DAKWAH “KERAS” DI TELEVISI?

Apa yang Anda bayangkan bila figur-figur terkenal semacam Ustadz Abu Bakarobor Baasyir, Ustadz Jafar Umar Thalib, atau Ustadz Abu Jibril mengisi setiap hari acara dakwah Islam yang ada di televisi kita? Apa yang akan terjadi pada jamaah di televisi setelah mendengar ceramah mereka? Apa yang (mungkin) selanjutnya terjadi pada televisi kita?

Saran saya, tidak usah dibayangkan! Sebab hal ihwal seperti itu tidak pernah terjadi. Memang beberapa kali Ustadz Abubakar Baasyir pernah hadir di televisi, tapi kehadirannya lebih sebagai objek pemeberitaan. Memang sekali waktu Ustadz Jafar Umar Thalib pernah masuk di televisi, tetapi hal itu dalam konteks acara dialog yang membahas suatu persoalan dalam Islam bersama dengan narasumber lain. Memang Ustadz Abu Jibril pernah mengisi kajian Islam di pagi sesudah Subuh pada sebuah saluran televisi, namun sekarang -sepertinya- tidak pernah lagi.

Ustadz Abu Bakar Baasyir, Jafar Umar Thalib, Abu Jibril, dan ustadz-ustadz yang “semacamnya” itu bukanlah para ustadz yang akrab dengan televisi sebagai medium komunikasi. Bahkan -dalam hati kecil- saya tidak yakin di rumah-rumah kediaman mereka terdapat televisi yang menyala di pagi, siang, atau malam hari, menemani mereka beristirahat dalam kepenatan.

Dapatkah Anda bayangkan Ustadz Abubakar Baasyir, Jafar Umar Thalib, atau Abu Jibril menonton tayangan acara, seperti sinetron “Cinta Fitri”, komedi “Opera van Java” atau infotainment “Kabar-Kabari”? Atau bisakah Anda bayangkan para ustadz itu berkomentar tentang acara di televisi atau tingkah para pelaku industri hiburan (selebriti) dalam ceramah-ceramah mereka?

Para ustadz itu bukan semata-mata tidak mampu membeli televisi bagi rumah kediaman mereka sendiri. Keenganan mereka kepada televisi lebih kepada materi acara di televisi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Televisi, dalam perspektif mereka, lebih banyak menghasilkan dampak negatif dibanding positifnya. Dalam bahasa Islam, mudharat televisi lebih banyak dibanding manfaatnya. Karena lebih banyak mudharat, maka tinggalkan saja!

Pandangan mereka yang “sederhana”, jujur dan apa adanya, serba hitam-putih, atau haq-batil terhadap suatu persoalan menggiring opini publik untuk menggelari para ustadz itu dengan stereotip yang serba bias. Berbagai cap seperti “keras”, “tanpa kompromi”, “literalis”, “skripturalis” atau bahkan -gelar yang seram- semacam “pendukung teroris” menempel pada mereka. Dalam konteks ini publik dan media massa sering bertindak tidak adil terhadap mereka.

Harus diakui, penampilan, pandangan, dan sikap hidup mereka memang lekat dengan stigma “fundamentalis” seperti yang tertulis dalam literatur-literatur Barat mengenai Islam. Mereka berusaha memanjangkan jenggot, mencukur kumis, memakai baju ghamis putih, memasang hijab bagi wanita, menolak musik dan nyanyian, serta bersikap tegas terhadap khurafat dan bid’ah. Dalam perspektif yang lain, mereka terlihat kuat ingin kembali kepada ashalah, yakni hidup yang benar-benar murni seperti di masa Nabi dan sahabat.

Maka stasiun televisi tidak akan pernah menampilkan sosok-sosok seperti mereka dalam dakwah Islam di layar kaca. Televisi lebih senang menampilkan dakwah dengan materi-materi yang “aman-aman” saja dan -tentu- dengan para ustadz yang juga “aman-aman” saja. Para ustadz yang jauh dari “kontroversi”, baik dari sisi pandangan hidup maupun tema, akan selalu muncul dalam keseharian.

Mengapa demikian?

Karena dakwah Ustadz Abu Bakar Baasyir, Jafar Umar Thalib, Abu Jibril, dan ustadz-ustadz yang “semacamnya” itu secara diametral memang bertentangan dengan “ideologi” televisi sebagai sebuah industri komunikasi. Keduanya sulit menyatu atau setidak-tidaknya berkompromi karena keduanya memang berbeda secara prinsip.

Para ustadz itu senantiasa mengajak para jamaah “kembali ke masa lalu” seperti kehidupan ideal di masa Nabi Muhammad saw. karena kehidupan di era Nabi dan para sahabat merupakan sebaik-baik contoh dan teladan dalam hidup. Mereka berpikir idealis, yakni cita-cita untuk hidup dalam naungan Islam. Tidak ada kompromi dalam hal ini.

Sebaliknya, televisi tidak peduli dengan segala kehidupan di masa lalu, masa kini, atau malah masa depan sekalipun. Apalagi kehidupan di era Nabi seperti yang diidam-idamkan para ustadz. Nilai yang dibawa televisi adalah kenicayaan, yakni sikap pragmatis. Siapa yang mampu memberikan keuntungan atau laba, maka merekalah yang akan menjadi “bintang” yang sesungguhnya di televisi.

Selain itu, para ustadz itu tampaknya juga percaya bahwa perkembangan industri televisi yang kini tengah berjalan membawa “misi suci”, yakni nilai-nilai liberal atau neoliberal yang amat bertentangan dengan Islam. Nilai-nilai liberal atau neoliberal itu tidak hanya dalam pengertian regulasi industri pertelevisian, tetapi juga substansi acara-acara yang hadir di layar televisi.

Bahkan pemerintah seperti tidak tegas dalam menyelesaikan berbagai masalah, seperti pengaturan penggunaan frekuensi dan penyelenggaraan penyiaran swasta, serta masalah monopoli kepemilikan TV atau radio, agar sesuai dengan undang- undang penyiaran. Belum lagi pemerintah juga seperti tidak berdaya menghadapi substansi industri televisi yang idealnya mengacu pada prinsip diversity of ownership dan diversity of content.

Maka, dalam konteks ini, benar apa yang diungkapkan Fazlur Rahman bahwa fundamentalism must be seen in the double perspective and not interpreted merely as an Islamic reaction to the West in the light of newly gained political independence. * * *

4 Responses

  1. klau anda tidak megerti agama tidak usah berbicara tentang agama,,sok thu tau tempeeeeeeeeeeeeeeee kli?????????!

    • Iya, kali ya….Tp, trm ksh atas kunjungan dan komentarnya. Oh, ya di mana saya bisa melihat tulisan2 Anda. Biar saya bisa jg belajar dengan Anda…

  2. tulisannya bagus🙂
    *hmm* kapan ya bisa jadi audiens langsung di ceramahnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir atau Ustadz Ja’far Umar Thalib…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: