PEMIMPIN LEWAT, RAKYAT PUN MENGUMPAT

Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar kabar di pagi hari ratusan orangmacet mengumpat dan marah akibat jalan tol tempat mereka lewat disterilkan oleh patroli polisi dan petugas keamanan lain demi acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI yang baru?

Akibat jalanan disterilkan petugas keamanan, para pengguna jalan tol itu terjebak macet total selama berjam-jam. Mereka tak bisa maju atau mundur. Mereka kehilangan waktu dan kesempatan. Para pengguna jalan itu baru bisa bergerak setelah rombongan yang membawa Presiden RI terpilih lewat untuk menuju Gedung MPR/DPR .

Saya tidak ingin mengajak Anda untuk berpikir tentang pihak yang “bersalah” atas peristiwa itu. Anda boleh berpendapat bahwa rombongan Presiden telah bertindak keterlaluan karena tidak menghargai rakyat sebagai pengguna jalan. Jika Presiden cukup arif dan bijak, ia pasti akan memerintahkan protokoler untuk segera bertindak agar rakyat tidak terjebak macet. Mosok gara-gara dirinya lewat, rakyat mesti tertimpa kerugian.

Anda juga boleh berpendapat bahwa petugas keamanan adalah pihak yang paling pantas disalahkan. Para petugas keamanan seperti tidak pernah mampu memetik pelajaran dari peristiwa yang sama. Bukankah kemacetan yang disebabkan kehadiran para pemimpin yang lewat sudah terjadi ribuan kali? Kalau sudah sering terjadi kenapa tidak dibuat protokoler yang baku agar setiap pemimpin lewat di jalanan, rakyat tidak menderita kerugian?

Anda bisa berpendapat para pengguna jalan tol yang notanebe adalah rakyat telah bertindak tidak pantas terhadap para pemimpinnya. Mereka sudah tidak menghargai kerja keras pemimpinnya. Kenapa sih mereka tidak ikhlas memberi jalan kepada para pemimpin untuk menyusuri jalanan nan lengang yang telah disterilkan? Bukankah ujung “kerugian” ini adalah kesejahteraan bagi rakyat itu sendiri?

Lepas dari semua itu, saya hanya ingin mengajak Anda untuk sejenak menelusuri cerita kakek saya. Kakek saya yang sudah almarhum dan mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sehingga hidupnya kerap berpindah dari satu kota ke kota lain, pernah bercerita seperti ini.

Dulu, katanya, ribuan orang akan datang berduyun-duyun menyambut dengan suka cita bila ada seorang pemimpin yang berkunjung ke tempat mereka. Tua-muda, besar-kecil, lelaki-perempuan, anak-anak-orang tua; semua menyambut kedatangan sang pemimpin itu dengan kegembiraan yang murni. Pemimpin dan rakyat seolah tidak berjarak.

Di jalanan rakyat berdesak-desakan melihat para pemimpinnya. Menyambut pemimpin bagi mereka seolah menyambut sebuah harapan yang sebentar lagi datang. Mereka rela berpeluh dan didera rasa lelah tak terperi. Mereka tak henti-hentinya bersorak, bertepuk tangan, dan tertawa gembira. Jiwa mereka begitu damai seperti dipeluk keluasan dan kedalaman hati sang pemimpin.

Bung karno 2Sukarno datang, rakyat menyambut senang. Hatta lewat, rakyat hormat penuh khidmat. Sjahrir muncul, rakyat berlari membawa umbul-umbul. Semua datang tidak karena dipaksa atau terpaksa. Mereka datang atas nama kesadaran. Ya, rakyat datang karena kesadaran cinta! Mereka telah memberikan cinta dengan sepenuh jiwa kepada para pemimpinnya.

Sebaliknya, sang pemimpin sadar betul apa yang diinginkan dan dimaui rakyat. Rakyat niscaya tidak pernah meminta secara berlebih kepada para pemimpinnya. Rakyat tahu, sang pemimpin adalah juga manusia yang memiliki keterbatasan sebagaimana diri mereka sendiri. Karenanya, yang diminta rakyat dari pemimpinnya adalah kehidupan yang tidak jauh berbeda antara diri mereka dan pemimpinnya itu.

Andai rakyat hidup berlebih, maka boleh saja sang pemimpin hidup berlebih. Jika rakyat cinta dengan kesederhanaan, maka selayaknya pemimpin juga melakukan hal yang sama. Bila kita memang tidak punya apa-apa, tentu rakyat rela hidup miskin andai para pemimpinnya juga hidup dalam serba kekurangan.

Rakyat akan begitu terluka bila para pemimpin hidup bak di atas langit sehingga hanya mampu memandang dari atas derita rakyat, tanpa mau turun ke bumi. Rakyat akan marah jika para pemimpin lalai terhadap nasib hidup dan kehidupan rakyat karena mereka hanya peka terhadap kehidupan mereka sendiri.

Maka, kalau di masa kini, para pemimpin lewat tapi justru rakyat malah mengumpat, apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini? Tiba-tiba saya berpikir, ah jangan-jangan ini semua gara-gara sang pemimpin sengaja berjarak dan tidak mampu membuat rakyat yang dipimpinnya itu “tersenyum”. * * *

Sumber gambar: http://www.wartakota.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: