SEKS ITU ….

Irfan meletakkan tasnya pada meja di ruang tengah. Sepulang sekolah. Sabtu, siang itu. Wajahnya masih terlihat kuyu. Lelah. Ia membuka kancing bajunya satu demi satu. Cuek. Tiba-tiba.

“Bapak, seks itu apa sih?!”

Degh! Saya terkejut. Benar-benar terkejut. Suara Irfan langsung menghentikan gerakan jari-jari tangan saya pada tombol laptop. Saya pandangi Irfan, si sulung yang baru menginjak kelas lima sekolah dasar. Namun, ia seperti tak peduli pada reaksi kaget saya. Ia juga tak peduli pada pandangan mata saya. Ia tetap asyik mencopoti baju dan celana sekolahnya tanpa rasa bersalah.

Maka saya tak menjawab pertanyaan Irfan karena saya beranggapan ia sama sekali tak berniat mengetahui jawabannya. Ia pasti hanya sekadar iseng. Meskipun demikian, saya merasa pertanyaan Irfan selaksa palu godam yang menghempas deras ke hati dan otak kesadaran saya. Ngapain ia tanya seperti itu? Tahu nggak ia dengan masalah yang ditanyakannya? Dari mana ia memperoleh kosakata yang “unik” bagi anak seusianya? Saya benar-benar tak menyangka!

Saya melanjutkan pekerjaan saya. Saya kini berpura-pura tidak mendengarnya. Sungguh, pertanyaan Irfan teramat sulit saya jawab. Saya tak kuasa untuk menjawabnya, bahkan untuk sekadar menerangkannya sepatah dua patah kata. Pertanyaan Irfan niscaya lebih sulit saya jawab dibanding pertanyaan para dosen penguji skripsi atau tesis di meja kelulusan saya dulu. Pertanyaan Irfan tidak sekadar memerlukan nalar, tetapi juga hati dan perasaan.

“Bapak, dengar nggak pertanyaan, Mas? Seks itu apa?!”

Saya paham, anak-anak sekarang amat berbeda dengan anak-anak di masa saya kecil dahulu. Deras arus informasi dan keterbukaan menjadi elemen penting yang mengubah mindset pola asuh anak. Di masa kecil saya dulu terngiang jelas pernyataan bahwa seks adalah persoalan yang tabu. Tabu untuk dibicarakan, tabu untuk dipersoalkan. Apalagi bagi anak kecil seusia sekolah dasar.

Karenanya, tidak pernah ada pembicaraan seputar seks antara saya dan orang tua saya, juga antara saya dan saudara-saudara saya. Kami TSTTMT, “tahu sama tahu untuk tidak mau tahu”. Rasa malu menjadi faktor paling dominan sehingga kami seolah segan membahasnya. Lagipula, tidak adakah masalah dalam hidup yang lebih penting dibicarakan selain melulu persoalan seks? Seks tidak untuk dibicarakan. Tanpa dibicarakan pun orang akan tahu perihal seks.

Saya sendiri menemukan jawaban atas persoalan seks pada tataran wilayah yang “sembunyi”. Wilayah “sembunyi” bermakna wilayah-wilayah yang tidak boleh orang lain tahu, kecuali antara saya dengan teman-teman lain yang -tentu- bisa dipercaya. Wilayah sembunyi itu bisa di kamar, sekolah, jalanan, gedung bioskop, atau malah lapangan sepakbola. Di sana saya bisa bicara sepuasnya, tidak dengan nada serius, tetapi canda.

“Ah, Bapak payah! Masa soal seks saja nggak tahu….”

Saya sadar, suatu saat nanti saya akan mendengar persoalan seks keluar dari mulut anak saya. Kepada saya! Jadi, saya harus siap-siap. Tapi, pada kenyataannya, betapa susahnya saya untuk menjelaskan persoalan seks kepada anak saya itu. Padahal nalar saya sudah mencoba mementahkan persoalan bahwa seks itu tabu, seks itu kotor, dan sejenisnya.

Saya menerima bahwa seks itu ilmu! Medium komunikasi di masa kini, seperti koran, majalah, atau televisi sudah demikian terbuka menulis tentang persoalan seks. Orang juga tidak malu lagi bertanya tentang problema seks, bahkan dalam kaitannya dengan persoalan pribadi. Malah di masa kini para seksolog atau ahli seks telah menjadi figur terhormat di lingkungan masyarakat layaknya selebriti. Jadi, kalau seks itu ilmu pengetahuan, tentu wajib disebarkan.

Maka tidak sepatutnya saya mengabaikan persoalan seks. Bahkan untuk anak saya sendiri. Namun, bicara seputar seks dengan anak sendiri yang usianya baru menginjak 10 tahun? Wow! Benar-benar pengalaman yang mendirikan bulu roma. Takut salah. Takut keliru. Takut kepleset. Lagipula, bagaimana saya mesti memulainya? Sudah sadarkah saya dengan dampak yang muncul bila saya menjelaskannya?

Irfan mendekati saya. Di telinga saya ia berkata lirih. Sungguh lirih.

“Bapak seks itu apa?”

Saya terdiam sesaat. Namun, kali ini saya berusaha menata jawaban yang pas. Sejelas mungkin, sebijak mungkin. Mulut saya hendak membuka sedikit ketika….

“Irfan! Irfan! Main yuk!!”

Suara dari luar. Dua temannya memanggil untuk mengajak anak saya bermain. Tanpa pamit, Irfan langsung beranjak pergi. Saya menghela napas melihat sikapnya. Tapi, oi… saya bisa tersenyum. Kali ini saya terselamatkan oleh temannya.* * *

2 Responses

  1. Jika saya adalah Mas Sigit, saya akan bilang kepada Irfan begini: “Mas, bapak belum tahu jawaban apa itu SEKS,
    Nanti bapak cari dulu di internet, cari lewat buku di perpustakaan atau kita sama-sama nyari jawabanmu di toko buku Gramedia…Boleh kan Mas? Ini PR buat bapak.πŸ˜€

    (Mudah-mudahan jawabannya nggak sok tau…hihihihi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: