SIAPAKAH YANG SEMESTINYA MENEGAKKAN HARGA DIRI BANGSA?

Sungguh! Apakah yang tersisa dari bangsa kita bila setiap waktu telinga kita mendengar berita-berita seperti ini?!

Ir. Sukarno, Sang Proklamator

Ir. Sukarno, Sang Proklamator

Ratusan ribu pendatang haram Indonesia diusir paksa dari Malaysia; seorang TKW diperkosa dan disiksa hingga melahirkan di Arab Saudi; Pasir laut Indonesia setiap waktu “dijarah” Singapura; dua orang pelintas batas asal NTT ditembak mati di Timor Leste; pesawat tempur AS lagi-lagi masuk wilayah Indonesia tanpa izin; IMF dan World Bank siap mengucurkan pinjaman dana segar bagi bangsa Indonesia; Wilayah Blok Ambalat, kesenian reog, dan tari pendet, diklaim sebagai milik Malaysia. Lagu “Indonesia Raya” dilecehkan. Entah… esok berita apa lagi!.

Saya kerapkali merindukan masa lalu. Di masa kecil saya kadang tergetar hatinya saat ayah saya menceritakan kehebatan tokoh-tokoh besar semacam Sukarno, Moh. Hatta, M. Natsir, dan masih banyak lagi. Saya paham, mereka besar karena tak cuma mahir orasi atau pernah di bui. Mereka besar karena dalam diri mereka terpahat dignity (martabat/harga diri)!

Semua orang tahu Sukarno seorang megalomaniak. Ia ambisius dan berani, jenius dan merasa tak ada yang kuasa menandingi. Tapi, karena megalomaniak itu, maka Sukarno mampu menumbuhkan harga diri dan martabat bangsanya. Character Building! Sukarno tak mau bertekuk, maka ia ingin rakyatnya tidak mudah tunduk. Sukarno berani, maka ia tak mau bangsanya menjadi bangsa kuli.

Di masa Perang Dingin, Sukarno sukses “mempermainkan” dua negeri besar, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US). Ia tahu kedua negara besar itu memerlukan Indonesia yang luas, strategis, dan kaya raya. Sukarno membaca situasinya. Maka bersama pemimpin negeri-negeri lain, Sukarno menjadikan Organisasi Non-Blok sebagai medium bagi posisi tawarnya. US angkat topi, AS tak berani unjuk gigi. Indonesia tetap dihormati, tanpa ada yang berani mengacak-acak negeri ini.

Bung Hatta lembut, tapi tak mudah goyah. Semua orang tahu itu. Hatta tidak pernah melawan dengan suara keras nan menggelegar layaknya Sukarno. Hatta hanya melawan dengan keteguhan hati yang bersih. Karena itu, tidak ada pribadi yang tidak menghormatinya, tidak terkecuali pemerintahan kolonial Belanda.

Syahdan Januari 1935. Hatta tiba di Tanah Merah, Boven Digul (Papua). Kapten van Langen, kepala pemerintahan di sana menyambutnya. Tak lama, Hatta disodori dua pilihan; bekerja untuk Belanda dengan upah 40 sen sehari dan harapan dikirim pulang ke daerah asal atau terus menjadi buangan tanpa harapan dipulangkan ke daerah asal.

Hatta hanya tersenyum. Ia tidak memilih keduanya. Namun, ia hanya berucap singkat bahwa jika ia mau bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda di Jakarta tentu dia telah menjadi orang besar dengan gaji besar. Tak perlu Hatta pergi ke Tanah Merah, Digul untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari. Van Langen kini tahu siapa orang yang dihadapinya. Hatta yang bermartabat!

Natsir santun, namun ia berprinsip. Banyak orang yang berkisah seperti itu. Ia sangat menghormati kawan, sebaliknya ia demikian menghargai lawan. Natsir menolak tawaran beasiswa dari pemerintah kolonial Belanda karena prinsipnya yang lebih suka bekerja independen. Ia tidak mau bergantung kepada siapapun, apatah lagi pemerintah kolonial Belanda.

Natsir lebih percaya kepada kemampuan sendiri. Maka setelah menamatkan sekolahnya di AMS Bandung, Natsir kukuh dengan cita-citanya yang mulia; menjadi guru dan mendirikan sekolah sendiri demi kecerdasan anak negeri. Meski demikian, kemandirian susah dicapai kalau bangsa Indonesia tetap terjajah. Alhasil, di sela-sela mengajar, Natsir tetap dengan rencana mulianya, yakni terlibat dalam aktivitas pergerakan nasional.

Kapan lagi kita dapat menatap wajah Sukarno, Hatta, atau Natsir pada rupa-rupa pemimpin kita sekarang ini?

Sukarno, Hatta, dan Natsir adalah para pemimpin yang mampu menegakkan dignity, harga diri dan martabat bangsa. Mereka berani karena mereka paham hanya keberanianlah yang membuat bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Mereka teguh memegang prinsip sebab mereka sadar hanya keteguhan pada prinsiplah yang menjadikan bangsa ini disegani bangsa-bangsa lain.

Maka saat para pemimpin kita gagal dalam menjunjung tinggi martabat dan harga diri bangsa karena watak ragu-ragu dan gamang, rendah diri dan penakut, kepada siapa lagi kita masih bisa berharap munculnya dignity bangsa di negeri khatulistiwa ini?

Oh ya, pada rakyat! Hanya pada rakyat negeri ini! Tidak pada yang lain! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: