KENAPA HARUS MEMBAKAR BUKU?

Apa yang membedakan manusia dengan monyet? Kata sastrawan mbelingburning_book Remy Silado, BUKU! Karena monyet tak baca buku, sedangkan manusia baca buku. Kalau manusia tak baca buku, ia tidak beda dengan monyet.

Lebih dari itu, buku mengandung khasanah ilmu yang tanpa batas. Sebuah peradaban tak mungkin maju tanpa buku. Buku menuntut manusia membaca sekaligus menulis. Maka buku menjadi penanda maju mundurnya sebuah bangsa.

Mesir kuno terpatri sebagai peradaban hebat. Masyarakat Mesir telah mengenal kertas papyrus sebagai medium untuk berkreasi dan “bermimpi”. Pada kertas itu, bangsa Mesir menuliskan kisah dan sejarahnya sendiri sehingga mampu diketahui masyarakat bangsa lain, bahkan hingga kini. Mesir kuno hebat karena mereka mengenal tradisi baca tulis lebih dahulu tinimbang bangsa-bangsa lain di dunia.

Islam periode Abbasiyah melahirkan para ilmuwan canggih. Mereka meretas jalan bagi pengembangan metode keilmuan dengan buku-buku karyanya. Tak puas menerima kesimpulan dari pihak lain, para ilmuwan itu menguji kebenaran dengan melakukan verifikasi. Dari khasanah ilmu Islam, orang mengenal nama-nama besar, seperti Ibn Sina (Avesina), Ibn Rushd (Averoes), atau Ibn Khaldun.

Amerika di masa sekarang menjadi kiblat ilmu, baik ilmu sains maupun sosial. Setiap hari ratusan ilmuwan lahir dari rahim sejarah mereka. Maka berduyun-duyun pelajar dan mahasiswa dari berbagai bangsa di dunia menetap dan belajar di universitas-universitas ternama di AS. Buku-buku hebat yang menjadi acuan beragam ilmu muncul darinya. Amerika maju karena mereka telah menjadi pusat ilmu.

Lalu, kenapa di kita buku-buku mesti dilarang-larang dan dibakar-bakar?

Di masa Orde Baru, tidak terhitung lagi jumlah buku yang dilarang dan dibakar. Segala macam buku yang berkaitan dengan ideologi komunis, seks, SARA, atau politik perlawanan terhadap rezim yang berkuasa mesti siap-siap dilenyapkan dari peredaran. Haram hukumnya di bumi Nusantara yang tercinta ini bila rakyat membaca buku-buku model tersebut.

Buku-buku novel sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer tak pernah bisa dinikmati publik karena cap penulisnya yang dianggap kekiri-kirian. Buku Fuji Hideki Madame D. Syuga dan Prof. Conny Semiawan Adik Baru juga dilarang beredar karena mempertontonkan pornografi ke khalayak. Buku Serat Dharmogandul dan Kristus dalam Injil dan Al Qur’an dilarang sebab berbau SARA. Apakah Soeharto Terlibat PKI menjadi buku kesekian yang dilarang sebab bernafaskan “fitnah” terhadap rezim Soeharto.

Kejaksaan Agung menjadi “hakim intelektual” bagi buku-buku yang diterbitkan dan dipasarkan. Di tangan mereka, buku hanya dipandang sebagai produk budaya yang adiluhung sehingga mesti berkesan “mencerahkan”. Buku tidak layak dipertaruhkan sebagai medium komunikasi dan intelektual yang “provokatif”, yang mampu menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam masyarakat.

sepatuMaka negara menjadi pemegang hegemoni makna bagi sekalian rakyat yang dipimpinnya. Negara menjadi penentu buku yang layak dibaca oleh masyarakat dan buku yang mesti disingkirkan dari benak rakyat. Mengapa demikian? Karena negara adalah sumber kebenaran yang tunggal. Negara tidak memerlukan kebenaran lain, sekalipun itu datang dari kedalaman dan kecerdasan rakyat.

Kini, di masa reformasi ini, buku tetap dipandang sebagai media yang teramat strategis. Karena strategis, orang berusaha “memperebutkannya”. Namun, wacana pemegang kebenaran buku telah bergeser. Negara tidak lagi menjadi pemegang monopoli kebenaran atas sebuah buku. Justru masyarakat yang sekarang menjadi hukum itu sendiri.

Hukum rimba dalam perbukuan yang tengah terjadi? Mungkin! Karena setiap elemen masyarakat bisa dengan bebas menumpas sebuah buku saat tidak setuju dengan isinya. Masyarakat bisa protes dengan cara mendatangi, membentak, menggebrak meja, berdemonstrasi, mengancam, atau bahkan membakar buku. Mereka tidak peduli bahwa buku yang mereka bakar adalah lambang dari produk budaya mereka sendiri.

Tak ada gairah untuk menentang isi buku yang tidak disetujuinya itu dengan membuat buku lain yang berbeda. Bahkan andaipun tak mampu, tak ada niat untuk memperkarakan isi buku itu dalam sebuah mahkamah pengadilan yang -tentu- adil dan suci. Mahkamah pengadilan itulah yang nantinya akan membuktikan; siapa benar dan siapa salah, siapa lurus dan siapa sesat.

Suatu waktu, dalam pertemuan majelis ilmu di sebuah masjid, saya terkesima mendengar seruan seorang ustadz dengan berapi-api. Katanya, wajib hukumnya bagi umat Islam untuk melenyapkan buku-buku yang sesat dengan cara membakarnya agar umat Islam tidak terpengaruh dari ajaran buku-buku sesat tersebut.

Saya tak mampu berkata-kata. Hati saya hanya berkata, bila sebuah buku kita akui sebagai muara dari pengetahuan dan ilmu, mengapa kita tidak menjadikan muara itu bersih dari segala pengekangan dan penindasan agar dunia menjadi lebih “sedikit” beradab? ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: