ANGGODO; Utusan yang Tega Berkhianat

Makhluk berwajah kera itu masih bersimpuh di depan singgasana raja.

anggodo (tjokrosuharto.com)

Anggodo

Gayanya tak berubah. Tengil, angkuh, seenak udelnya sendiri, jauh dari sopan santun. Anggodo. Ia seolah tak peduli bahwa yang duduk di hadapannya adalah seorang penguasa. Sri Rama, Raja Pancawati yang terkenal itu.

“Bagaimana Anggodo, setujukah kamu dengan keputusanku tadi?” tanya Maharaja Pancawati kepada ksatria kera tengil itu.

Anggodo menggaruk-garuk punggungnya. Mulutnya sudah hendak bicara. Tapi, ia ingat, bau arak masih ngendon dalam kerongkongannya. Ah, peduli amat, batin Anggodo, yang penting keinginanku harus disampaikan. Bahaya kalau tidak disampaikan.

“Terus-terang Baginda, saya tidak setuju dengan keputusan itu. Anoman bukanlah kstaria terbaik di antara ksatria-ksatria lain yang ada di sini! Tidak pantas ia menjadi utusan yang memimpin kami semua.”

Bau arak menyebar dari mulut Anggodo. Semua yang hadir merasakan aroma busuk darinya. Namun, mereka semua maklum akan perilaku Anggodo. Reputasinya sebagai ksatria yang berotak udang sudah terdengar ke seantero negeri. Belum lagi tingkahnya yang jauh dari sopan dan santun, suka mabuk-mabukan, brangasan, dan merasa paling hebat.

Sri Rama mengangguk-angguk. Namun, ia sudah mantap dengan keputusannya.

“Tidak apa-apa kalau kamu tidak setuju. Saya tetap berpendirian, Anoman yang pantas memimpin.”

Sri Rama bangkit dari singgasana. Ia berjalan menuju ruang keputren. Dari balik sudut matanya Anggodo menatap Raja yang dihormati rakyat Pancawati itu. Dadanya bergetar hebat. Giginya gemeretak. Rasa marah menyumbat dadanya. Terpendam dan terus dipendam. Hasratnya untuk memimpin pasukan utusan kandas sudah.

Anggodo tak pernah memadamkan rasa amarah dari hatinya. Ia terus memelihara rasa marah itu. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan tugas yang diberikan Sri Rama. Ia lebih memilih bercengkerama dengan Rahwana yang memuja-muja dirinya. Anggodo lupa mestinya ia memaksa Rahwana untuk menyerahkan Dewi Sinta.

“Sahabatku, aku adalah murid ayahmu. Aku belajar lama sekali kepadanya. Karena aku murid ayahmu, maka kita sebenarnya bersaudara. Ayahmu pasti menyesal jika kita harus bertikai hanya gara-gara seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, ” kata Rahwana dengan tutur kata halus. Hatinya menyembur kelicikan.

Anggodo menyimak penuh perhatian. Tapi, matanya tak lepas dari puluhan botol arak yang disuguhkan Rahwana kepadanya. Arak hebat! Arak mahal! Arak istimewa! Air liurnya meleleh sudah.

“Kau suka arak ini, sahabat. Ayo, minumlah. Nikmati sepuasnya!”

Anggodo tak tak tahan lagi. Ia segera mencengkeram botol arak itu dan menumpahkan semuanya ke mulutnya. Kerongkongan tersedak.

“Sahabat….,” Rahwana terus berujar penuh tipu. ” Aku belajar ilmu Aji Gineng Sokaweda dari ayahmu. Aku tidak pernah mencuri darinya. Bohong berita yang selama ini terdengar. Ayahmu memberikannya dengan sukarela. Ia bahkan memintaku untuk menjaga ilmu itu.”

Anggodo tak berhenti. Dan ia tak mau berhenti. Ia terus mengoyak isi botol minuman yang disuguhkan kepadanya.

“Apakah kau sudah menguasai ilmu itu, sahabat? Kalau belum suatu saat nanti pasti aku akan mengajarimu. Bagaimanapun juga ilmu yang aku miliki itu sejatinya adalah milikmu. Ayahmu hanya menitipkannya kepadaku.”

Anggodo mulai mabuk. Tubuhnya seolah hinggap di atas udara. Melayang.

“Ayahmu, Subali adalah seorang guru yang hebat. Ilmunya sulit ditandingi. Jiwanya penuh welas. Sayang, seseorang tega membunuh orang yang sama-sama kita hormati. Aku tidak tahu pasti bagaimana mungkin Sri Rama bisa berbuat sekeji itu terhadap ayahmu?!”

Brakk! Rahwana terkejut. Ia kaget. Amat kaget. Namun, kekagetan itu hilang berganti dengan senyuman yang mengembang setelah tahu Anggodo terkapar. Tak sadarkan diri. Mabuk.

Rahwana tertawa lebar. Penuh kemenangan. Sejak hari itu, ia tahu Anggodo telah menjadi sekutunya. Sejak hari itu pula, Sri Rama kehilangan Anggodo, seorang utusan yang tega berbuat khianat.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: