TUHAN SUKA TINJU?

Manny

Manny "Pac Man" Pacquiao

Suka tinju? Konon Tuhan, Pencipta alam semesta raya ini, Sang Khalik, Sang Pemberi Rezeki, Sang Penentu Sejarah, sangat menggemari olah raga keras yang berisi suara bak-buk bak-buk tanpa henti itu. Tak percaya?

Kalau tak percaya, sudahlah. Karena saya kini sedang belajar menjadi seperti seorang Taufik Ismail, sastrawan paripurna yang asli Minangkabau itu. Tapi, sungguh tak mudah! Kepiawaian merangkai kata tak cukup baginya untuk melukiskan sebuah peristiwa. Diperlukan hati yang jujur dan kokoh demi meyakini bahwa setiap kata adalah sekaligus keindahan dan keyakinan.

Maka saat Taufik Ismail menulis “Lonceng Tinju” dalam bait-bait puisinya, memang demikianlah faktanya. Baginya, tinju tak pantas disebut olahraga dan bahkan tak pantas disuguhkan di hadapan manusia yang katanya bermartabat dan terhormat itu. Kenapa demikian? Karena tinju tak lebih sebagai kesinambungan yang lebih canggih dari hasrat manusia dalam mengadu binatang dengan binatang, binatang dengan manusia, dan manusia dengan manusia.

Duduk di samping ring tinju, penonton bersorak senang ketika sang petinju terkapar di lantai ring tinju, dan pada saat yang sama mereka mengelu-elukan sang petinju lain sebagai “pahlawan” seakan tak ada manusia yang terkapar karenanya. Di depan televisi, pemirsa dipacu jantungnya oleh ketegangan yang luar biasa saat kedua jagoan saling beradu pukul. Saat sang idola memukul jatuh lawannya, pemirsa tersenyum puas.

Jujur, saya belum bisa seperti sang sastrawan yang tokoh Angkatan 66 itu karena saya memang penggemar berat olah raga tinju. Tak hanya penggemar, saya bahkan sangat menikmati bila pertarungan tinju itu berlangsung ketat, keras, dan menegangkan. Tapi, -seperti saya katakan tadi- bukankah Tuhan juga sangat “menyukai” olahraga tinju?

Saya menyaksikan sendiri di televisi saat pertandingan Manny “Pacman” Pacquiao melawan Miguel Cotto pada Minggu (15/11/09). Sebelum adu pukul terjadi, disaksikan jutaan mata pemirsa, Pacman dan Cotto duduk bersimpuh di pojok ring berdoa kepada Tuhan, Sang Penentu Sejarah. Bahkan saat sorot kamera mulai menempa wajahnya, baik Pacman maupun Cotto, tak henti-hentinya menggerakkan tangan bagi tanda salib kepercayaannya.

Bisa ditebak Pacman dan Cotto meyakini bahwa ada campur tangan Tuhan dalam pertarungan yang mereka lakukan. Mereka sadar, mereka tak akan mampu memenangkan pertarungan itu bila Tuhan tidak mentakdirkannya. Kewajiban Pacman dan Cotto hanya dua, berlatih keras dan bertarung buas agar Tuhan memilih salah satu dari mereka menjadi pemenangnya.

Tuhan memang pada akhirnya harus berpihak! Pacman dipilih oleh Tuhan sebagai pemenang dalam pertarungan yang keras itu. Pacman sukses membuat Cotto menyerah di ronde keduabelas, ronde terakhir. Padahal sejak awal Cotto optimistis akan memenangkan pertarungan itu karena ia bertanding melawan petinju yang sebenarnya memiliki tubuh lebih kecil dari dirinya.

Mengapa Tuhan memilih Pacman dibanding Cotto?

Saya tidak tahu jawaban pasti. Tapi, mungkin Pacman lebih keras berlatih dibanding Cotto. Mungkin juga Pacman bersikap lebih rendah hati dibanding Cotto sebab bukankan Tuhan suka makhluk yang rendah hati? Atau mungkin malah doa jutaan rakyat Filipina yang lebih banyak dari rakyat Puerto Rico telah menggoncangkan arsy’ Tuhan sehingga Tuhan memilih Pacman. Namun, jangan-jangan sebagai seorang manusia, hamba Tuhan, Pacman “lebih baik” dibanding Cotto.

Sudahlah, biarlah persoalan itu menjadi hak otonomi Tuhan semata. Tapi, kalau hal di atas ditanyakan kepada Taufik Ismail, sang sastrawan itu, niscaya ia akan menjawab ketus. “Hei, jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam persoalan yang sebenarnya Tuhan sangat membencinya! Tuhan tidak mungkin menyukai makhluknya saling beradu pukul layaknya binatang!”

Ah, hidup memang penuh dengan paradoks! * * *

3 Responses

  1. Apa semua do’a didengar dan dimakbulkan oleh Tuhan?
    Kalau dilihat dari bentuk dan substansi tinju memang berbentuk adu manusia. Tak beda dengan sabung ayam. Setuju kan? sejarahnya dulu tinju tdk pake sarung tangan, jadi jotos2an langsung aja gitu smpe berdarah2, parah kan?. Tapi lama2 berkembang dan supaya diterima masyarakat ditingkatkan keamanannya, termasuk pakai sarung tangan. Tapi tetep aja kan yg diserang biar lawan cepet puyeng dan jatoh ya pukul aja kepala lawan. Kepala kok di pukul2? tu kan sumber intelektual manusia. bentuknya berantem dan menyakiti tubuh lawan itu tidak pantas disebut olahraga, tu harusnya terlarang kan om?.
    kalau masalah para petinju berdoa seblom perttandingan karena sang petinju tidak sadar, sama seperti warga dunia pada umumnya, bahwa sebenarnya tinju itu olahraga yg (seharusnya) terlarang, karena tinju dikemas sdemikian rupa seperti olahraga lainnya, jadi bedoa deh. Tuhan pastinya ndak suka dengan bentuk kekerasan yg dilegalkan ini. jadi gerakan memukul dan hasil pemenang tinju sama sekali tidak ada unsur campur tangan Tuhan.
    Klo pernyataan om itu sama aja begini donk: jika suatu masa semua orang ga sadar klo taruhan judi itu dilarang, jadinya semua petaruh pas udah tarohan berdoa kepada Tuhan biar dapet menang tarohan, apa Tuhan senang dengan judi? kan tidak! Tapi tetep aja ada yg memenangkan tarohan kan? Apa dia menang karena berdoa? Lah kan Tuhan ga perbolehkan judI?? Trus yg menang tarohan itu atas campur tangan siapa? Tuhankah atau setankah??
    Maaf dan piss selalu.

    • Sepakat! Tp, itulah, hidup memang amat sangat paradoks. Kmrn sy lihat di televisi, bagai mana seorang ulama terkenal memimpin demonstrasi para petani tembakau dalam menentang upaya pengharaman rokok di Temanggung. Dlm bayangan sy betapa indahnya kalo ulama itu memimpin para petani untuk melakukan alih tanam dr tembakau ke tanaman lain yg lebih bermanfaat.

      • Itulah pak, saya setuju. Ulama itu juga pasti perokok. Saya pernah menyimak ceramah agama di televisi oleh seorag KH. kondang. Dia membela rokok dengan berbagai argumen, dia membela rokok sambil bilang, “ni bukan karena saya perokok yah..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: