PAK PRESIDEN, TAKUTLAH DENGAN FACEBOOK DAN FACEBOOKERS!

icon_facebookMedio Januari 2001. Manila, Filipina. Ratusan ribu rakyat berduyun-duyun turun ke jalan menuntut agar Presiden Joseph “Erap” Estrada mundur dari jabatannya. Rakyat sudah muak dengan segala bentuk praktik korupsi-kolusi yang melanda para pejabat pemerintahan. Bahkan isu uang suap dari hasil perjudian telah menggempur habis-habisan Presiden yang mantan aktor terkenal itu.

People’s Power kembali terjadi. Sejarah revolusi tahun 1986 yang menumbangkan Ferdinand Marcos pun berulang! Rakyat berteriak keras, Turunkan Erap! Adili Erap! Mereka berdemonstrasi sambil membawa umbul-umbul dan spanduk bertuliskan protes keras. Tidak hanya itu, rakyat juga mengenakan pita hitam pada lengannya sebagai tanda keprihatinan dan kesedihan atas apa yang terjadi di bekas negeri jajahan Spanyol itu.

Rakyat Filipina tidak berkumpul atas dasar ketidaktahuan dan ketidakpahaman. Mereka turun ke jalan, berkumpul, dan berdemonstrasi seraya meneriakkan protes keras ke telinga penguasa karena mereka paham atas apa yang terjadi di tanah air mereka sendiri. Para pejabat sudah bebal. Mereka bertingkah korup bahkan hingga pucuk pimpinan tertinggi, yakni Presiden Estrada. Sejarah akhirnya mencatat Erap harus turun takhta dari kursi kepresidenan yang didudukinya.

Revolusi 2001 yang menggulingkan kekuasaan Presiden Joseph Estrada menghasilkan fenomena yang cukup unik. Rakyat turun ke jalan diaba-aba oleh gerakan sosial yang bertumpu pada medium komunikasi telepon seluler (HP). Mereka saling berbagi kabar dengan sms. Mereka saling menggerakkan dengan sms. Maka Revolusi 2001 di Filipina cepat sekali menemukan tujuannya karena terbantu oleh teknologi komunikasi tersebut.

Saya memahami bahwa setiap medium komunikasi memang bersifat massal. Di masa lalu orang menggunakan kentongan, api unggun, atau bahkan burung merpati untuk sekadar memberikan kabar. Rasa bahagia sebab perkawinan atau rasa sedih karena kematian selalu memerlukan kawan seiring. Agaknya, inilah yang menyebabkan kentongan, api unggun, atau burung merpati adalah juga pertanda.

Sebagai pertanda, medium komunikasi selalu melampaui batas-batas, baik batas geografi, suku bangsa, bahkan ideologis (Straubhaar:2004). Para pengguna mengenyampingkan semua batas itu demi maksud yang dikehendaki. Alhasil, medium komunikasi niscaya menyentuh aras kekerabatan sosial, keadilan hukum, dan persoalan politik. Para pengguna itu tak mungkin berhenti tanpa sebuah sebab masuk akal yang membuatnya bisa menghentikannya.

Apa artinya kehadiran program facebook yang berbasiskan teknologi internet dalam konteks medium komunikasi sebagai pertanda?

Sebagian besar pengguna facebook adalah orang-orang dari golongan terpelajar. Mereka adalah orang-orang yang melek teknologi, meskipun mungkin tidak sedikit yang berkemampuan terbatas. Tidak menjadi persoalan. Toh mereka mampu menjalankan dan mempraktikkan teknologi komunikasi modern yang bernama internet, medium bagi para facebookers (julukan pengguna facebook) saling sapa dan berbagi.

Perlu diketahui, orang-orang dari golongan terpelajar jumlahnya selalu sedikit. Mereka bukanlah mayoritas dalam sekumpulan massa yang telah teridentifikasi. Mereka selalu menjadi minoritas. Namun, golongan terpelajar berbeda dari massa kebanyakan yang biasa disebut sebagai orang awam. Karena terpelajar mereka disebut sebagai kalangan intelektual yang melakoni hidupnya dengan segenap kekuatan nalar dan logika.

Sejarah sosial selalu dibuat oleh orang-orang yang sedikit! Dan orang-orang yang sedikit itu adalah golongan terpelajar yang niscaya merindukan perubahan! Mereka yang menggerakkan segalanya. Mereka menggerakkan perubahan sosial sebagai basis munculnya kemajuan sosial-ekonomi, kesadaran kemanusiaan, dan kekuataan karakter bangsa (Van Niel: 1984).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pasti sangat paham tentang hal itu. Tidak heran bila Presiden segera merespon kegelisahan dan kekecewaan masyarakat terhadap konflik Cicak-Buaya dengan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Bibit-Candra. Maksud dan tujuannya jelas. TPF bermanfaat sebagai peredam atas gejolak yang timbul di kalangan masyarakat terpelajar.

Facebook menjadi bukti. Keanggotaan dalam “1000.000 Facebookers Dukung Candra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto” yang telah mendekati angka target niscaya membuat Presiden SBY tergetar takut. Tentu, Presiden SBY tidak menginginkan golongan terpelajar di tanah air menggunakan facebook seperti halnya golongan terpelajar di Filipina memakai HP untuk ber-sms dalam menggerakkan Revolusi Januari 2001.

Namun, jangan remehkan facebook dan facebookers! Sebab facebook dan facebookers bisa-bisa memainkan peran yang lebih canggih dan tak terduga dibanding HP bila Presiden SBY gagal mengatasi persoalan kemelut hukum dalam kasus Candra-Bibit. Sifatnya yang masif menjadi kelebihannya. Jadi, inikah yang membuat Pak SBY begitu miris dengan facebook dan facebookers? Tapi, siapa bilang Pak SBY takut?!! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: