PERISTIWA G30S DAN PENUMPULAN NALAR ANAK

G 30 S PKIOrde Baru dikenal sebagai rezim yang memiliki perhatian berlebih terhadap buku. Saking perhatiannya, rezim pimpinan Soeharto ini merasa paling berhak menyeleksi buku-buku yang dibaca rakyat yang dipimpinnya. Buku yang boleh dibaca dibiarkan terbit dan beredar di pasar. Buku yang tak boleh dibaca, dilarangnya tanpa kompromi.

Buku-buku bertemakan paham komunis merupakan buku yang paling rentan terkena pelarangan. Melalui Kejaksaan Agung (Kejagung), buku-buku yang dilarang ditarik dari peredaran. Kalaupun ada yang menerbitkan dan menyebarkannya, jerat hukum menanti mereka yang berbuat nekad itu.

History repeat itself. Sejarah kembali terulang. Apa yang dilakukan rezim Orde Baru terulang kembali. Pemerintahan SBY hingga kini getol menarik buku pelajaran sejarah SD, SMP, dan SMA. Buku-buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan kata “PKI” di belakang kata “G30S” adalah korbannya. Setelah ditarik, buku-buku itu dimusnahkan. Kalau di masa Orde Baru kita tidak tahu cara memusnahkannya, di era sekarang, buku-buku itu dibakar di depan publik.

Pembakaran itu -paling tidak- menimbulkan tiga kesan di masyarakat. Pertama, buku-buku itu tidak lebih nilainya daripada barang-barang haram lain, seperti narkoba, miras, atau bahkan vcd porno. Kedua, penafsiran tunggal atas peristiwa sosio-politik bangsa tetap belum bergeser dari logika kekuasaan. Ketiga, komunisme dengan segala rentetan peristiwanya di masa silam masih tetap hanya dilihat dari perspektif “pergunjingan”.

Pembakaran buku pelajaran yang tidak mencantumkan kata “PKI” menandai kembalinya masa kurikulum berbau Orde Baru. Alhasil, G30S akan dianggap sebagai peristiwa sejarah yang final, selesai, dan haram diperdebatkan. Hal ini disebabkan kurikulum yang ada memang tidak menyisakan ruang bagi munculnya gagasan yang bisa “menghangatkan” suasana pembelajaran.

Padahal, era pembelajaran sejarah pasca tumbangnya Soeharto telah bergerak maju. Sinyal maju itu tampak saat kata pemberontakan dihilangkan dalam Kurikulum yang Disempurnakan (1999) dan diganti dengan kata peristiwa. Secara implisit, perubahan itu dipahami sebagai pertanda munculnya keinginan dari pemegang kekuasaan untuk memberi keleluasaan kepada para pelaku pendidikan, teristimewa guru dan anak didik mencari kebenaran sejarah di balik peristiwa itu.

Kembalinya kurikulum bergaya Orde Baru secara otomatis membuat anak-anak kita terjebak pada fallacies dan anakronisme. Fallacies (pemikiran keliru) mengantarkan anak-anak kepada sikap dikotomis yang mengesankan dirinya sebagai “hakim”, dan bukan sebagai “pelukis” peristiwa. Anakronisme (penempatan waktu yang salah) menggiring anak-anak pada penciptaan generalisasi peristiwa G30S sehingga lupa akan konteksnya.

Secara politis, kurikulum berhasil menjadikan para guru sebagai kepanjangan tangan pelaksanaan hegemoni makna -meminjam istilah Taufik Abdullah- sehingga sejarah bertafsir tunggal. Namun, secara paedagogik, kurikulum juga telah menjadi dirinya sendiri ibarat sebuah penjara. Ia tidak membukakan ruang inspirasi bagi anak-anak untuk mencari beragam pertanyaan di sekitar peristiwa G30S.

Djoko Suryo (2004) memang menyarankan para guru untuk menggunakan scientific approach saat mengajarkan peristiwa G30S kepada anak-anak di sekolah demi menghindari penjara kurikulum. Pendekatan ini dinilai lebih tepat dan “aman” mengingat scientific approach menekankan pengujian terhadap akurasi, akuntabilitas, dan reliabilitas sumber sejarah dan fakta, selain kebenaran dan akuntabilitas interpretasi sejarahnya.

Sayangnya, scientific approach bukan panasea yang mampu menyelesaikan segalanya. Scientific approach mesti beriringan dengan otonomi yang melekat secara otomatis dalam kepribadian para guru di sekolah. Kalau otonomi guru ada maka komparatif fakta di sekitar peristiwa G30S akan muncul karena guru tidak akan mudah terjebak dalam keragu-raguan terhadap berbagai “kebenaran” di balik peristiwa itu.

Persoalannya, adakah guru sekolah di negeri kita memiliki otonomi? Jika tidak, maka tidak salah bila sebagian kalangan menilai bahwa peristiwa G30S memang telah menumpulkan daya nalar dan daya kreatif anak-anak kita di sekolah. * * *

SUmber gambar: http://www.pacamat.com

3 Responses

  1. Oh ya, waktu tahun 1965, Kakek saya juga masuk daftar orang yang harus dibunuh karena Orang-Orang PKI sering meminjam rumah beliau untuk rapat.

    Dan nenek saya sering cerita: orang-orang yang diduga PKI dijemput tengah malam diseret di depan anak-anak dan keluarga mereka, diangkut pake truk…kemudian dibunuh..tanpa pengadilan..tanpa pembelaan…menyedihkan.

    Sampai detik ini sejarah G30/SPKI masih gelap gulita.

  2. kalo menurut saya, dilarang ato tidak sebuah buku itu relatif. maksudnya, sebuah buku akan layak untuk diterbitkan (dalam hal ini diajarkan) jika isinya benar….

    karena konteksnya buku tersebut adalah buku sejarah (sebuah kronologi kebenaran masa lalu)…

    singkat kata, saya tidak memihak mana yang benar ataupun salah (melarang ato tidak). yang jelas, sebuah kebenaran pantas dibuktikan dengan penelitian yang valid….

    tapi thanks infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: