SOEHARTO, PAHLAWAN?

Soeharto

Soeharto

Soeharto kembali menjadi berita! Rasanya tak henti-hentinya bangsa Indonesia mengutak-atik Jendral Besar yang berkuasa selama 32 tahun itu meski ia sudah terbaring di liang lahat.

Kali ini Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang melemparkannya. Dengan dalih jasa-jasanya yang demikian besar bagi bangsa Indonesia, pada Soeharto layak disematkan gelar Pahlawan pada 10 November mendatang. Gelar Pahlawan secara otomatis akan menyudahi kontroversi tentang Soeharto.

Layakkah Soeharto diberi gelar Pahlawan?

Sejarawan terkemuka Taufik Abdullah (2007) mengakui, segala peristiwa sejarah yang melibatkan mantan Presiden Soeharto, memiliki nilai sensitifitas yang tinggi. Karena itu, saat diminta memimpin tim penulisan buku “Sejarah Nasional Indonesia” yang baru untuk mendampingi keberadaan buku Sejarah Nasional Indonesia sebelumnya, ia sengaja menghindari nuansa politis dalam penjelasannya.

Apa artinya? Artinya, -bahkan- sejarawan sekaliber Taufik Abdullah yang integritas keilmuannya diakui banyak pihak masih menganggap tidak mudah untuk menulis peran sejarah Soeharto selama era kekuasaannya. Kesulitan itu bukan disebabkan oleh lemahnya perangkat ilmu sejarah, melainkan lebih kepada fakta bahwa kejujuran ilmiah yang dimiliki para sejarawan belum tentu mampu diterima oleh beragam silang pendapat yang sudah kadung terpecah.

Agaknya, masyarakat kita memang belum mampu untuk menilai secara jujur peran sejarah bangsa sendiri, termasuk tokohnya. Masyarakat masih lebih suka berada pada pendulum yang sifatnya memihak. Di mata para penentangnya Soeharto adalah diktator yang paling lengkap di dunia.

Dia tidak hanya sekadar menghukum lawan-lawan politiknya, menghancurkan nilai-nilai demokrasi, atau mengabaikan prinsip negara hukum. Selama 32 tahun kekuasaannya, Soeharto juga mewariskan budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang entah kapan bisa diberantas. Belum lagi warisan bangkrutnya ekonomi negara akibat utang negara dan swasta yang menumpuk.

Uniknya, di mata para pemujanya Soeharto adalah simbol negarawan hebat. Di masanya, stabilitas negara terjamin dan kekacauan di lingkungan masyarakat bisa terkendali. Swasembada pangan berhasil sehingga harga-harga kebutuhan pokok bisa dijangkau.

Lalu, di masa Soeharto pula segala warna intelektual bisa bergabung ke dalam sebuah payung ideologi yang bernama pembangunan. Siapa yang bisa membayangkan tokoh-tokoh sekaliber Emil Salim, Mar’ie Muhammad, Sarwono Kusumaatmadja, Munawwir Sadzali, dan lain-lain mau masuk ke dalam lingkaran kekuasaan sebuah rezim yang -katanya- despotik itu?

Maka keberadaan tokoh sejarah di masyarakat niscaya menjadi wujud realitas masyarakat itu sendiri. Pada saat orang mengungkap peran sejarah Soeharto yang kelam, maka pada saat yang lain orang akan berduyun-duyun untuk membela dan menulis sisi terang benderang sang jenderal besar.

Semua itu bisa diterima jika sejarah dipahami sebagai proses rekonstruksi masa lalu secara ilmiah sebagai bagian dari upaya untuk menyingkap fakta yang sebenarnya. Namun, saat pengungkapan itu dipandang sebagai cara atau jalan untuk menunjukkan kebencian atau -sebaliknya- kecintaan terhadap Soeharto, maka persoalan ini akan menjadi sangat lain maknanya.

Sejarah kontemporer, bagaimanapun, memang kerap dianggap sedikit lebih “menantang”. Selain masalah aktualitasnya, kehadiran para pelaku lain yang berseberangan sering membuat sejarah lebih “berwarna”. Belum lagi semangat yang berlawanan dari para pemuja atau penghujat sang tokoh yang pasti tak bisa lepas dari rasa dendam, rindu, atau benci.

Adanya ungkapan bahwa ditunggu sebuah generasi untuk mendapatkan sejarah yang benar-benar bersih, tanpa campur tangan kekuasaan selain fakta ilmu; agaknya, dijadikan sebagai dalih. Namun, hal ini pun sebenarnya tidak secara otomatis menjadi benar.

Rekonstruksi peran sejarah Soekarno adalah bukti. Sama seperti Soeharto,

Soekarno-Soeharto

Soekarno-Soeharto

hingga kini orang masih bersilang sengketa mengenai peran sejarah Soekarno. Benarkah -seperti dilaporkan pemerintah kolonial Belanda- bahwa Soekarno pada Agustus-September 1933 memohon maaf atas sepak terjang yang selama itu dilakukannya dan bersedia bekerja sama dengan pemerintah Belanda?

Bagi para pengagumnya, Soekarno meminta maaf adalah nonsens. Tidak mungkin. Palsu. Fitnah! Tapi, bagi para penentangnya, Soekarno adalah juga manusia, tempat salah dan lupa. Soekarno bukan Nabi!

Peristiwa serupa kembali muncul saat sebuah buku yang ditulis Prof Antonie CA Dake, Soekarno File diluncurkan. Berbagai hujatan timbul kemudian terhadap diri penulisnya, baik dari keluarga besar Soekarno, kalangan nasionalis, maupun para pemujanya. Mereka dengan tegas menolak anggapan Prof. Dake bahwa Soekarno terlibat dalam peristiwa G30S.

Di mata para pendukungnya, penelitian yang sudah dilakukan bertahun-tahun oleh Prof. Dake tidak menghasilkan apa-apa, selain pembunuhan karakter terhadap ketokohan Soekarno.

Dalam konteks inilah sesungguhnya kredibilitas sejarawan dipertaruhkan. Sejarawan memang ahli dalam detil rekonstruksi peristiwa yang melibatkan para pelaku. Tapi, seperti diungkapkan Kuntowijoyo (2004), para sejarawan tidak lepas dari kekeliruan. Ketika berhadapan dengan peran tokoh, sejarawan seringkali gagal untuk menghindar dari cara berpikir dikotomis.

Akibatnya, banyak tulisan sejarah yang kemudian muncul dengan semangat memvonis, bukan memaparkan. Padahal tugas sejarawan tidak seperti tugas seorang hakim. Bukan hak sejarawan untuk menentukan hitam dan putihnya seorang tokoh sejarah. Sungguh sejarawan jauh dari itu.

Jadi, layakkah Soeharto diberi gelar pahlawan? Jangan tanyakan itu kepada sejarawan karena gelar pahlawan -di negeri ini- adalah gelar politis.* * *

9 Responses

  1. wah, seneng nih bisa ketemu sesama Soekarnois.
    Yok Mampir ke warungku:
    http://penasoekarno.wordpress.com
    Aku ada koleksi foto soekarno buat kamu.

    Salam Revolusi

  2. tulisan anda bagus….
    nulis lagi kapan222
    semangat bosssssssss

  3. saya bukanlah sejarahwan, saya hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Pak Harto, TANPA GELAR PAHLAWAN PUN ANDA ADALAH PAHLAWAN dan anda memang LAYAK JADI PAHLAWAN NASIONAL

  4. Kenapa mayoritas rakyat Indonesia suka Soeharto? Karena memang mereka merasa bahwa selama pemerintahan Soeharto bahwa kehidupan mereka nyaman dan tentram.Inilah penggambaran dari hati nurani rakyat awam.Mereka tak mampu berpikir ke soal politik,mereka tak tahu apa itu Demokrasi,HAM bagi mereka adalah hidup tenang dan makan enak.Mereka tak tahu bahwa Soeharto lah yang menyebabkan bangsa ini terpuruk di dalam kemiskinan dengan kebijakan ekonomi salah kaprah dan warisan hutang tujuh turunan.Pendapat rakyat awam tak bisa kita salahkan kalau mereka cinta Soeharto,yang penting perut kenyang maka si presiden adalah baik menurut mereka

    • Skali soeharto tetap soeharto,masalah hutang itu urusan negara bkn urusan rakyat,yg penting rakyat makmur dan sejahtra,no demo no bacot(senggol bacok)yg penting damai INDONESIA ku.negara kan bs bikin duit sendiri,bikin aj tu duit sbnyak2ny,gitu aj kok repot.

      • I like soeharto end i love soeharto,bagi saya yg pernah merasan masa pemerintahan orde baru,d banding dengan pemimpin2 seperti habibi,gusdur,megawati.yudiyuno(SBY)menurut saya soeharto no.1 maaf bukan ny saya anti soekarno saya suka jg kok ma beliau,masalahny karna saya blm lahir pd masa kepemimpinan beliau.itu aj,hehe

  5. sekarangpun….demokratis katanya,….kebablasan demokratisnya ….tetep ae utang negara banyak…norma-norma mulai luntur…..Soekarno hebat pada jamannya…Soeharto hebat pada jamannya sendiri…. Biarlah mereka dikenang sebagai Bapak2 Bangsa. Nggak ada guna mengkultuskan Beliau2……. Mereka tetap pahlawan2 bangsa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: