MASIHKAH KITA MENCINTAI SIARAN TELEVISI KITA SENDIRI?

Ketika seorang teman mengajak untuk mendukung dan aktif terlibat dalambadreligionhead komunitas anti sinetron Indonesia, secara halus saya berusaha menolaknya. Bukan karena saya pencinta sinetron Indonesia atau bukan karena saya penikmat sinetron Indonesia. Bukan, bukan karena itu. Boro-boro, tahu sinetron aja kagak, apalagi menontonnya!

Saya hanya berpikir sederhana, biarlah era sinetron yang -kata banyak orang- tidak jelas juntrungannya itu memasuki “masa emasnya”. Sebab apa yang mampu dilakukan insan pertelevisian di negeri kita memang masih sebatas itu. Sebagai bagian dari proses kreatif, pasti -entah kapan- sinetron akan menuai masa kegemilangannya dengan tema-tema yang beragam, cerdas, dan mencerahkan.

Jangan dimusuhi! Itu pendapat saya tentang sinetron Indonesia. Kalau tidak suka, jangan menontonnya. Tinggalkan saja! Kalau masyarakat sudah bosan dengan sinetron yang “itu-itu” saja, nantinya para pekerja seni di televisi kita juga akan berhenti dengan sendirinya. Tanpa perlu dimusuhi, mereka akan berhenti karena hukum bisnis memang menyatakan seperti itu. Tanpa ada pasar tidak mungkin ada produk. Karena ada pasar maka muncul produk.

Saya malah bermimpi, daripada anti sinetron, kenapa tidak sekalian saja membuat komunitas anti televisi di negeri tercinta ini. Biar sekalian! Mengapa saya berpendapat demikian? Ya, karena sinetron itu ditayangkan di medium komunikasi yang bernama televisi. Kalaulah “kotak ajaib” itu ditolak, mana mungkin sinetron itu ditayangkan. Sebab sinetron memang hanya bisa muncul dari layar kaca televisi.

Kita anti sinetron karena dalam benak kita sinetron dan televisi ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tak bisa dipisahkan. Memisahkan televisi dan sinetron hanya akan mematikan keduanya. Bayangkan televisi tanpa sinetron dan bayangkan sinetron tanpa televisi. Keduanya hanya akan menjadi makhluk penyendiri yang tanpa dilirik pihak lain. Sebuah stasiun televisi yang bercitra televisi jurnalistik saja, pada akhirnya harus “melirik” film dan musik untuk menghidupkannya.

Televisi di Indonesia adalah televisi sinetron. Karena sinetron-sinetron itubulsit yang mampu menghidupkan setiap stasiun televisi lewat belanja iklan yang tidak kecil. Semua pihak mengakuinya. Maka publik pemirsa “dipaksa” untuk menonton sinetron itu sepanjang hari, mulai pagi hingga dini hari.

Bagi yang tidak suka dan bahkan sudah muak, publik dijamin masih bisa menyaksikan beragam acara lain, seperti berita (news), reality show, talk show, infotainment, dan masih banyak lagi. Semua acara itu seolah mengiringi perjalanan sinetron. Apalagi waktu yang berkonotasi prime time, sinetron menjadi sesuatu yang wajib.

Namun, apakah semua acara itu “sehat dan mencerahkan” bagi publik?

Mungkin terlalu naif bila kita berdebat tentang persoalan “sehat dan mencerahkan” pada siaran televisi kita. Televisi adalah industri yang bergerak di bidang media massa. Karena industri, maka ia tidak mengenal terminologi “sehat dan mencerahkan”. Terminologi yang dikenal hanyalah untung atau rugi. Untung berarti terus berkibar, rugi bermakna turun bendera.

Saya punya beberapa teman yang bekerja sebagai pekerja di bidang pertelevisian. Jangankan dibebani persoalan “sehat dan mencerahkan” pada siarannya, untuk sekadar melalui proses kreatif saja mereka masih harus bertarung dengan waktu yang seolah terus mengejarnya. Karena itu, jangan ditanya persoalan “tepat mutu” karena mereka masih belajar untuk selalu “tetap waktu”.

Maka dari televisi saya lebih suka menyaksikan news atau berita dibanding acara-acara lain. Selain lebih cepat, berita di televisi juga menampilkan gambar-gambar yang akurat dan selalu up to date dibanding media massa lain, seperti koran, majalah, atau tabloid. Tinggal pencet televisi, maka berita-berita itu akan muncul di hadapan kita tanpa perlu susah payah kita membeli seperti halnya koran atau majalah.

Namun, “sinetron 17 jam” yang disiarkan beberapa saluran televisi di negeri kita berkaitan dengan penangkapan gembong teroris Nordin M. Top -yang ternyata keliru- membuat saya kembali mempertanyakan kualitas siaran televisi kita, termasuk jurnalisme televisi. Kalau jurnalisme televisi sudah tidak lagi dipercaya publik, dari mana lagi publik dapat menyaksikan acara-acara siaran televisi yang “menarik” ? * * *

3 Responses

  1. Assalamualaikum.. komentar pertama niy cuman mau numpang baca baca aja, klw bisa ditunggu kunjungan balik nya yuahh

  2. Assalamualikum. Mau tanya nih apa ada anaknya teman-teman yang diproteksi dari TV? Maksud dari proteksi ini termasuk menyediakan alternatif tayangan TV, misalkan ngasih cd edukatif, game dan sejenisnya? kalau ada minta infonya ya? sy lagi bikin penelitian tentang anak yang tidak terpapar oleh program TV. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: