MASIHKAH KITA BERSUMPAH SEPERTI PEMUDA KITA DAHULU BERSUMPAH?

sumpah-pemuda-indonesia-ipnu1Gagasan mengenai pentingnya memahami kembali makna kebangsaan selalu muncul saat sebuah bangsa mengalami krisis. Bisa dipahami, karena krisis kerap menyebabkan hilangnya elan vital bangsa itu dalam menghadapi tantangan ke depan. Upaya menggali monumen peristiwa di masa lalu terus dilakukan sambil berharap monumen itu dapat memberikan inspirasi yang menggugah semangat untuk bangkit.

Memang tidak selalu berhasil, tetapi upaya penggalian monumen masa lalu merupakan model yang efektif dalam memunculkan imajinasi kolektif pada tataran kesadaran. Perlu diingat, kesadaran sekelompok kecil masyarakat tidak selalu berfungsi strategis dalam pembentukan pergerakan sosial dan kebangsaan. Selamanya dibutuhkan kolektivitas lapisan masyarakat bagi tercapainya cita-cita bersama.

Maka saat bangsa Indonesia dicabik berbagai macam krisis, berharap adanya “tuah” kesadaran dari monumen peristiwa di masa lalu cukup bisa dimengerti. Namun, tuah itu tidak dengan sendirinya muncul. Tuah dapat segera muncul bila sandaran yang digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran masyarakat adalah fakta, bukan mitos.

Imaji Kolektif
Setiap sumpah yang digagas dan dicetuskan elemen kebangsaan akan berfungsi efektif dalam menciptakan sebuah “dunia imaji”. Dunia imaji itu berintikan serangkaian pesan semangat kekolektivan yang terbentuk setelah sumpah itu tersebar sebagai bagian dari daya dorong bangsa itu dalam menjelajahi tantangan-tantangan yang menghadang di depan.

“Sumpah” Soetomo di dalam organisasi Boedi Oetomo pada 1908 telah membuka jalan dalam menciptakan arah baru perjuangan dari sekedar perlawanan berbasis massal dan bersifat frontal kepada gagasan strategi politik yang terorganisir, rapi, dan mendalam. Sebaliknya, Kongres Pemuda II (26-27 Oktober 1928) yang menghasilkan Sumpah Pemuda telah menggerakkan elemen pemuda untuk melebur ke dalam konsepsi ke-Indonesia-an yang tunggal, tetapi sekaligus memberikan daya kenyal yang luar biasa dari tekanan keras pihak Belanda.

Secara politik, sumpah-sumpah yang dihasilkan itu berhasil karena mereka memainkan simbol-simbol yang muncul pada saat itu sebagai bagian dari bahasa pembebasan. Alhasil, pengibaran bendera merah putih, diperdengarkannya lagu “Indonesia Raya”, dan khidmatnya pengucapan Sumpah Pemuda menjadi medium yang membangkitkan imaji-imaji kolektif mengenai Indonesia yang merdeka dan bebas. Secara niscaya, rangkaian imaji-imaji itulah yang menimbulkan arus perlawanan kolektif dari rakyat.

Meski demikian, imaji kolektif tentang gagasan ke-Indonesia-an menjadi berarti karena didukung kesadaran bahwa makna Indonesia hanya mungkin diwujudkan bila setiap elemen pergerakan pemuda melepaskan atribut yang melekat pada dirinya, baik atribut sosial maupun kesukuan. Selain itu, mereka juga mesti merendahkan egonya masing-masing dari kepentingan-kepentingan yang mungkin timbul, bersamaan dengan persoalan yang tengah dihadapi organisasi pergerakan nasional.

Perihal inilah yang menjadi faktor hadirnya kepercayaan dari rakyat kebanyakan terhadap sumpah yang dilakukan kalangan pemuda terpelajar. Rakyat kebanyakan percaya kepada kelompok pemuda yang terpelajar itu karena para pemuda telah berhasil menyelesaikan problema utama dalam perjuangan, yakni mengikis agenda yang melilit pribadi mereka sendiri.

Agaknya, sumpah niscaya tidak hanya menjadi lambang hadirnya kesatuan pemahaman antara berbagai elemen pemuda terpelajar, tetapi juga antara pergerakan pemuda itu dan massa rakyat.

Sumpah Kini
Maka menjadi persoalan besar ketika berbagai macam sumpah yang dilakukan kalangan elit di masyarakat tidak mampu menghadirkan imaji-imaji kolektif pada benak rakyat kebanyakan. Alih-alih imaji kolektif yang membuat rakyat bergerak dan terus berjuang untuk memperbaiki diri; yang muncul pada rakyat justru sikap sinisme yang berkesinambungan terhadap mereka. Sebab bagaimana mungkin rakyat bisa percaya terhadap sumpah para elit di masyarakat jika untuk menangani kasus-kasus sosio-politik, seperti korupsi, mafia peradilan, atau lumpur Lapindo saja mereka tak mampu.

Dalam konteks ini, terputusnya relasi sosial-kultural yang terbangun di antara elit di masyarakat dan rakyat kebanyakan menjadi faktor utama yang membuat hilangnya imaji-imaji kolektif dalam setiap sumpah yang dikeluarkan elit di masyarakat. Relasi sosial-kultural terputus karena elit di masyarakat tidak berhasil memadamkan api egoisme yang menjalar kuat pada mereka. Bahkan mereka dengan sengaja mempertontonkan egoisme itu sebagai bagian dari dinamika berbangsa yang wajib diterima rakyat.

Maka tidak perlu heran jika kemudian rakyat malas untuk menjadikan setiap peristiwa ekonomi, politik, sosial, atau budaya sebagai sebuah inspirasi bagi mereka untuk berduyun-duyun mengorbankan diri demi bangsa ini. Bagi mereka, semua peristiwa itu hanyalah angin yang wajar bila ditanggapi dengan sikap apatis dan tanpa kesadaran untuk menjadi martir bagi bangsa.

Inilah yang niscaya membedakan sumpah dulu dan sumpah kini. Sumpah di masa lalu mampu membangkitkan imaji-imaji kolektif yang menggerakkan rakyat untuk berbondong-bondong bangkit dan mengadakan perlawanan karena sang pencetus sumpah, yakni golongan pemuda terpelajar memang orang-orang yang dapat dipercaya. Mereka adalah kelompok orang yang menjadi garda depan dalam penderitaan dan siap menanggung risiko perjuangan. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: