MENCARI PEMIMPIN? GAMPANG KOK!

Abraham Lincoln, pemimpin yang hebat. Tak ada orang yang abemenyangsikannya, bahkan tidak terkecuali masyarakat bangsa di dunia. Tapi, tahukah Anda bahwa Presiden ke-16 AS yang biasa dipanggil Abe itu pernah hendak dimasukkan ke rumah sakit jiwa akibat deraan hidup yang begitu berat?

Tahun 1831 Abe mengalami kebangkrutan dalam usaha. Setahun kemudian dia gagal dalam pemilihan umum tingkat lokal. Istrinya meninggal dunia tahun 1835 akibat penderitaan yang terus-menerus itu. Bisa dikatakan, hidup Abe sebelum sukses menjadi Presiden AS di tahun 1860 sarat dengan penderitaan dan kesusahan.

Saya meyakini, memilih pemimpin adalah perkara semudah-mudahnya dalam hidup. Tidak peduli pemimpin terendah, semacam Ketua RT, RW, Kepala Desa, atau malah pemimpin tertinggi presiden sekalipun. Tidak ada yang sulit, bahkan ketika banyak orang merasa tidak ada yang pantas menjadi pemimpin.

Bila orang kesulitan memilih pemimpin, hal itu lebih merupakan wujud kebingungan orang tersebut karena tidak memiliki referensi yang kokoh mengenai jati diri seorang pemimpin. Maka sebenarnya lebih bijak jika seseorang itu berkaca kepada diri sendiri lebih dulu ketimbang kehendak untuk menyalahkan ketiadaan calon pemimpin yang andal.

Sejak lama saya berpendapat, seseorang harus memiliki tiga syarat jika berkehendak menjadi pemimpin. Syarat itu wajib, karena seseorang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak kecil terhadap khalayak umum. Bahasa agamanya, amanah!

Pertama, integritas. Integritas menunjukkan bahwa seseorang harus memiliki sifat, mutu, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Integritas mengharuskan seseorang berwatak jujur, sederhana, tidak suka berbohong, lembut hati, jauh dari kekerasaan, dan keteladanan lain.

Kedua, kapabilitas. Seseorang wajib memiliki kemampuan dan profesionalitas dalam bidang yang selama ini ditekuninya. Ia cakap, sanggup, dan meyakini dalam dirinya yang paling dalam bahwa ia mampu menjadi pemimpin. Karena itu, seseorang niscaya lebih mendengarkan kata hatinya terlebih dahulu tinimbang mendengarkan suara orang lain.

Ketiga, akseptabilitas. Seseorang semestinya mampu diterima oleh pihak lain untuk menjadi pemimpin karena keteladanan yang selama ini diyakini dan dijalankannya. Penerimaan berlangsung dalam suasana yang bersahabat, tanpa adanya tekanan dan rayuan. Sebab hubungan pemimpin dan yang dipimpin selayaknya memang didasarkan atas landasan keikhlasan.

wolfSemudah itukah? Mulanya saya pikir, iya. Jadi, referensi itu selalu saya bayangkan dalam hati dan saya laksanakan dalam amal perbuatan. Setiap saat, setiap ada peristiwa yang mengharuskan saya untuk memilih. Namun, bisakah saya bertahan dengan referensi yang menurut saya sudah sempurna itu?

Saya harus menjawab jujur, TIDAK! Di masa perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi yang begitu modern; semua ternyata bisa didesain, termasuk persoalan pemilihan pemimpin. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannnya, integritas, kapabilitas, dan akseptabilitas bukan sesuatu yang tidak bisa disentuh.

Integritas bisa diciptakan, kapabilitas bisa dibuat, dan akseptabilitas dapat didesain. Sikap “ragu-ragu” mampu diubah menjadi “hati-hati”. Bekerja “cepat” dibalik menjadi “terburu-buru”. Berkata “jujur” dibilang “terlalu telanjang”. “Tegas” dibilang “keras”. “Lembut” dikatakan “lemah”. Akibatnya, informasi seorang calon pemimpin menjadi bias. Kita kehilangan kejujuran kita sendiri dalam memilih calon pemimpin kita.

Maka susah bagi kita untuk menemukan kelemahan seorang pemimpin seperti halnya masyarakat AS mengenal Abe yang pernah hendak dirawat di rumah sakit jiwa di masa lalunya. Kini, saya tahu, saya mesti mengubah judul di atas. Karena memilih pemimpin di negeri kita ternyata memang tidak gampang. Sekali lagi, tidak gampang! * * *

One Response

  1. saya sangat setuju, diawal awal membaca saya sempat mau protes, ternyata endingnya sama dengan pikiran saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: