PENCURI YANG TERTUTUP MATANYA

Banjarnegara, 26 September 2009. Sabtu pagi. Mudik hari terakhir. Saya, istri, dan anak-anak bersiap-siap untuk pulang ke Bogor.thief-harowo.com Tiba-tiba telepon saku saya berbunyi. Pak Hendra Budiman. Tetangga saya yang juga Ketua RT tempat saya tinggal.

“Pak Sigit….” Suara Pak Hendra dari seberang.

“Ya, saya sendiri. Ada apa, Pak Hendra?”

“Rumah Bapak! Rumah Bapak dibongkar maling….!”

Plassh!!! Tubuh saya lemas. Tulang-tulang serasa lepas dari tempatnya. Mudik yang begitu mengesankan selama seminggu seperti terhapus suara tetangga saya yang karyawan di Ditjen Pajak itu. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Istri yang berada di samping saya buru-buru menyela.

“Ada apa, Mas?” tanyanya.

“Rumah kita dibongkar maling, Dik…”

Wajah istri saya pucat. Keletihan langsung menyergap. Saya bertambah bingung. Bayangan buruk memburu. Apa saja yang raib? Uang, perhiasan, motor, laptop, komputer, televisi, tape, surat-surat penting, seperti sertifikat rumah, sertifikat tanah, paspor, atau BPKB mobil-motor.

Ah, kenapa saya mesti bingung? Hati saya mulai menguatkan. Bukankah saya dan istri tidak terlalu suka menyimpan uang dalam jumlah yang cukup besar di rumah? Jadi, tentu di rumah saya tidak ada uang. Perhiasan? Sejak menikah saya tidak pernah melihat istri menggemari perhiasan emas dan semacamnya. Bahkan memakai cincin, gelang, atau kalung pun tidak.

Motor? Sejak sebelum puasa, motor Honda bebek sudah saya titipkan ke adik ipar untuk melayani kebutuhan usaha yang sedang saya dan istri rintis. Laptop? Kegemaran saya menulis membuat saya memaksakan diri untuk membawanya ke kota kelahiran saya selama mudik lebaran. Seminggu adalah waktu yang sangat cukup untuk menghasilkan beragam tulisan, seperti artikel, feature, cerpen, atau sekadar puisi kacangan.

“Pak Sigit….” Suara Pak Hendra terdengar kembali.

“Barang-barang di rumah memang diobrak-abrik. Berantakan. Tapi, sepertinya masih utuh. Televisi, komputer, tape. Semuanya ada. Ini malah ada HP yang masih baru sepertinya…”

“Oh, iya. Itu punya Irfan, hadiah ulang tahun. Lho nggak keambil?”

“Nggak tuh! Surat-surat penting juga masih tersimpan di map plastik dokumen. ”

“Terima kasih sekali Pak Hendra.”

Telepon Pak Hendra tertutup. Saya bersyukur barang-barang di rumah masih utuh. Tapi, rasa khawatir tetap belum tersibak.

“Dik, secepatnya kita mesti sampai di rumah.”

“Jadi, kita nggak nginep di Tegal atau Cirebon?”

Saya menggeleng. Niat pulang seusai mudik dari Banjarnegara untuk sekedar bersenang-senang dan menginap selama satu hari di wilayah Pantura, seperti Tegal atau Cirebon demi wisata kuliner, tidak kesampaian. Saya ingin cepat sampai di rumah.

Minggu dinihari kami sekeluarga sampai di rumah setelah menempuh perjalanan hampir 15 jam. Benar seperti dugaan kami semua. Rumah kediaman kami berantakan abis. Pintu rumah rusak parah. Lemari pakaian amburadul. Baju, celana, kaos berserakan di tempat tidur. Laci almari beserta isinya terhampar tak karuan di lantai.

Saya, istri, dan anak-anak menyaksikan semua itu dengan beribu pertanyaan. Apakah sebenarnya yang pencuri inginkan dari rumah saya? Uang atau perhiasan? Barang elektronik atau surat-surat berharga? Atau malah -jangan-jangan- adakah pencuri itu sebenarnya sudah mendapatkan “sesuatu” dari rumah saya tanpa kami semua menyadarinya? Saya benar-benar tidak tahu!

Saya hanya tahu bahwa Ibu Fredy, tetangga rumah saya yang seorang Kristiani ndakik telah melihat rumah kami dan berkata penuh sejuk.

“Tuhan telah menutup mata si pencuri itu saat berada di rumah Bapak….”

Saya mengamininya. Saya percaya! Kenapa? Karena barang-barang berharga yang lain juga tidak terambil. Uang sebesar 5,8 juta yang ternyata “disimpan” istri saya di sela-sela baju di lemari pakaian bahkan juga tidak terdeteksi sang pencuri.

Saya sangat percaya dengan pernyataan Ibu Fredy. Tapi, saya percaya ini hanya terjadi satu kali! Jika besok terjadi lagi saya tidak percaya kejadian seperti ini akan terulang kembali. * * *

Sumber gambar: http://www.ehow.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: