PAK BOED, BICARALAH….

Nong Darol Mahmada yang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Freedom InstitutePak Bud mengabarkan berita gembira pada status jejaring sosialnya. Ia menuliskan, bahwa kini telah hadir situs http://www.boedionomendengar.com. Tak pelak, puluhan orang kemudian menanggapi kabar itu.

Saya tidak berniat menilai bagaimana reaksi orang-orang yang demikian kritis dan tajam terhadap berita yang dibawa sang aktivis. Saya paham kenapa mereka sepertinya “marah”. Sebab, sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), Boediono kini sedang terbelit kasus Bank Century yang menghebohkan itu. Tidak main-main, ia dituduh sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas bail out senilai Rp. 6, 7 trilyun itu bersama Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

Meski demikian, saya berusaha memahami posisi Nong Darol sebagai orang yang berada pada lingkaran dalam Boediono, sang wakil presiden terpilih periode 2009-2014 mendampingi Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Secara tersirat Nong seolah ingin menyampaikan bahwa bila ada uneg-uneg tentang segala persoalan bangsa, sampaikan saja melalui situs itu. Boediono pasti dan akan siap mendengar.

Boediono tidak lagi perlu mendengar, itu pendapat saya. Sudah cukup waktu baginya untuk mendengar suara-suara yang bertalu-talu dan memekakkan telinga selama ini dari para politisi, ekonom, pengamat politik, ahli hukum, dan bahkan rakyat kebanyakan. Kini, tiba saatnya bagi Boediono untuk berbicara secara jujur dan gamblang kepada publik agar segala gosip tentang dirinya menjadi terang seterang terangnya.

Maka yang harusnya ada bukanlah http://www.boedionomendengar.com melainkan http://www.boedionobicara.com. Tapi, kenapa mesti http://www.boedionobicara.com?

Pertama, sesuai namanya, situs itu akan mampu membersihkan integritas nama Boediono yang terlanjur “cemar” oleh opini publik dalam kasus-kasus yang belum terbukti kebenarannya semacam bail out Bank Century, BLBI, ataupun tuduhan penganut neoliberal. Situs itu diharapkan menjawab secara cerdas kedudukan, posisi, dan keterlibatan Boediono sehingga publik hanya akan berkata “Oh, Boediono memang bersih….”

Kedua, situs ini akan mampu mengubah citra diri Boediono sebagai ekonom murni menjadi negarawan par-excellent dalam memahami rakyat, tidak semata urusan ekonomi. Boediono dinilai sebagai negarawan sejati karena ia fasih bicara tentang perdamaian, keamanan negara, atau nasionalisme setara dengan masalah indikator makro dan pertumbuhan ekonomi, kemiskinan rakyat, atau pemerataan pembangunan.

Ketiga, rakyat sudah teramat paham dengan Boediono yang lebih banyak mendengar. Sebagai medium komunikasi, sekarang saatnya rakyat mendengarkan Boediono bicara pada situs tersebut. Tentang apa saja! Bukankah selama ini Boediono adalah salah satu figur pejabat yang “miskin” dalam pemberitaan tentang pernak-pernik kehidupannya sehingga hampir-hampir publik tidak terlalu mengenal selain jabatan yang dipegangnya?

Saya sadar, publik -seperti saya- tidak bisa memaksa Boediono untuk bicara sejujur-jujurnya. Publik tidak akan mungkin menerima “ketelanjangan” seorang Boediono. Apalagi citra yang tergambar pada sosok Boediono selama ini memang jauh dari banyak bicara. Boediono lebih dikenal sebagai figur yang pendiam dan santun, lembut dan ramah. Kehidupannya pun jauh dari gemerlap seorang pejabat.

Boediono mungkin tak beda dengan tipikal figur pemimpin-pemimpin masa lalu, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX atau Moh. Hatta. Mereka adalah figur pemimpin yang lebih banyak “diam” dibanding “bicara”. Namun, jika melihat situasi dan kondisi yang dialami Boediono seperti sekarang ini saya yakin, jika yang berdiri di sana adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX atau Moh. Hatta, pasti mereka akan bicara sejujurnya.

Jadi, haruskah Boediono tetap kukuh untuk diam tidak bicara, sementara koleganya yang Deputi Gubernur BI Siti Fajriah tergolek lemah karena terserang stroke, seperti diwartakan jurnalis Rusdi Mathari. Konon, Siti Fajriah adalah orang yang menolak menandatangani dana bail out trilyunan rupiah bagi Bank Century itu yang justru kemudian diubah oleh Boediono.

Saya cinta dan sayang kepada Boediono yang berintegritas tinggi. Sebagai warga negara, saya tidak rela melihat Boediono berlari-lari dan ngumpet menghindar dari kejaran wartawan hanya karena ia tidak pernah mau bicara tentang kasus yang menimpa dirinya. Maka, Pak Boed, bicaralah….* * *

Sumber gambar: http://www.sripoku.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: