MENG-KLENIK-KAN BENCANA? (1)

Ridwan Saidi

Ridwan Saidi

Hanya sekali saya pernah bertatap muka dengannya. Itu terjadi kira-kira 18 tahun yang lalu, sekitar awal tahun 1990-an. Sudah lama, lama sekali malah. Pertemuan itu terjadi di pesantren khusus mahasiswa “Budi Mulia” yang terletak di Jl. Kaliurang, Yogyakarta.

Di pesantren binaan tokoh reformasi Amien Rais itu, ia bertutur kata dengan lancar dan meledak-ledak, seperti biasanya. Ia bercerita banyak. Mulai dari perilaku politik elit Orde Baru, politik Islam di Indonesia, hingga kebangkitan Islam di dunia. Orang memanggilnya Bang Ridwan dari nama lengkapnya Ridwan Saidi. Bersama sekitar sepuluhan orang, kami berdiskusi hingga tengah malam dalam aula yang sepi nyenyat.

Saya merangkai ingatan kembali tentang Bang Ridwan setelah -lagi-lagi- tanah air kembali diterpa bencana yang tak terperi. Gempa berkekuatan 7,6 skala richter mengguncang wilayah Padang Pariaman, Sumbar (30/9). Gempa susulan muncul di Jambi esoknya (1/10) meski dengan getaran yang lebih kecil. Ratusan atau bahkan ribuan orang diduga meninggal dalam gempa itu.

Kenapa saya mesti “memanggil” kembali nama Ridwan Saidi dari ingatan masa lalu saya?

Karena beberapa bulan lalu, sebelum pemilu dilaksanakan, bertempat di Gedung Juang, Jakarta (24/6) Bang Ridwan telah meluncurkan buku bertajuk Bencana Bersama SBY yang menghebohkan itu. Kok menghebohkan? Karena buku itu secara gamblang mengungkapkan bencana-bencana yang terjadi di Nusantara tercinta ini selama masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Bang Ridwan menuliskan tidak kurang dari 400 peristiwa bencana, baik besar maupun kecil, telah meluapkan derita rakyat di masa SBY berkuasa. Pada tahun 2004, di awal pelantikannya sebagai presiden terpilih, bencana tsunami yang meluluhlantakkan Banda Aceh sudah menyambutnya. Ratusan ribu orang menjadi korban, belum lagi harta dan benda. Hingga kini tsunami Aceh tetap masih menyisakan persoalan.

Tidak terhitung lagi bencana antara tahun 2004-2009 semasa SBY berkuasa, seperti gempa Yogya, lumpur Lapindo, tsunami Ciamis, tanah longsor, bencana kelaparan, dan lain-lain. Bahkan bencana lumpur Lapindo yang menenggelamkan ribuan rumah hingga kini tetap belum mampu diselesaikan oleh pemerintahan yang dipimpinnya. Pemerintah seolah gagap berhadapan dengan para pemilik modal besar.

Jujur, saya tidak tertarik membaca buku karya Bang Ridwan itu karena -bagi saya- buku itu jauh dari kesan figur Bang Ridwan sebagai seorang cendekiawan yang jejeg dan “lurus”. Buku itu lebih mirip sebuah propaganda para politisi yang sedang mengincar suatu tujuan tertentu. Jadi, pasti “ada apa-apanya” meski Bang Ridwan menolaknya. Apalagi momentum peluncuran buku itu memang sangat dekat dengan pelaksanaan pilpres 2009.

Lebih dari itu, benarkah bencana yang terjadi di hampir seluruh negeri kita ini patut ditimpakan kepada semata-mata pribadi individu hanya karena ia menyandang beban sebagai seorang manusia yang bernama Soesilo Bambang Yudhoyono? Sungguh tidak benar! Selain tidak benar dan jauh dari pikiran logis, tentu saja hal seperti itu tidak adil!

Maka sungguh bijak bila kemudian Presiden SBY sebagai sasaran bidik dalam buku itu sama sekali tidak menanggapi “ulah” Bang Ridwan. SBY tetap fokus dan melenggang dengan niat dan tujuannya untuk kembali memimpin bangsa Indonesia melalui pemilu presiden yang demokratis. Memang beberapa orang di lingkar dalam Presiden SBY sempat terpancing, tapi hal itu tidak berlangsung lama.

Namun, belum lagi lagi dilantik sebagai Presiden untuk masa jabatan kedua kalinya, saya seperti terlecut oleh perilaku politik SBY. Seperti dilaporkan situs detik.com, di hadapan para mahasiswa dan akademisi di Universitas Harvard, AS, Presiden SBY sempat mengungkapkan angka keramat dan angka keberuntungannya, yaitu angka 9 di tengah paparannya mengenai hubungan Islam dan Barat (30/9).

Saya jadi bingung, apa sebenarnya yang dimaui Presiden SBY? Bukankah selama ini ia dikenal tidak percaya klenik? Pangkat jendral serta gelar master dan doktor pertanian semestinya menjauhkan dirinya dari persoalan klenik itu. Memang benar ia lahir tanggal 9 bulan 9 dan tahun 49. Tapi, apa hubungannya angka 9-09-49 dengan keberuntungan yang selama ini diyakininya hingga berhasil menjabat sebagai pemimpin tertinggi di tanah Khatulistiwa ini?

Satu hari sesudah SBY mengungkapkan angka keberuntungannya di hadapan para cendekiawan Universitas Harvard itu, tiba-tiba bencana gempa yang mengerikan menimpa masyarakat Padang Pariaman, Sumatra Barat. Saya benar-benar ingin menghilangkan pikiran subjektif saya tentang SBY, bencana, dan persoalan klenik itu! Tapi, sungguh sangat teramat sulit karena SBY sendiri telah memulainya dengan perkataannya tentang angka keramat 9.

Saya jadi berpikir, kalau seperti ini, keberuntungan apa yang didapat rakyat Indonesia dari seorang presiden yang selalu yakin dan percaya dinaungi oleh “dewi” keberuntungan? Maka kini saya mengerti, saya memang harus mencari dan membaca buku karya Bang Ridwan Bencana Bersama SBY yang menghebohkan itu! * * *

Sumber gambar: http://www.beritajakarta.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: