HOEGENG; The Singing General

Hoegeng Iman Santoso

Saya tahu kenapa namanya begitu melegenda. Tak hanya melegenda, ia bahkan menjadi semacam ikon yang tak tergantikan bagi korpsnya. Sendirian. Ya, sendirian! Hingga kini. Ya, hingga kini! Hoegeng Iman Santoso. Tidak adakah orang yang seperti dirinya atau malah melebihi?

Mungkin tidak dan rasanya memang tidak. Sebab demikianlah kenyataannya. Ia menjadi semacam “lone ranger” yang seng ada lawan pada korps yang dimasuki dan dibelanya sepanjang hayat. Padahal, tidak demikian dengan ketiga “kakaknya”. Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU) selalu melahirkan ikon yang terus berubah dan bertambah sepanjang bergantinya generasi. Ikon adalah pertanda kehebatan, teladan, dan bahkan mitos.

AD begitu bangga kepada tokoh semacam Soedirman, AH. Nasution, M. Jusuf, dan lainnya. Soedirman dipandang sebagai rujukan terlengkap tentang manusia tentara Indonesia. Rendah hati, bersahaja, pantang menyerah. AH. Nasution tak jauh berbeda. Salah satu buku karya Nasution, yakni “Pokok-Pokok Perang Gerilya” bahkan menjadi bahan rujukan studi tentang perang di wilayah terisolir, seperti hutan, padang, atau gurun.

AL punya Yos Soedarso, komodor laut dan pahlawan paling berani di medan laga lautan ombak. Nyawanya dipersembahkan untuk bumi pertiwi di atas KRI Macan Tutul pada pertempuran Laut Aru di masa Trikora, 13 Januari 1962. Tapi, Yos Soedarso tidak sendirian. Ia berdampingan dengan nama-nama hebat lain, seperti RE. Martadinata atau Ali Sadikin. Ali Sadikin (Bang Ali) yang mantan Gubernur DKI bahkan dikenang sebagai pembangun kota Jakarta.

Abdurahman Saleh, Adisutjipto, dan Adisumarmo menghiasi lembaran sejarah kepahlawanan AU di negeri kita. Mereka adalah figur-figur pemberani yang hanya memiliki satu tujuan dalam hidup. Mereka menginginkan hidupnya bermanfaat bagi bangsa. Abdurahman Saleh yang biasa dipanggil Pak Karbol adalah tokoh di balik pemanfaatan sarana komunikasi radio bagi Presiden Soekarno dalam menjalin kebersamaan dengan rakyat.

Susahkah Kepolisian RI melahirkan pribadi-pribadi hebat serupa Hoegeng di masa sesudahnya? Mungkin. Namun, andai AD, AL, dan AU tidak kesulitan, maka semestinya Kepolisian tidak jauh berbeda. Bukankah sejarah kelahiran AD, AL, AU, dan Kepolisian hampir mirip? Tetapi, faktanya, tidak demikian. Kepolisian seolah tertatih-tatih untuk melahirkan kader-kader tangguh yang patut dilambangkan sebagai pahlawan, terkecuali pada Hoegeng.

Kepolisian ya Hoegeng. Hoegeng ya Kepolisian. Masyarakat tetap mengenang Hoegeng sebagai tipikal perwira polisi ideal. Ia berani dan tegas, jujur dan bersahaja. Tak ada polisi yang mampu menggantikan kepahlawanan Hoegeng, bahkan hingga kini. Setiap generasi perwira baru lahir, maka mereka selalu didudukkan di bawah Hoegeng. Hoegeng ibarat menara gading yang tak mungkin didaki.

Kasus penculikan dan pemerkosaan Sumarijem atau Sum Kuning yang melibatkan para putra pejabat tinggi di Yogyakarta pada tahun 1971 berusaha dituntaskannya tanpa pandang bulu. Demikian pula dengan kasus penyelundupan mobil-mobil mewah yang melibatkan Robby Tjahyadi beserta para pejabat tinggi Bea Cukai tak luput dari terjangannya. Hoegeng menjadi fenomena tersendiri dalam korps berbaju coklat itu. Langkahnya yang lurus bahkan tidak disukai oleh penguasa RI saat itu Soeharto sehingga ia harus dihentikannya.

Lalu, kenapa Kepolisian di negeri kita susah sekali melahirkan polisi-polisi sekaliber Hoegeng yang tangguh, bebas dari suap, jujur, dan berani sehinggaakan selalu muncul figur-figur pahlawan dari Kepolisian pada setiap generasinya?

Ada beberapa kemungkinan jawaban. Pertama, memang ada kekeliruan yang mendasar pada sistem kurikulum yang diajarkan pada sekolah Kepolisian kita sehingga sulit untuk mencetak kader polisi yang andal dan profesional. Kedua, tuntutan masyarakat tidak mampu diimbangi oleh keprofesionalan polisi karena secara kuantitatif jumlah polisi memang tidak sebanding dengan jumlah rakyat. Ketiga, tidak seperti AD, AL, dan AU, medan pekerjaan Kepolisian adalah masyarakat sehingga kadar baik dan buruk selalu berasal dari “bawah” (rakyat).

Maka di atas langit, Hoegeng telah bersemayam dengan tenang. Namun, hatinya mungkin bergemuruh menyaksikan anak-anak didiknya belum juga mampu melanjutkan kehebatannya sebagai pewaris kebesaran nama Polisi Indonesia. Senyum Hoegeng susah untuk terbit. Senyum itu hanya sedikit terbit kala rekan-rekannya di dalam “Hawaian Senior” mengajaknya bersenandung. Ah, The Singing General…* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: