PILIHAN PKS; MENYELAMATKAN DAKWAH?

pks1Kalaulah saya tidak bertemu dengan seorang ustadz yang kini menjadi anggota DPRD di kota tempat saya tinggal, mungkin hati saya tetap akan penasaran dengan pertanyaan, kenapa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya bergabung dengan Partai Demokrat (PD) untuk mendukung pasangan Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono pada Pemilihan Presiden (pilpres) 2009? Untung saya sempat bertemu dengannya sehingga saya sedikit bisa mengurai jawabannya.

Kira-kira begini….

Sejak awal sebelum Pilpres dilaksanakan suasana hati para petinggi PKS sebenarnya lebih condong ke Partai Golkar. Hal ini bisa dilihat dari keakraban mereka dalam “berpantun ria” dengan para petinggi partai berlambang beringin itu, baik di koran, majalah, maupun acara talk show di televisi. Terakhir, Capres Golkar, Jusuf Kalla (JK) bahkan diundang secara khusus oleh PKS untuk membicarakan keseriusannya dalam mencalonkan diri sebagai presiden.

Tak urung, muncul kemudian nama pasangan Jusuf Kalla-Hidayat Nurwahid (HNW) sebagai figur yang akan diusung koalisi Golkar-PKS. Sebuah harapan yang tentu mekar di tingkat akar rumput. Pasangan yang ideal, non Jawa-Jawa, saudagar-intelektual, dan nasionalis-agamis. Namun, belum apa-apa, tiba-tiba HNW sudah menyatakan penolakannya. Ia mengatakan bahwa suara pasangan JK-HNW muncul dari elit politik Golkar, dan bukan dari PKS.

Apa makna pernyataan itu? Tak bisa disangkal, para petinggi PKS memang mengalami sindrom ketidakpercayaan terhadap soliditas Partai Golkar dalam mengusung JK sebagai capres. Golkar tidak mendukung penuh JK untuk maju, itu yang dibaca para petinggi PKS. Pengalaman Wiranto yang menjadi capres Golkar dalam Pemilu 2004 melalui konvensi yang juga tidak didukung penuh oleh semua elemen Partai Golkar menjadi pelajaran berharga bagi PKS bila hendak berkoalisi dengan Partai Golkar.

Maka PKS akhirnya lebih memilih SBY dengan Demokratnya. Tentu tidak asal-asalan kenapa PKS memilih SBY. Harapan bahwa HNW akan menjadi cawapres pilihan bagi SBY adalah dalih paling logis. Dengan SBY-HNW, maka keterwakilan umat tidak akan menjadi persoalan karena sudah menyatu pada sosok SBY yang nasionalis dan HNW yang agamis. Apalagi mereka berdua adalah figur yang berbeda, militer dan sipil.

Riset internal dan eksternal sebagai dasar dalam pengambilan keputusan itu tentu juga menjadi pegangan. Riset internal mengungkapkan, SBY tetap menjadi pilihan tertinggi bagi konstituen PKS. Riset eksternal dari berbagai macam lembaga survei menerangkan bahwa SBY akan memenangkan pilpres 2009 dengan keunggulan mencolok. Alhasil, buat apa berkoalisi dengan calon yang memang faktanya susah untuk menang.

Berkoalisi dengan sang pecundang akan memiliki “ongkos” yang lebih mahalwapres260209-3 dalam konstelasi politik yang tidak berpihak kepada partai politik Islam. Sebab bukankah PKS tidak semata-mata partai politik, tetapi juga partai dakwah? Dalam konteks politik dan dakwah, PKS dituntut memainkan keduanya secara cerdas dan jernih. Apalagi memang tidak ada kamus dalam politik Indonesia sebuah partai politik memainkan politik sekaligus dakwah, kecuali PKS.

Maka apa yang akan terjadi andaikata PKS justru bermitra dengan JK yang di atas kertas akan kalah itu. Pertama, PKS harus bersedia tidak duduk dalam pemerintahan alias berada di luar struktur pemerintahan (beroposisi). Semata-mata di luar pemerintahan an sich mungkin tidak menjadi masalah bagi politik PKS. Karena, di dalam atau di luar pemerintahan, bagi sebagian petinggi PKS adalah sama mulianya.

Tetapi, apa akibatnya bagi dakwah Islam bila PKS beroposisi terhadap pemerintahan? Inilah yang belum bisa dibayangkan oleh mayoritas petinggi PKS. Mereka tidak kuasa membayangkan peran yang dimainkan oleh para ustadz -sebagai komunitas terbesar dalam barisan petinggi PKS-  di Pusat ataupun di daerah ketika PKS memutuskan menjadi oposisi.

Mereka tidak membayangkan masjid akan menjadi “ladang konflik” baru karena munculnya kecurigaan-kecurigaan, baik dari pihak aparat maupun dari para ustadz yang berasal dari PKS. Tanggung jawab seorang ustadz untuk beramar ma’ruf nahi mungkar bisa-bisa akan “dibaca” lain oleh aparat yang menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan. Otomatis, para ustad akan kehilangan “kaki” dan “tangannya”.

Alhasil, dengan beroposisi dakwah PKS niscaya akan kehilangan elan vitalnya. Maka SBY adalah pilihan setepat-tepatnya dan serasional-rasionalnya. Sayangnya, di awal berkoalisi PKS mesti menelan kekecewaan yang pertama dari PD. SBY sama sekali tidak melirik HNW sebagai pasangannya. SBY lebih tertarik dengan figur Boediono yang bukan orang partai. Dampaknya, beberapa petinggi partai, baik di tingkat pusat maupun daerah, mulai “menimang-nimang” calon lain. Tentu dapat dimaklumi, kendati suara lain itu mesti dipandang sebagai wilayah pribadi bukan wilayah partai secara kelembagaan.

PKS paham konstituennya terbelah; SBY-Boediono atau JK-Win. Tak cuma konstituen, para petinggi partai juga mengalami hal yang sama. Isu “siapa yang paling Islami” di antara kedua pasangan itu menjadi hari-hari yang melelahkan bagi para petinggi PKS, tidak terkecuali dengan isu neoliberal dari sang figur cawapres. Tak heran bila sejak sebelum hari pencoblosan, melalui Ketuanya Ir. Tifatul Sembiring PKS telah mengeluarkan Bayanat DPP PKS NOMOR: 01/B/K/DPP-PKS/VI/1430 TENTANG PILPRES 2009 kepada para konstituennya agar memilih pasangan SBY-Boediono.

Kini terbukti, SBY-Boediono memenangkan pilpres. Persoalannya kemudian, benarkah di era pemerintahan SBY-Boediono dakwah PKS nantinya “lebih terselamatkan”? Jawaban bijaknya; wait and see. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: