IBU NEGARA (FIRST LADY) DI PANGGUNG KEKUASAAN

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang pejabat tinggifirst lady pada lingkungan sebuah departemen di negeri ini. Saya tahu pejabat itu dikenal sangat dekat dengan salah seorang menteri yang duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I. Selain karena sama-sama berasal dari satu daerah dan pernah satu sekolah, pejabat tinggi itu juga menjadi bawahan sang menteri di tempat kerjanya.

Saya diterima ramah oleh istrinya dengan suguhan teh panas, kue, dan empek-empek yang dikirim bawahannya di Palembang, Sumatera Selatan. Rupanya, pejabat tinggi itu tidak berada di rumah pada malam itu. Mendadak ia dipanggil Bapak, kata istrinya. Saya paham, “Bapak” yang dimaksud adalah sang menteri. Istrinya itu kemudian bercerita panjang lebar.

Sejak menjelang pengumuman kabinet, suaminya selalu diminta untuk mendampingi Bapak di rumahnya. Dari sore hari seusai jam pulang kantor hingga tengah malam. Bahkan kabar akan tetap duduknya Bapak dalam KIB II karena telah diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga telah didengarnya dari sang suami. Sayang, jabatan menteri itu gagal kembali digenggamnya. Ia harus rela melepasnya di detik-detik akhir.

Saya manggut-manggut mendengar ceritanya. Iseng-iseng saya bertanya, kok bisa sih sampai gagal bila sudah nyata-nyata akan jadi menteri lagi. Ibu pejabat itu terdiam sejenak. Lalu, jawab istri pejabat itu, ini karena Ibu Menteri tidak bisa gaul sehingga Ibu Ani Yudhoyono menolaknya. Coba kalau Ibu Menteri itu bisa bergaul akrab dengan Ibu Ani, pasti Bapak tetap jadi menteri lagi.

Saya termangu mendengar alasan ibu pejabat yang ada di hadapan saya itu. Kesan pertama yang terlintas di benak saya setelah mendengar ceritanya adalah ah gosip! Kalau gagal ya gagal. Kalau sudah tidak dipakai yang tidak dipakai. Jangan mencari dalih-dalih yang sesungguhnya tidak masuk akal untuk menjustifikasi ketidakmampuan diri. Saya tidak percaya cerita ibu pejabat tadi.

Saya berusaha melupakan ceritanya. Tapi, saya ternyata tidak bisa dan tidak kuasa. Di mobil, sepanjang perjalanan pulang, cerita ibu pejabat tadi bergema terus di telinga dan otak saya. Tanpa mampu saya cegah. Tidak hanya itu, dalam bayangan saya tiba-tiba muncul gambaran tentang Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Tien Soeharto, Hillary Clinton, Evita Peron, Carla Bruni, dan ibu negara (first lady) lain yang sedang dan pernah menghiasi lembaran sejarah dunia.

Sungguh, saya sangat mengapresiasi peran dan pengaruh mereka, para ibu negara itu. Saya bahkan yakin dengan diktum bahwa, kesuksesan dan ketidaksuksesan seseorang menjadi presiden juga ditentukan oleh peran dan pengaruh ibu negara. Memang peran itu seringkali “tersembunyi” dan bahkan kadang tak terlihat dan tak kentara. Namun, karena “tersembunyi” itulah para analis politik kerap mengabaikan pengaruh seorang ibu negara dalam perjalanan politik suaminya.

Saya tidak tahu kenapa para analis ilmu sosial sering mengabaikan peran ibu negara itu dalam panggung kekuasaan yang niscaya teramat penting. Apakah ibu negara hanya sekadar pelengkap penderita dari suaminya yang sedang menjabat seorang presiden? Apakah ibu negara dinilai tidak cukup penting bagi perjalanan karir seorang presiden? Atau jangan-jangan ranah ilmu sosial tidak memiliki pisau analisis yang cukup untuk mengorek kedalaman pengaruh seorang ibu negara?

Sejarah mencatat, Hillary Clinton merupakan benteng yang kokoh bagi pertahanan Bill Clinton. Kecakapan dan kecerdasan, pengalaman dan studinya lebih dari cukup untuk mendampingi sepak terjang suaminya dalam pentas politik AS. Hillary tak cuma mahir sebagai pendamping, tetapi juga fasih sebagai pelopor.

Saat “goyangan” pegawai kontrak Gedung Putih, Monica Lewinsky mampu menggetarkan publik AS, goyangan itu nyatanya tak cukup untuk merubuhkan pondasi perkawinan Bill dan Hillary. Bahkan Hillary kemudian tampil di depan untuk meminta maaf sekaligus memaafkan perilaku suaminya sehingga publik AS pun bersimpati dan berempati. Dampaknya, Presiden Bill Clinton lolos dari jerat impeachment.

Soeharto begitu mencengkeram kuat kekuasaannya. Tapi, kebanyakan analis politik melihat kekuasaan Soeharto pada titik keberhasilannya merangkul kalangan militer yang ditopang Golkar. Hanya sedikit kalangan menyentuh pengaruh Ibu Tien sebagai efek paling dalam dari kekuasaan Soeharto. Padahal, dalam buku Pak Harto: Ucapan, Pikiran, dan Tindakan Saya (1986), ia menyebut Ibu Tien sebagai “perempuan yang tidak tergantikan”.

Ketika Ibu Tien meninggal dunia pada April 1996, hanya sedikit kalangan yang memperkirakan akhir kekuasaan Pak Harto telah tiba. Kekuasaan Pak Harto dinilai mulai pudar dan susut seiring meninggalnya Ibu Tien Soeharto. Benar, Mei 1998 Pak Harto tumbang. Tapi, tidak ada yang mencoba menganalisis bahwa tumbangnya Pak Harto salah satunya dikarenakan hilangnya orang yang sangat dipercayainya, yaitu Ibu Tien Soeharto.

Carla Bruni adalah bintang pop dan supermodel yang keterkenalannya telah melampaui bata-batas negara. Orang lebih mengenal Bruni dibanding suaminya Nicolas Sarkozy yang Presiden Prancis. Menurut The Christian Science Monitor, para editor di Perancis berusaha keras untuk menarik garis pemisah antara Bruni sebagai selebriti dan sebagai ibu negara. Namun, itu sulit dilakukan.

Bruni tahu itu. Maka ia terus memainkan pengaruhnya untuk mendongkrak popularitas Sarkozy. Sebisa mungkin dengan caranya! Terakhir, ia menyiapkan CD, Comme si de rien n’etait’ . Dalam salah satu lagunya, ”Tu es ma came”, Bruni menggambarkan Sarkozy sebagai ”Lebih mematikan dibandingkan heroin Afganistan, lebih berbahaya dibandingkan kokain Kolombia….”

Ibu negara, harus diakui, memang menjangkau peran yang vital dan kadang tidak terduga. Hillary memainkan ibu negara layaknya benteng yang kokoh, bahkan dalam kehidupan pribadi sang suami. Ibu Tien Soeharto berperan serupa perempuan paling dipercaya yang tak akan mungkin mengkhianati suaminya. Bruni menghentak suara publik agar publik tetap menoleh keberadaan suaminya sebagai tokoh di Prancis.

Maka saya tidak bisa menebak validitas cerita yang dikisahkah ibu pejabat tinggi tadi. Namun, saya percaya hal itu bisa terjadi dan bisa pula tidak terjadi. Bukankah Ibu Ani Yudhoyono pernah mengakui bahwa dirinya adalah mitra yang berfungsi sebagai mata dan telinga bagi sang suami, Presiden SBY.

“Kalau saya diminta menjadi mitra, suatu saat suami ingin mendengar masukan-masukan dari saya, tentu akan saya berikan. Tetapi, keputusan tetap ada di tangan Bapak,” kata Ibu Ani Yudhoyono. (http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id). Nah lho!* * *

Sumber gambar: www. zazzle.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: