MENG-KLENIK-KAN BENCANA? (2)

gempa. www.indonesia-ottawa.orgSebuah pesan pendek nyangkut di telepon saku saya. Semalam, sekitar pukul satu dinihari (5/10). Untung saya belum lagi menuju ke peraduan untuk menutup mata. Saya masih duduk terkantuk-kantuk di depan layar komputer yang menyala.

Ustadz Syatori Abdurrouf! Guru, sahabat, dan pengasuh serta pemimpin pondok pesantren mahasiswa khusus akhwat Daarus Shalihat, Yogyakarta. Mata saya langsung membulat. Saya pencet tombol telepon saku saya dan saya baca pesannya. Hati saya tergetar tiba-tiba.

“Subhanallah… Gmpa1 di Padang trjd jam (17:16), gmpa 2 jam (17:58), gmpa 3 jam (08:51). Trjd tgl (30:9). Bukalah Qur’an dan renungkan ayat2 di atas. Allahu Akbar….”

Bagaimana saya mesti memaknai pesan dari ustadz yang sangat saya hormati dan sayangi itu? Hanya satu jalan! Saya yakin, hanya satu jalan. Melaksanakan pesannya itu. Maka saya segera mengambil kitab suci Al Qur’an dari rak almari buku. Saya buka ayat-ayat yang ditunjukkannya. Saya coba renungkan isinya.

Saya kini paham. Amat paham. Dua ayat pertama Al Qur’an secara lugas berkisah tentang kehancuran sebuah negeri yang disebabkan oleh tingkah polah orang-orang “elit” di negeri tersebut. Sedangkan, dua ayat yang terakhir berupa penegasan Allah bahwa kehancuran negeri itu bukan semata campur tangan Allah, melainkan kesalahan para “elit” itu sendiri.

Saya meyakini ayat-ayat Al Qur’an yang ditunjukkan Ustadz Syatori. Saya tidak pernah meragukannya. Sekali saya meragukannya, maka klaim saya sebagai seorang muslim tentu akan gugur selamanya. Namun, haruskah saya meyakini informasi “kebetulan” antara waktu gempa di Padang dan bunyi ayat-ayat Al Qur’an itu? Apakah Ustadz Syatori tidak telah bertindak meng-klenik-kan bencana gempa dengan metode othak-athik gathuk seperti layaknya orang Jawa biasa lakukan?

Saya sangat mengenal Ustadz Syatori. Akhlaknya jauh dari tercela. Bertahun-tahun saya bersahabat dengannya. Dekat. Sangat dekat malah. Karena setiap hari saya selalu bertemu dengannya. Bahkan ia pernah saya ajak ke kampung saya di Banjarnegara untuk sekadar bermain dan bersilaturahim.

Pribadi Ustadz Syatori sangat santun. Bicaranya lembut dan jauh dari meledak-ledak. Jarang sekali ia menunjukkan sikap emosionalnya. Emosi yang paling kentara justru saat ia menitikkan air mata ketika menjadi imam sholat. Meski demikian, bukan berarti ia tidak mampu marah. Sekali saya pernah melihat ia marah. Benar marah! Ia marah kepada seorang teman yang mencap perempuan berjilbab dengan julukan yang menghina.

Ustadz Syatori memang pribadi yang istimewa. Itu bagi saya. Sejak mahasiswa ia sudah menjadi ustadz dalam pengertian ustadz yang sebenarnya. Hari-harinya lebih banyak dipenuhi dengan kegiatan dakwah dan tholabul ‘ilmi. Selain mengajar di Mahad ad’ Dakwah yang ada Masjid Mardiyah, Ustadz Syatori juga mengisi waktunya dengan berceramah dari satu masjid ke masjid lain di sekitaran kota Yogyakarta.

Saya yakin seyakin yakinnya bahwa Ustadz Syatori tidak mungkin percaya ilmu klenik dan semacamnya. Kalaupun ada ustadz yang percaya ilmu semacam itu dan bahkan menguasai dan mempraktikannya, Ustadz Syatori bukan jenis ustadz yang seperti itu. Lalu, bagaimana saya sebaiknya membaca dan memahami informasi yang bernada “kebetulan” itu?

Ustadz Syatori mengajarkan saya bahwa tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan di alam ini. Tuhan telah mengaturnya sedemikian rupa dalam satu konsep yang disebut sunatullah. Kalaupun terjadi peristiwa yang dipandang “kebetulan”, maka manusialah yang sebenarnya keliru dalam memandangnya. Sebab Tuhan tidak pernah keliru! Sebab Tuhan tidak pernah mengenal konsep “kebetulan”!

Maka saya paham, kenapa Ustadz Syatori mengirim saya pesan seperti itu. Karena, ia memang ingin menerangkan kabar kepada saya bahwa pada setiap kejadian di alam raya ini selalu saja ada pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir. Pelajaran itu kadang terbuka, tapi tak jarang “tersembunyi”. Pelajaran itu kadang mudah tersibak, tapi tak jarang tersimpan begitu lama. Itulah ibroh. * * *

Sumber Gambar: http://www.indonesia-ottawa.org

2 Responses

  1. Saya juga pernah membaca sms itu Mas Sigit.
    Sok tahu amat sih pengirim SMS itu. Di antara korban gempa yang 600 itu ada bayi, balita, orangtua dan orang-orang baik yang menjadi korban.

    Sedih sekali rasanya, setelah rumah hancur..rata dengan tanah, saudara-saudara terluka dan mengalami trauma eh dikirimi SMS ngaco pula lagi….

    Semoga Bapak Syatori itu mau kembali ke jalan yang benar dan memperbaiki diri…jangan menganggap diri sendiri selalu benar dan orang lain selalu sebagai “pendosa”.

  2. yang namanya manusia tempat salah dan lupa…tidak ada yang sempurna..walaupun seorang ustad sekalipun tidak terlepas dari itu…makanya kita boleh taklid buta pada seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: