“BINTANGNYA BINTANG” DI BULAN RAMADHAN

Saya tidak pernah menganggap bulan Ramadhan sebagai bulanramadan_primetime_400x300 pembelajaran, seperti sering dikatakan para penceramah di masjid, mushola, atau televisi! Bagi saya, bulan Ramadhan justru merupakan bulan puncak. Ibarat event olahraga, bulan-bulan lain adalah babak penyisihan, perdelapanfinal, perempatfinal, semifinal; maka Ramadhan adalah finalnya.

Mengapa demikian?

Karena pada bulan Ramadhan ini umat Islam berlomba-lomba menjalankan ibadah sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya demi pintu pahala yang tengah terbuka seluas-luasnya. Masjid, mushola, surau, dan bahkan hotel dipenuhi acara yang berkaitan dengan tema Ramadhan, tak terkecuali televisi kita.

Saya percaya, seperti di tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Ramadhan tahun ini pun kalangan selebriti pasti akan tetap menjadi primadona. Merekalah pihak yang paling sering muncul di televisi dalam beragam acara. Tak hanya tampil, para selebriti itu juga menjadi andalan bagi hampir semua stasiun televisi untuk meraup penonton. Tentu, kalau penontonnya melimpah dan ratingnya bagus, iklan (baca: uang) akan mengalir ke pundi-pundi stasiun televisi itu.

Agaknya, tidak keliru jika dikatakan, pihak yang meraih kemenangan di televisi selama bulan Ramadhan niscaya adalah kalangan selebriti kita. Mereka menjadi “pemenang” dari gebyar pertunjukan di bulan penuh berkah itu. Selebriti bahkan mengalahkan para ustadz/ustadzah, alim-ulama, ataupun kyai yang semestinya lebih berhak memenangkan perhelatan itu.

Lihat saja acara di televisi menjelang maghrib atau malam sebelum sahur hingga pagi hari. Sangat nyata, frekuensi pemunculan ustadz ataupun alim ulama di layar televisi masih kalah jauh dibanding selebriti. Bahkan untuk acara yang sudah kadung menampilkan ustadz/ustadzah, alim-ulama, atau kyai, seperti talk show atau ceramah agama, para selebriti tetap bisa ditemui meski sebagai pendamping.

Kalau masyarakat pada umumnya hanya diberi beban menahan lapar dan dahaga serta tidak melakukan hubungan badan dengan istri/suami di saat berpuasa, kalangan selebriti masih harus menunaikan tanggung jawab tambahan yang tidak kalah beratnya. Para selebriti mesti tidak tidur demi menyapa, memberi wejangan, atau sekadar menghibur penonton televisi di malam hari. Padahal di pagi dan siang hari pun mereka dituntut melakukan hal yang sama.

Entah bagaimana nasib stasiun televisi di tanah air seandainya para selebriti kita ramai-ramai mogok tampil dan menolak mengisi acara selama Ramadhan. Daripada tampil di televisi di bulan suci, para selebriti memilih belajar ilmu agama demi meningkatkan kualitas pribadinya. Apalagi di bulan-bulan lain mereka sudah memperoleh penghasilan yang besar. Adakah selebriti yang menolak tampil di televisi saat Ramadhan demi kekhusukan ibadahnya? Entahlah….

Menurut saya, kalangan selebriti tetap menjadi pusat pertunjukan -dibanding para ustadz/ustadzah, alim-ulama, atau kyai- dalam acara televisi, sekalipun itu di bulan Ramadhan, karena beberapa hal.

Pertama, selebriti adalah orang yang sudah terbiasa tampil di layar kaca dan mereka tidak mungkin demam kamera. Kedua, selebriti adalah orang yang sudah pasti dikenal publik sehingga mudah bagi pengelola televisi menjual acaranya. Ketiga, selebriti adalah pribadi-pribadi yang niscaya memiliki tubuh dan paras cantik, tampan, serta menarik. Penonton televisi mana yang tidak tertarik dengan kehadiran pribadi-pribadi yang demikian?

Kalau jawaban di atas benar, maka kita memang telah masuk ke dalam -apa yang disebut Rosalyn Williams (1991) sebagai- “dunia impian para konsumen”. Masyarakat antusias mereguk makna keberagamaan melalui televisi, tapi yang diperoleh dari televisi sebenarnya tak lebih dari sekadar asesoris kesalehan.Masyarakat seolah mendapatkan kepuasan spiritual meskipun hasilnya justru mereka menjadi penyembah konsumsi (the fetishism of consumption) dari dunia yang semestinya bersifat spiritual.

pencari2 tuhanPenonton televisi lebih sibuk untuk mengamati bentuk dan model jilbab, asesoris baju dan kerudung, atau model peci dan baju muslim yang dipakai para selebriti. Mereka tidak terlalu memperhatikan apa yang menjadi tema pembicaraan dari para ustadz/ustadzah. Bahkan mungkin mereka lebih sigap duduk di samping telepon untuk menjawab pertanyaan demi hadiah kuiz yang disajikan pengelola televisi. Maka semarak seusai Ramadhan (Lebaran) bukan menjadi semarak keberagamaan, tetapi lebih kepada semarak konsumsi keglamouran.

Karena itu, menjadi amat berat tanggung jawab para ustadz/ustadzah yang tampil di televisi di saat Ramadhan. Andaikata di bulan itu para ustadz/ustadzah ingin menjadi fokus perhatian di televisi, mau tidak mau, mereka harus berperan lebih dari sekadar para selebriti. Mereka mesti paham medium televisi dengan segala pernak-perniknya. Kemampuan retorika yang membuat penonton televisi tersenyum, tertawa, dan bahkan sedih harus dimiliki. Hal yang lebih penting lagi, mereka merupakan sosok yang menyenangkan dan menarik meski bukan berarti harus tampan atau cantik.

Jika semua hal ini dimiliki, maka para ustadz/ustadzah, alim-ulama, ataupun kyai patut untuk menjadi “bintangnya bintang” di televisi kita selama Ramadhan. Pemahaman dan pengetahuan agama (Islam) yang dimiliki mereka -tentu- akan menjadi nilai lebih yang niscaya tidak dipunyai oleh kalangan selebriti. Kehendak mereka untuk menjadikan masyarakat penonton televisi paham terhadap nilai-nilai agama yang bisa diimplementasikan dalam makna dan wujud keseharian akan lebih mudah didapat.

Namun, ibarat selebriti, siapkah para ustadz/ustadzah, alim-ulama, ataupun kyai itu nantinya menjadi buruan pers dan diberitakan media infotainment, termasuk hal-hal pribadinya? Wallahu’alam.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: