MERAYAKAN JABATAN

Lihat pengumuman anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II di televisikursi semalam (21/10)? Lucu ya. Halah, kok lucu! Apanya yang lucu? Lucu aja melihat tingkah polah orang-orang yang terpilih menjadi menteri dan mesti mengisi jabatan pada pos-pos yang telah ditentukan di kabinet. Banyak ragam soalnya, khas “bangsa manusia”.

Ada yang didera rasa haru sehingga tanpa sadar meneteskan air mata. Ada yang langsung sujud syukur sebagai pertanda ketundukan terhadap Sang Maha Tinggi. Ada yang memeluk dan dipeluk anggota keluarganya sebagai simbol dukungan dan ungkapan kasih sayang. Ada yang tertawa gembira dan langsung mengajak teman-temannya makan malam. Ada pula yang biasa-biasa saja, hanya senyum sejenak lalu biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

Saya melihat pesan yang disuguhkan dalam drama pengumuman kabinet itu hanya satu. Kebahagiaan! Ya, mensyukuri kebahagiaan yang datang! Bagaimanapun ragam reaksinya, orang-orang itu telah menunjukkan sisi yang paling sublim dari seorang manusia dalam memandang sebuah jabatan, yakni mensyukuri kebahagiaan yang tak terperi. Manusiawi? Tentu, sebab jabatan tinggi adalah wujud lain dari sebuah tapak keberhasilan karir dan kerja keras seseorang.

Rekam jejak yang ditapaki seseorang memang menunjukkan seperti itu. Untuk menduduki jabatan menteri tidak sembarang orang mampu melakukannya. Seseorang yang berasal dari “rimba antah berantah” tidak mungkin tiba-tiba langsung jleg menduduki jabatan itu. Bukan hanya lingkup internal yang tidak akan menerimanya, publik pun akan meneriakinya secara keras. Woooiiii!!!!

Orang memerlukan waktu bertahun-tahun, tenaga berlipat-lipat, dan bahkan biaya tak terhingga untuk mencapai kedudukan dan jabatan yang tinggi. Tak hanya itu! Ia bahkan rela jatuh bangun, terdepak dan terhempas, menjadi korban sodok-menyodok, atau bahkan ia pun terlibat dalam sodok menyodok yang super keras itu. Dan ia mampu survive karena survive inilah yang menjadi pertanda kesuksesan dirinya dalam proses seleksi alamiah kepemimpinan.

Maka jangan merasa aneh jika ada sementara orang yang memandang jabatan sebagai kehormatan. Kenapa demikian? Karena hanya orang-orang yang sedikit yang mampu menduduki sebuah jabatan. Selebihnya, kebanyakan orang tidak mampu alias tidak memiliki kelebihan yang pantas untuk ditonjolkan demi sebuah jabatan. Mereka lebih suka duduk atau berdiri di “belakang”, mengikuti seseorang yang berada di “depan”.

Alhasil, menduduki sebuah jabatan tinggi tak ayal berarti menjadi orang yang terhormat. Mereka niscaya merasa berbeda dari massa kebanyakan yang jauh dari terhormat. Materi yang berlebih, penghormatan dari orang lain, dan fasilitas kemudahan adalah perangkat nilai yang membuat seseorang disebut terhormat karena jabatannya itu. Bukankah memang benar begitu?

Terus terang, saya sebenarnya tidak terlalu merindukan orang yang “mensyukuri kebahagiaan” saat sebuah jabatan tinggi sekaliber menteri datang kepadanya. Dalam konteks jabatan tinggi, saya malah begitu merindukan “orang yang takut”. Bener! Orang yang takut! Orang yang takut terhadap jabatan yang mampir kepadanya. Saking takutnya, ia menangis sesenggukan karena ingat akan beban berat dan pertanggungjawaban kelak.

Adakah itu? Rasa-rasanya, hingga kini saya belum melihat dan menemukannya. Entah karena minimnya informasi yang saya terima atau memang karena kebodohan saya. Namun, berita-berita yang terhampar di media massa kita memang lebih banyak orang yang “bersyukur” dan “bahagia” terhadap jabatan menteri yang telah diberikan kepadanya.

Saya paham implikasi dari orang yang bersyukur. Orang yang bersyukur kebanyakan akan memandang jabatan sebagai anugerah. Maka yang muncul secara beriringan dari rasa syukur biasanya adalah harapan. Harapan terhadap materi yang bakal diterima. Harapan terhadap penghormatan yang akan diberikan. Harapan terhadap segala fasilitas kemudahan secara otomatis yang bisa dimintakan.

Harapan bekerja demi rakyat yang menderita?

Ah, jauh! Harapan seperti itu hanya dimiliki oleh “orang-orang yang takut”. Jadi, mana yang mesti dipilih, orang yang takut atau orang yang bersyukur? Jujur, kali ini saya lebih memilih orang yang takut! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: