AMIEN RAIS TIDAK SUKA BOEDIONO?

M. Amien Rais

Boediono

Benarkah M. Amien Rais yang mantan Ketua MPR RI, Ketua Umum PP Muhammadiyah, tokoh Partai Amanat Nasional (PAN), dan Lokomotif Reformasi tidak menyukai Boediono yang Wakil Presiden RI, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Menko Perekonomian, dan Menteri Keuangan?

Sejak memasuki kancah nasional di akhir 90-an sulit bagi kita untuk menyebut Amien Rais menyukai Boediono, sesama kolega di kampus biru Universitas Gadjah Mada (UGM). Amien sepertinya susah untuk menyatu dengan Boediono. Paling tidak ada empat momen penting yang pantas disuguhkan buat meyakinkan diri kita bahwa Amien dan Boediono memang ”ada apa-apa”.

Pertama, ketika diangkat sebagai menteri untuk pertama kalinya, yakni sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan (Menneg PPN/Kepala Bappenas) pada masa Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999) di bawah kepemimpinan Presiden BJ. Habibie, tidak pernah tersiar kabar komentar, ucapan, atau selamat dari Amien Rais kepada Boediono. Padahal, saat itu Amien Rais masih figur penting di balik reformasi, sedangkan Boediono mendapat tugas penting penyelamatan di bidang ekonomi.

Kedua, saat terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Abdurrahman Wahid ke Megawati Sukarnoputri (2001), Amien Rais berharap orang yang menduduki jabatan Menteri Keuangan adalah Bambang Soedibyo, figur yang juga menjabat Menkeu di masa Gus Dur dan sangat dekat dengannya. Namun, Megawati nyatanya lebih percaya kepada Boediono dibanding Bambang Soedibyo.

Ketiga, ketika Pilpres 2009 hendak dilangsungkan, sebagai tokoh Partai Amanat Nasional (PAN) dan pendukung SBY, Amien berharap kadernya Hatta Radjasa dapat mendampingi SBY sebagai calon wakil presiden. Faktanya, SBY lebih memilih Boediono sehingga Amien (lagi-lagi) harus memendam kekecewaan. Boediono bahkan disebut Amien tidak mewakili keterpilihan konstituen di negeri kita yang plural; Jawa-luar Jawa atau Islam-Nasionalis, meski SBY-Boediono mewakili wajah militer-sipil.

Keempat, belakangan ini Amien Rais rajin meminta Boediono mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden RI sampai kasus Centurygate terbuka secara gamblang. Andai terbukti bersalah Boediono wajib mundur secara permanen dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Jika benar, nama baik Boediono mesti dipulihkan dan ia dipersilakan memangku jabatan wapresnya kembali.

Satu Kawah

Unik dan ironis. Mungkin itulah kata yang paling pas buat menggambarkan dua sosok tenar di pentas politik nasional kita itu. Sama-sama berasal dari ”induk” yang tidak berbeda, tapi keduanya sangat jarang atau malah tidak pernah menunjukkan ke hadapan publik bahwa keduanya bisa berkawan secara karib. Amien dan Boediono selalu berseberangan dan keduanya memang tidak saling menyukai.

Sepertinya tidak ada agenda besar bangsa yang mampu menyatukan keduanya. Perbedaan kedua tokoh itu terlalu dalam. Bahkan dalam suatu kesempatan Boediono mengaku ia memang merasakan bahwa Amien Rais tidak menyukai dirinya. Namun, ia sendiri tidak tahu kenapa Amien Rais tidak menyukai dirinya. Sebaliknya, Amien Rais tidak pernah secara terus-terang mengaku tidak menyukai Boediono meski dari beberapa pernyataan yang keluar darinya kentara sekali kalau ia memang tidak suka dengan Boediono.

Agaknya, kampus perjuangan UGM gagal menyatukan visi dan misi keduanya untuk duduk dalam satu biduk yang sama. Seperti diketahui, sebelum memangku jabatan Ketua MPR RI Amien Rais adalah staf pengajar pada jurusan Hubungan Internasional, Fisipol, sedangkan Boediono, sebelum meniti karir sebagai Direktur Bank Indonesia (BI), Menteri, Gubernur BI, dan Wapres, ia adalah dosen pada jurusan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi.

Di kampusnya, Amien Rais dan Boediono boleh dikata ibarat roket yang melesat tinggi meninggalkan jauh rekan-rekannya. Mereka berdua tidak tertandingi, bahkan oleh nama-nama cemerlang semacam Mubyarto, Ichlasul Amal, Sofian Effendi, dan lain-lain. Puncak kesuksesan karir berhasil mereka raih hampir dalam waktu dan periode yang tidak jauh berbeda. Mereka menjadi semacam tonggak bagi kampusnya dalam melihat kiprah para tokoh UGM di jagat nasional.

Secara intelektual mereka berdua lahir dari kawah yang sama, yakni pendidikan barat yang modern. Amien Rais menamatkan pendidikan tertingginya (S3) di bidang ilmu politik dari salah satu universitas terbaik AS, yakni University of Chicago pada tahun 1981. Sedangkan Boediono, gelar Ph.D.(S3) diraihnya di sekolah ekonomi prestisius Wharton School, Universitas Pennsylvania, AS.

Dua Kiprah

Namun, Amien Rais memang berbeda dengan Boediono. Ditilik dari pengalaman organisasi, Amien Rais terlihat lebih kaya dan lebih berwarna dibanding Boediono. Tidak seperti Amien Rais yang mudah berpaling dari pengetahuan yang ditekuninya untuk masuk ”dunia” lain, Boediono hanya melulu belajar ilmu ekonomi dengan segala aspeknya. Boleh dikata Amien Rais adalah seorang maniak organisasi, sedangkan Boediono lebih asyik bergelut dalam bidang yang dicintai dan ditekuninya.

Bisa diterka, pengaruh orang tua memang amat merasuki jiwa dan pikiran Amien. Ayah dan ibunya merupakan tokoh terpandang dan pimpinan aktif ormas Islam Muhammadiyah Cabang Surakarta. Tak heran bila sekembalinya dari studi di AS Amien Rais tak hanya langsung sibuk dengan tugas keseharian mengajar di kampusnya. Ia juga aktif di ICMI, BPPT, dan banyak organisasi kemasyarakatan lain. Terakhir ia bahkan menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, pimpinan tertinggi organisasi keagamaan terbesar di tanah air dan Ketua Umum PAN.

Agaknya, tidak demikian halnya dengan Boediono. Kedua orang tuanya tidak memiliki pengalaman organisasi yang mumpuni untuk menjadikan Boediono terpengaruh dengan segala pernak-pernik dunia organisasi. Sepulang dari AS Boediono lebih suka berperan layaknya seorang akademisi murni dibanding akademisi-aktivis. Maka dari tangan Boediono lahir banyak sekali karya tulis, baik berbentuk buku, jurnal, maupun artikel ilmiah populer tentang persoalan ekonomi. Buku-buku karyanya bahkan menjadi pegangan mahasiswa ekonomi di berbagai universitas di negeri ini.

Kelincahan dalam berorganisasi menjadikan Amien Rais tidak canggung berhadapan dengan berbagai macam kalangan, termasuk para pemburu berita. Amien Rais jauh dari kesan tertutup terhadap pers. Mudah bagi para pemburu berita untuk mendapatkan statement dari Amien Rais yang cerdas dan berani, lugas dan apa adanya. Segala isu yang beragam, baik tentang politik, Islam, kenegaraan, maupun yang lain, tak luput dari pernyataannya.

Tapi, tidak dengan Boediono. Jawaban Boediono terhadap lontaran pertanyaan pers cenderung menampakkan kekhasan wataknya yang pendiam, tertutup dan hati-hati, sehingga terkesan sangat normatif. Bahkan Boediono lebih suka memberikan jawaban berupa senyuman terhadap isu-isu yang dirasanya amat sensitif untuk berbagai kalangan. Bagi kalangan pers Boediono bukan seorang newsmaker yang pernyataannya amat ditunggu-tunggu publik.

Empat Bedah

King Maker, demikian kalangan pers memberikan gelar kepada Amien Rais. Kemampuan, kelihaian, dan kecerdikannya sebagai seorang politisi dan organisatoris ulung mampu mendudukkan siapa saja pada tempat yang dikehendakinya. Soeharto dijatuhkan. Gus Dur dinaikkan, tapi sekaligus diturunkan. Megawati menangis karena dibikin kalah dari Gus Dur, lalu dibuat tersenyum bahagia karena didudukkan sebagai Presiden.

Namun, julukan King Maker sesungguhnya tidak semata-mata menjatuhkan dan mendudukkan seseorang ke puncak kuasa tertinggi. Ibarat seorang super grandmaster di papan catur, Amien Rais juga dikenal piawai mengatur dan mengolah, mendudukkan dan mengkoordinasikan orang-orang pada tempat yang dikehendakinya demi sebuah tujuan. Tidak terlalu sulit bagi Amien Rais untuk membawa ”gerbong keretanya” karena ia memang memiliki jaringan pada beragam organisasi yang dimasukinya.

The man to get the job done, demikian relasi dan orang-orang yang kerap berinteraksi dengannya memberikan cap kepada Boediono. Boediono tidak pernah main-main dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sekali tugas dibebankan kepadanya, maka tak ada kata yang lebih tepat baginya, kecuali bekerja keras, serius, dan hati-hati.

Ekonom Faisal Basri memberikan respek atas kerja keras Boediono dalam memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” ketika pemerintahan di bawah kendali Gus Dur. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus-menerus. Bahkan hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat di tahun 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Maka saat isu Amien Rais tidak menyukai Boediono dan Boediono merasa Amien Rais tidak menyukainya, maka ada tiga kemungkinan yang patut dijadikan sebagai asumsi jawaban.

Pertama, alasan ideologis (kalau ini patut dijadikan alasan!). Apa jadinya bila seorang seperti Boediono yang menangani masalah ekonomi Indonesia lebih dekat kepada kalangan Islam? Nah, inilah sebenarnya yang diharapkan dari Amien Rais kepada Boediono sebagai koleganya. Dengan dekatnya Boediono kepada kalangan Islam, maka Boediono lebih peduli terhadap penderitaan dan nasib mayoritas umat Islam. Faktanya, Boediono lebih diposisikan dekat dengan kalangan nasionalis dibanding Islam.

Kedua, secara ekonomi-politik, Amien Rais dan Boediono dinilai berbeda. Dalam bukunya Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia! (Mizan-PPSK, 2008) Amien secara gamblang mengkhawatirkan dominasi asing (Barat) dalam pengelolaan sumber daya alam di negeri kita. Sebaliknya, Boediono oleh beberapa ekonom, dikenal punya kecenderungan pro-pasar yang bebas, hal yang dikritik Amien Rais.

Ketiga, habitus genealogi intelektual Boediono adalah ekonomi kerakyatan karena ia sangat dekat dengan Prof Mubyarto sang penggagas Ekonomi Pancasila. Bahkan “mazhab” ekonomi kerakyatan UGM kerap ditentangkan dengan “mazhab” ekonomi liberal UI yang diisi oleh para tokoh “Mafia Berkeley”. Faktanya, Boediono kini malah dianggap sebagai corong mazhab liberal bersama dengan para ekonom UI, seperti Sri Mulyani, Moh Ikhsan, dan M. Chatib Basri.

Keempat, baik Amien Rais maupun Boediono (jangan-jangan) menderita “sindrom pelopor”. Mereka tidak terlalu suka bila ada salah satu pihak yang mampu menyamai dirinya, dan bahkan melampaui. Adakah kampus UGM mampu melahirkan Ketua MPR RI selain Amien Rais dan Wakil Presiden RI kecuali Boediono? Dua-duanya sama ingin menjadi “number one dan the best” di UGM.

Namun, yakinlah Amien Rais dan Boediono, keduanya hebat. Tak ada yang memungkiri. Kalaupun keduanya tidak saling menyukai, itu wajar sebab rasa suka tidak bisa dipaksakan. Tapi, apakah benar Amien Rais tidak suka Boediono, dan juga sebaliknya Boediono tidak suka Amien Rais?

Ah, jangan-jangan ini hanya sekadar gosip yang coba dikembangkan oleh orang-orang yang tidak suka kepada keduanya (termasuk saya?), padahal kedua tokoh itu sebenarnya sangat memendam rasa rindu…..* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: