NO BEL(L) (TO) OBAMA

ObamaKonon, pada Desember tahun 1925, di hadapan Komite Nobel dan para undangan pada malam pemberian penghargaan Nobel kategori sastra untuk dirinya, Bernard Shaw berucap seperti ini.

“Aku bisa memaafkan Alfred Nobel atas penemuan dinamit, tapi hanya iblis dalam sosok manusia yang bisa menerima hadiah Nobel.”

Berkaca pada pernyataan Shaw tadi, apakah ini berarti sastrawan besar Inggris itu adalah juga iblis dalam sosok manusia karena ia pun mau menerima hadiah Nobel kategori sastra untuk tahun 1925? Entahlah! Shaw memang menerima penghargaan itu, tapi ia menolak pemberian uang yang mengiringi penghargaan Nobel Sastra atas dirinya.

Bernard Shaw tidak sendirian. Di kemudian hari ada pula tokoh yang mengikuti jejaknya, bahkan lebih tegas lagi. Mereka tidak hanya menolak uangnya, tapi sekaligus juga penghargaan Nobel itu. Tokoh Perang Vietnam, Le Duc Tho dan intelektual paripurna Prancis, Jean-Paul Sartre adalah dua orang yang menolak pemberian penghargaan prestisius dunia itu.

Le Duc Tho yang diberi Nobel Perdamaian tahun 1973 bersama Henry Kissinger atas jasa-jasanya dalam menciptakan perdamaian di Vietnam menolak tegas dengan alasan negerinya belum merdeka secara penuh. Perdamaian Paris 1973 yang ditandatanganinya bersama Kissinger hanya sebuah awal, belum menjadi pemuncak. Vietnam masih tetap dilanda perang saudara meski upaya perdamaian sudah dilakukan.

Sartre menolak mentah-mentah penobatan dirinya atas hadiah Nobel Sastra. Intelektual yang hidup bersama dengan tokoh feminis Prancis Simone de Beauvoir itu beralasan ada figur lain yang lebih pantas menerima penghargaan Nobel sastra di tahun 1964 itu dibanding dirinya, yaitu Pablo Neruda. Pablo Neruda adalah sastrawan yang beraliran kiri asal Chile.

Akankah Presiden AS, Barack Obama yang telah ditetapkan sebagai penerima anugerah Nobel Perdamaian tahun 2009 akan mengikuti jejak Duc Tho atau Sartre untuk menolak penghargaan Nobel?

Tentu tidak! Karena Obama sudah menyatakan menerima penghargaan Nobel untuk dirinya itu dengan segala kerendahan hati. Memang, pemberian Nobel Perdamaian bagi Obama menyisakan kontroversi di dalamnya. Banyak kalangan menilai apa yang dilakukan Obama “belum berarti apa-apa” bagi dunia.

Obama belum mampu menyelesaikan masalah-masalah krusial di Afganistan, Irak, dan Iran. Kalaupun Obama sudah melakukan sesuatu dalam kebijakannya, hal itu hanya pada taraf memberi harapan kepada masyarakat dunia; belum memberi bukti-bukti yang nyata. Karenanya, masa jabatan presiden yang baru seumur jagung belumlah layak diganjar dengan penghargaan yang begitu tinggi dan terhormat.

Namun, Komite Nobel di Norwegia, Jumat (9/10) tetap memiliki keyakinan terhadap Obama. “Anak Menteng” itu dinilai amat berjasa atas upaya yang dianggap luar biasa dalam meningkatkan kekuatan diplomasi internasional dan kerja sama antar bangsa. Obama juga dipandang telah menjangkau seluruh komunitas dunia Muslim dan berupaya mencegah proliferasi nuklir sehingga dunia menjadi lebih aman dan beradab.

Harus diakui, sejarah panjang penghargaan Nobel merupakan sejarah panjang tentang perayaan kemenangan sebuah ideologi atas ideologi-ideologi lain. Sedangkan, cara pandang Komite Nobel adalah cara pandang masyarakat Barat pada umumnya yang borjuis kapitalis dan lekat dengan gagasan-gagasan liberalis yang sumir, tidak adil, dan cenderung berat sebelah.

Tidak akan pernah kita dapatkan sastrawan atau intelektual Uni Soviet yang komunis mendapatkan hadiah Nobel. Boris Pasternak si penulis Dr. Zhivago dan Alexander Solzhenitsyn sang pencetus karya agung Gulag Archipelago adalah sastrawan Uni Soviet yang justru menyerang kehidupan masyarakat di bawah rejim komunis hingga akhirnya mereka memperoleh penghargaan Nobel pada kategori sastra.

Pada kategori Nobel Perdamaian juga tidak jauh berbeda. Penghargaan Nobel yang dinilai lebih prestius dibanding kategori lain oleh banyak kalangan itu dipandang berat sebelah. Para pengritik dan “korban” kekejaman rezim yang anti Barat akan lebih diunggulkan dibanding para tokoh kemerdekaan dan kebebasan di negara-negara Barat sendiri.

Tokoh Sinn Fein (Irlandia Utara), Martin Mc Guinness ataupun tokoh masyarakat Basque (Spanyol) Arnaldo Otegi tidak akan mungkin mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian meski mereka nyata-nyata memperjuangkan kemerdekaan bagi negerinya. Komite Nobel lebih tertarik kepada Dalai Lama, Nelson Mandela, atau bahkan Jose Ramos Horta.

Maka, penghargaan terhadap Obama semakin memberi keyakinan kepada masyarakat dunia bahwa penilaian Komite Nobel tetap tidak mampu lepas dari pandangan dan keyakinan sosio-politik masyarakat Barat. Akademi Swedia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penganugerahan hadiah Nobel pantas disebut sebagai representasi dari keyakinan dan cara pandang itu! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: