JANCUK! KAMPRET!! SIA!!!

“CANGAK SIA!!!”cartoon-bullying (ihatebullies.net

Kata-kata kasar keluar dari mulut anak saya. Umpatan tipikal orang Sunda. Kata-kata itu keluar setelah salah seorang temannya dengan sengaja menarik celana yang dikenakannya pada saat ia hendak menendang bola ke gawang lawan dalam sebuah permainan sepak bola. Teman-temannya tertawa riuh. Sore itu. Di lapangan di dekat rumah.

Sebagai orang tuanya, saya yang menyaksikan kejadian itu dari jauh benar-benar terpana. Oi, sejak kapan anak saya yang baru berputar di sekitaran usia 10 tahun mengenal kata-kata umpatan seperti itu?! Ah, tentu saja sejak ia mulai mengenal begitu banyak kawan sepermainan, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi, sudahlah. Semua anak pasti akan mengalami episode pengenalan kata-kata yang “unik” semacam itu.

Keterpanaan saya justru bukan semata-mata pada peristiwa atau persoalan itu, melainkan pada reaksi anak saya. Ia tidak jengkel. Ia tidak marah. Wajahnya sangat biasa. Ia bahkan tertawa terbahak-bahak sambil membetulkan letak celananya yang melorot itu. Meski sedikit didera rasa malu dan -wajar- bila ia marah, anak saya tak melakukannya.

Saya sedikit bingung. Benak saya tiba-tiba dihantui pertanyaan. Lalu, apa arti umpatan “cangak sia” yang sangat kasar dalam terminologi masyarakat Sunda-Bogor itu bagi dirinya? Sekadar ucapan biasakah seperti umumnya kata-kata yang lain? Cermin kemarahan yang terpendam, tapi berhasil diatasinya? Atau, sebenarnya upaya melepas batin yang tertekan?

Ah, tiba-tiba saya jadi ingat episode masa lalu tentang semua ini!

Sewaktu kecil saya sangat terbiasa dengan segala tindak tanduk kakek saya dari pihak ibu yang asli Salatiga. Sebagai mantan tentara sejak zaman Belanda karakter kakek saya amat khas; keras, tegas, disiplin. Karakter itu secara kuat melumuri keseluruhan waktu hidupnya. Pagi, siang, malam. Nah, bila sedang marah terhadap saya atau cucu-cucu yang lain, kakek saya tak segan-segan untuk mengeluarkan umpatan khasnya. Saya ingat benar kakek saya bilang; SEMPRUL atau KAMPRET KOE !

Saya tidak tahu apa makna SEMPRUL, kecuali KAMPRET yang tak beda dengan binatang malam alias kalong, kelelawar. Anehnya, setiap kali kata itu muncul dari mulut kakek saya bukan ketakutan atau badan gemetar yang menghinggapi saya. Saya justru tersenyum senang melihat kakek mengumpat seperti itu. Bagi saya, umpatan kakek serupa kemarahan yang terbalut kegembiraan. Ada getir, tapi juga bahagia. Ada jengkel, namun juga ceria. Maka setiap waktu saya suka sekali menunggu momen-momen seperti itu.

Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah saya sering tergoda bila melihat salah seorang teman berucap (maaf), ASU! ASU dalam bahasa Indonesia bermakna anjing. Saya tergoda bukan semata-mata pada umpatan itu, tapi lebih kepada nada yang keluar dari bibir teman saya yang berucap kata itu. ASU diucapkan dengan nada naik turun dan pada saat mencapai huruf U, aksara vokal itu diucapkan lebih panjang sehingga menjadi ASUUUUUUUUUU!!!!!!

Jangan bayangkan akan terjadi pertengkaran hebat sesudahnya. Sebab yang muncul justru gelak tawa. ASU menjadi puncak dari segala cerita yang terbangun sebelumnya. Ibarat musik gamelan, umpatan itu seirama gong yang dibunyikan pada waktu-waktu tertentu sebagai penutup dari “kisah” gamelan itu bermula. Maka dalam pergaulan saat itu momen-momen ASU muncul adalah momen yang paling ditunggu. Mengapa demikian? Karena di situ pasti hadir cerita dan canda, gelak dan tawa.

Di masa kuliah di Yogyakarta dahulu beda lagi. Di kota Yogya yang dihuni mayoritas masyarakat Jawa yang santun dan mriyayeni kita seperti susah untuk menemukan umpatan-umpatan “kotor” model beginian. Adab dan etika Jawa yang kuat seolah telah mengikatnya. Susah untuk mendobraknya teristimewa bagi orang-orang yang masuk dalam lingkup tradisi Mataram. Untungnya, ada teman-teman dari Jawa bagian Timur yang menimba ilmu di kota itu sehingga suasana Yogya lebih “berwarna”.

JANCUK! DIAMPUT! adalah umpatan khas gaya Jawa Timuran. JANCUK dan DIAMPUT menggiring kita pada suasana yang sifatnya personal dan egaliter serta tanpa batas sehingga berkesan menghilangkan watak mriyayeni. Jangan berharap sopan santun atau unggah-ungguh yang mendalam di situ. Karena pasti tak akan ketemu. Lama tak ketemu, kita bisa berucap JANCUK KOEN! Jengkel karena merasa ditinggal pergi kita boleh mengumpat DIAMPUT KOEN!

Satu hal bisa saya catat tentang fenomena itu bahwa kata-kata umpatan itu menjadi begitu familiar dan memunculkan suasana keakraban karena niat hati dan bahasa tubuh yang dihadirkan memang bersetting canda tawa. Semua seperti tidak peduli meskipun kemunculan kata-kata umpatan ada yang terambil dari bahasa sampah, yakni hewan. KAMPRET kalong, JANCUK “jaran ngancuk” atau kuda berkelamin, ANJRIT dan ASU anjing.

Haruskah kita marah bila teman kita berucap KAMPRET! JANCUK! CANGAK SIA! ANJRIT! ASU! dan umpatan-umpatan kotor lain? Tunggu dulu! Lihat konteks dan bahasa tubuhnya. Siapa tahu umpatan-umpatan itu memang tak lebih dan tak kurang dari hanya ucapan biasa yang jauh dari kesan marah, jengkel, atau dendam. Jadi….?

Ah, monggo ber-JANCUK ria atau ber-KAMPRET ria. * * *

One Response

  1. Saya pernah baca di majalah humor bekas yang saya beli di dekat stasiun kereta api Bogor.

    Semasa kecil mantan Rektor IPB: Bapak Andi Hakim Nasution, pernah berteriak: “Mampus loe” sewaktu ibunya terpeleset ketika turun dari delman.
    tentu saja ibunya kaget bukan kepalang…

    Padahal tau nggak Mas, alasan sebenarnya beliau berteriak seperti itu? Beliau cuma ikut-ikutan, beliau nggak tau apa sih sebenarnya arti “Mampus loe”, beliau cuma mau tau reaksi ibunya…Ohhh ternyata kata itu terlarang diucapkan ya, apalagi buat ibu sendiri yang terpeleset..:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: