MARI, JEJALI ANAK-ANAK KITA DENGAN KURSUS!

speakorgetoutSaya tidak anti kursus! Sebab bila saya anti kursus, saya berarti menafikan niat baik seseorang yang ingin menyumbangkan ilmu dan pengetahuannya dalam kelembagaan non formal. Lagi pula, lembaga semacam kursus tidak sedikit manfaatnya.

Saya percaya sistem pendidikan sekolah di Indonesia. Saya tidak peduli berbagai macam tanggapan dari para pakar yang tahu ataupun sok tahu tentang mutu sekolah di tanah air. Karena itu, sejak awal saya tidak punya niat memasukkan anak saya ke berbagai kursus, seperti kursus matematika, sains, atau bahasa Inggris yang bertebaran di jalanan dan perumahan-perumahan.

Ketika anak saya yang pertama masuk sekolah dasar, istri saya sudah mewanti-wanti agar ia dimasukkan kursus bahasa Inggris. Alasannya, bahasa Inggris adalah bahasa global, bahasa yang digunakan oleh hampir semua bangsa-bangsa di dunia dalam beragam bidang; bisnis, pendidikan, ilmu, olahraga, dan banyak lagi. Dalihnya, pengenalan sejak dini.

Dengan pengenalan bahasa Inggris sejak dini anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang “hebat”. Anak-anak kita akan terhindar dari stigma sebagai anak-anak yang culun, kuper, dan nggak gaul. Bahasa Inggris membuat anak-anak kita menjadi anak-anak yang kompetitif dan siap menantang peradaban. Bukankah bahasa Inggris yang menjadikan anak-anak di negeri tetangga, seperti Malaysia atau Singapura, maju pesat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia?

Saya tidak peduli dengan peringatan istri saya. Bagi saya, jika alasannya hanya sekadar pengenalan dini terhadap bahasa Inggris, cukuplah sekolah. Kurikulum di sekolah, saya pikir mampu memberikan materi pelajaran bahasa Inggris yang mumpuni. Kalaupun mau lebih, biarlah anak saya mengenal bahasa Inggris dari bapak ibunya sendiri yang teramat sedikit menguasai bahasa Inggris (apalagi bahasa Inggrisnya dialek Banyumasan yang aneh dan nyleneh).

Bukan tanpa alasan saya menolak anjuran istri. Padatnya jadwal pelajaran di sekolah dan kegiatan di luar rumah membuat saya tidak tega memasukkan anak pertama saya itu ke lembaga kursus manapun. Dengan ikut kursus, jangan-jangan bukan pengetahuan dan keterampilan anak-anak kita yang bertambah, melainkan kelelahan dan kejemuan yang justru mendera hebat. Ujung-ujungnya, ia malah berpendapat bahwa semua kegiatan itu telah menjadi beban berat baginya.

Bayangkan saja! Sejak selesai waktu subuh anak saya sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Sekitar pukul enam pagi mobil jemputan sekolah datang. Pukul dua siang, ia baru tiba di rumah dari sekolah. Menjelang waktu asar, ia mesti bersiap-siap berangkat ke masjid untuk mendalami pengetahuan agama di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) sekaligus sholat berjamaah. Sesudah maghrib ia kadang baru tiba di rumah. Begitu kesehariannya.

Saya berprinsip, anak saya bukanlah robot. Ia manusia yang memiliki dayaparent01 tahan tubuh dan mental yang sungguh terbatas. Ia bisa sakit dan lemas, ia dapat marah dan kecewa. Otak dan perasaannya tidak selalu seirama. Ia kadang didera kebosanan yang sangat, meski ia paham kebosanan itu akan membuat dirinya rugi dan celaka. Kalaupun saya memaksakan diri, apa bedanya saya dengan orang tua para artis cilik yang dituding mengeksploitasi anak-anaknya demi segepok uang dengan dalih pengenalan bakat terpendam?

Namun, pendapat saya ini tampaknya mulai berubah. Sejak memasuki kelas 5 SD anak saya mulai menyuarakan keinginannya. “Yah, kok Mas nggak pernah ikut kursus seperti teman-teman lain sih?”

“Kamu ingin ikut kursus?” tanya saya. Anak saya mengangguk.

“Kenapa kamu ingin ikut?” tanya saya lagi.

Anak saya terdiam, tak mampu menjawab. Saya tahu gelagatnya. Nasihat para guru di sekolah dan dorongan teman-teman sebaya membuatnya ingin ikut kursus. Dengan ikut kursus, para guru tentu diuntungkan dari kemampuan anak didik yang terus bertambah. Teman sebaya menjadikan anak saya merasa “sejajar” dan tidak ketinggalan dari mereka.

“Besok Mas boleh ikut kursus….” kata saya tegas.

Anak saya tersenyum senang. Maka keesokan harinya anak saya itu mulai bergelut dengan bahasa Inggris, matematika, dan sains. Saya berharap anak saya itu terus bergembira dengan kursus-kursus yang diikutinya. Tidak hanya bergembira, tapi ia juga mampu melakukan transfer of knowledge dari keikutsertaannya itu. Transfer of value? Ah, bukan lembaga semacam kursus tempatnya.

Saya percaya, pendidikan tidak sekadar pendalaman aspek kognitif yang diperoleh dari lembaga non formal semacam kursus. Pendidikan juga adalah pendalaman aspek afektif dan psikomotor, seperti disuarakan Bloom. Dua elemen inilah yang sering dilupakan sehingga orang merasa “nyaman” dan “aman” kalau anak-anak mereka sudah dikutsertakan dalam lembaga kursus. Padahal seharusnya TIDAK! * * *

4 Responses

  1. jangan terlalu banyak dijejali lah mas..ntar anaknya mabok..sesuai kebutuhan dan minatnya aja

    • Oh, nggak, Mbak. Sy justru ingin mengingatkan siapa saja bahwa kursus bkn segalanya. Kursus bkn tempat menyelesaikan persoalan transfer of value. Sekolah dan keluarga yg utama. Makanya, suara hati kursus mestinya muncul dr anak plus pemahaman yg menyeluruh dr orang tua.

  2. Dilema orang tua, di satu sisi ingin ‘menyelamatkan’ anak dari ketinggalan agar dia lebih survive di masa depan tapi di sisi lain hati menangis saat ia tertidur karena kelelahan. Tapi pada intinya, kita sebagai orang tua harus ngeh kalau anak sudah mulai bosan dgn rutinitas, segera kasih break sampai ia siap kembali🙂

  3. Sepakat, De. Orang tua semestinya paham pada kondisi bagaimana seorang anak berkeinginan untuk ikut kursus dan pada kondisi mana mesti menghentikannya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: