ANTON APRIYANTONO; Selamat Datang Kembali

Dr. Ir. Anton Apriyantono

Dr. Ir. Anton Apriyantono

Saya menuliskan nama mantan Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) ini bukan semata-mata karena rumahnya berdekatan, tinggal dalam satu kompleks, atau bahkan bertetangga dengan saya di Bogor. Bukan pula semata-mata karena keberhasilan sektor pertanian di negeri kita saat Departemen Pertanian ada di bawah kendali tangannya.

Lebih dari itu! Bagi saya, menyebut nama Dr. Ir. Anton Apriyantono tak bisa lepas dari figur yang sederhana dan santun, bersih dan lurus, pekerja keras dan amanah. Sebagai manusia, Pak Anton niscaya tidak sempurna karena ia memang bukanlah seorang nabi yang selalu memperoleh petunjuk dari langit. Namun, kiprahnya selama ini dalam kapasitas sebagai Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) telah membuktikan integritas dan kapabilitasnya. Publik pun seolah dibuat terhenyak.

Sayang, figur yang demikian mumpuni itu harus tersisih dari “Cikeas Idol” yang digelar secara beruntun dan penuh sorotan kamera pers oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) terpilih Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono. Pak Anton “diminta” untuk berhenti meneruskan semua kiprah di sektor pertanian bangsa ini yang niscaya telah dibuat harum oleh peran dan kinerjanya. Ironis! Sungguh ironis!

Semua bermula dari PKS, partai yang menyodorkan nama Pak Anton bersama Adhyaksa Dault (Mennegpora) dan M. Yusuf Asy’ari (Menpera) ketika pertama kali masuk kabinet lima tahun lalu. Entah apa yang menjadi dasar pertimbangan dan penilaian tentang dirinya, PKS tiba-tiba tidak mengajukan nama Pak Anton untuk masuk pada KIB II. Publik pun tersentak! Padahal, Pak Anton telah menorehkan kesuksesan yang luar biasa dibanding dua menteri dari PKS tersebut, dan bahkan dari menteri-menteri KIB yang lain.

Sebagai contoh, lihat saja catatan yang dipublikasikan oleh BPS Per 3 Nopember 2008. Saat itu, BPS merilis angka ramalan (ARAM) III produksi pangan 2008 sebagai berikut: produksi padi nasional 2008 diperkirakan mencapai 60,28 juta ton GKG atau naik 5,46% dibanding produksi 2007. Produksi jagung mencapai 15,86 juta ton (naik 19,36%); produksi kedelai 761,21 robu ton (naik 28,47%).

Hal yang juga menggembirakan adalah kinerja ekspor pertanian. Selama periode Januari-September 2008, ekspor pertanian meningkat 42.64% dibanding periode yang sama di tahun 2007. Angka ini lebih tinggi dari capaian sektor industri dan sektor pertambangan. Puncak keberhasilan adalah ketika kita mampu berswasembada beras, mengulang kesuksesan swasembada beras tahun 1984 di era Soeharto.

Akan tetapi, di sinilah uniknya PKS sebagai partai politik dibanding partai-partai politik yang lain. Pada saat beberapa partai mengajukan nama-nama calon menteri yang “itu-itu” saja dan tanpa didukung barometer prestasi ataupun track record yang jelas, PKS justru mengajukan nama-nama calon menteri yang jauh dari “itu-itu saja”. Maka yang muncul adalah nama-nama, seperti Tifatul Sembiring (Presiden Partai), Suharna Surapranata (Ketua Majelis Pertimbangan Partai), Suswono (Anggota DPR RI), dan Salim Segaf al Jufrie (Dubes RI untuk Arab Saudi).

Figur sekelas Pak Anton yang terbukti sukses sebagai menteri, bahkan tidak diajukan lagi dan mesti menyerahkan kedudukannya itu untuk orang lain. Padahal, kecuali Tifatul Sembiring yang memang dikenal sebagai Presiden Partai, orang tidak mengenal kiprah ketiga orang tersebut, kecuali -mungkin- kader PKS sendiri, pengamat politik, pecinta PKS, atau orang-orang yang memang memiliki kepedulian terhadap partai dakwah itu.

Meski demikian, harus diakui, sejarah PKS memang sejarah sebuah partai yang tidak pernah kehabisan kader yang berintegritas tinggi dan profesional. Maka pribadi yang betapapun cerdas dan berpengaruhnya di PKS, mereka tetap dinilai bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bahkan ketika ia sudah membuktikan keandalannya sebagai kader. Masih ribuan bahkan ratusan ribu kader PKS yang menanti dan siap diuji di medan juang yang penuh variasi tantangan.

Tidak aneh bila orang-orang sekelas M. Anis Matta (Sekjen), Dr. Zulkieflimansyah, Mustafa Kamal, dan lain-lain masih berkutat dalam medan juang yang lain sebelum mereka diluncurkan bagai anak panah ke level yang lebih tinggi. Tidak ada kata lain bagi mereka, kecuali sami’na wa atho’na (saya dengar dan saya patuh). Segala keputusan yang berasal dari Majelis Syuro sebagai dewan tertinggi partai mesti ditaati dan dilaksanakan.

Jujur, saya bersimpati dengan Pak Anton. Hebatnya, Pak Anton bukanlah seorang yang ambisius. Ia paham siapa yang menugaskannya untuk masuk pemerintahan dan memegang amanah menjadi Menteri Pertanian dalam KIB I. Ia sadar dirinya hanyalah pilar kecil dari banyak pilar-pilar dalam sebuah sistem yang coba dibangun oleh PKS.

Maka ketika seusai perpisahan KIB I di Istana Merdeka (16/10/09), pers menanyakan bagaimana bila Presiden SBY menghendaki dirinya duduk kembali di kursi Menteri Pertanian melalui jalur profesional, lelaki bersahaja itu menukas pendek. “Oh, tidak bisa. Karena saya kan awalnya dari partai. Ya tetap harus dari partai.”

Saya tidak tahu harus bagaimana menilai Pak Anton. Rendah hati? Pasti! Gila jabatan? Tentu tidak! Lalu, apa? Saya sendiri tidak tahu. Namun, bila benar-benar Pak Anton tidak lagi masuk kabinet, saya hanya berucap singkat, “selamat datang kembali Pak Anton”. * * *

One Response

  1. Yg seperti ini lah yg seharusnya jdi pemimpin qt
    http://berita-aneh.blogspot.com/2010/07/menteri-termiskin-di-kib.html
    Knp gak di jadikan capres aja ya, syg sekali hiks….hiks…😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: