tanya Alexander, “Kenapa kamu berani mengacau lautan?!” Sang perompak terdiam sebentar. Tapi, tanpa diduga, ia lalu menjawab tegas. “Kenapa Tuan berani mengacau dunia? Karena aku melakukannya dengan perahu kecil, aku disebut perompak. Tapi, karena Tuan melakukannya dengan kapal-kapal besar dan hebat, Tuan disebut Kaisar.”

Konon jawaban itu membuat Alexander terperangah. Namun, jawaban itu tak kuasa menghentikan langkah Alexander untuk terus melakukan petualangan dan aksinya ke seluruh penjuru dunia. Bagi Alexander, dunia beserta seluruh isinya adalah miliknya. Sejarah kemudian mencatat Alexander The Great dengan tinta emas dibanding sang perompak yang sama sekali tidak terbaca dalam lintasan sejarah.

Saya kadangkala berpikir kenapa banyak sekali orang yang disebut sebagai “orang besar” selalu bersentuhan dengan kekuasaan? Apakah kekuasaan memang merupakan sebuah jalan pintas untuk dikenang sebagai “orang besar”? Tidak adakah jalan lain yang lebih “substansial” dan mendasar untuk dikenang seluruh jagat sebagai “orang besar” selain jalan kekuasaan?

Karena menyentuh kekuasaan, di benak saya tergambar alasan bahwa kekuasaan menjadi ukuran besar dan kecilnya nama seseorang. Semakin seseorang berani melawan atau malah mendekat terhadap kekuasaan, semakin besarlah namanya. Sebaliknya, semakin seseorang takut atau menjauh dari kekuasaan, semakin kecillah ia.

Kekuasaan menjadi pijakan bagi setiap orang untuk menjadi “orang besar”. Tanyakan kepada para mahasiswa betapa mereka sangat paham apa makna bersentuhan dengan kekuasaan itu. Mereka bahkan mengibaratkan persentuhan itu sebagai petualangan yang amat berkelas. Tanpa melawan kekuasaan, para intelektual muda kita itu bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Maka dipukul dan dikejar, diburu dan dipenjara adalah sebuah berkah.adili-soeharto

Di kampus para mahasiswa menjadikan perlawanan terhadap kekuasaan sebagai jargon sehingga muncul idiom; “buku, cinta, dan kuasa”. Buku karena tanggung jawab seorang intelektual adalah mencari dan membedah pengetahuan demi pertumbuhan intelektual dirinya dan pertumbuhan masyarakat. Cinta karena di kampus itulah para mahasiswa menatah perasaan estetika dirinya untuk mengenal dan memahami perasaan cinta lawan jenisnya. Kuasa sebab hanya dengan melawan penguasa seorang mahasiswa akan mendapat simpati dan empati dari semua lapisan masyarakat.

Saya tahu, melawan kekuasaan memang penuh sensasi yang menggetarkan, juga mendebarkan. Tak hanya itu, melawan kekuasaan juga memberikan dampak yang luar biasa bagi dirinya. Ia akan dikenang sebagai aktivis, figur yang pemberani, dan bahkan pahlawan. Agaknya, tak ada yang tidak mau untuk tidak melawan kekuasaan sebab mereka sangat “tahu” manfaatnya. Mulanya mereka menjadi musuh bagi kekuasaan, tapi di kemudian hari mereka akan memetik manfaat dari permusuhan itu.

Betapa banyak tokoh-tokoh di lingkaran kekuasaan, baik di masa lalu maupun di masa kini yang pada awalnya adalah seorang aktivis ataupun intelektual terdidik yang bertarung dengan gagah berani melawan kekuasaan. Tidak sekadar melawan, mereka juga amat memusuhi kekuasaan. Ibaratnya, bagi mereka, kekuasaan adalah iblis yang mesti dihancurkan dan dilenyapkan.

Namun, apa yang terjadi sesudahnya?

Sesudah mereka dikenal, bahkan sesudah mereka terkenal dan dijuluki “orang besar” karena menjadi korban kekuasaan, mereka mencoba mendekati kekuasaan. Dalihnya seragam. Janjinya tidak beda! Dengan kekuasaan mereka berjanji akan memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Dengan kekuasaan mereka bahkan rela mengorbankan dirinya demi keadilan rakyat.

Maka bagi sejarawan Kuntowijoyo, sejarah keberanian “orang besar” memang ada dua. Pertama, sejarah keberanian yang ditulis manusia dan kedua, sejarah keberanian yang ditulis malaikat. Yang pertama didasarkan atas data-data empiris, seperti catatan harian, notula, catatan intel atau pengadilan. Sedangkan, yang kedua, didasarkan atas data-data batin, seperti niat, pikiran, dan perasaan.

Sejarah keberanian versi malaikat memang “sunyi”. Ia bahkan kerapkali tidak terdeteksi oleh mata pengetahuan dan ilmu manusia. Ia jauh dari publisitas karena sang pelaku hanya bermodal kecintaan dan ikhlas. Hal ini berbeda dengan sejarah keberanian versi manusia yang gemebyar dan selalu terdeteksi pengetahuan manusia. Ia haus akan publisitas karena sang pelaku memang ingin dikenal dan dikenang.

Pertanyaannya, mana yang akan kita pilih? Semuanya terserah Anda! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: