KARENA IBU DAN IBU

Istri saya menggelayut manja. Senyumnya mengembang. Tangannya mulai memijat-mijat pelan. Saya tahu, pasti ada apa-apa. Saya sudah sangat mahfum dengan gaya istri saya bila sedang punya maksud.

“Mas, jadi pulang kampung?” tanyanya. Tangannya tak lepas dari pijatan. Lembut. Sedikit melenakan.

“Insya Allah…” Mulut saya membuka.

“Bisa nggak ditunda. Tidak pulang sekarang?”

Saya terkejut. Saya pandangi wajahnya, mencari jawaban yang mungkin tergores dari matanya. Tapi, mata itu suwung, tidak berbicara apa-apa. Saya kembali dengan pertanyaan bodoh.

“Memang kenapa kalau saya pulang?”

“Yah, pingin aja Mas di rumah. Nggak usah pergi-pergi.”

Wow! Kejutan! Saya merasa tersanjung dengan ucapan istri saya. Sebab tidak biasanya ia menahan-nahan saya pergi. Jika saya hendak pergi, saya cukup bersalaman dengan dia dan dia dengan ikhlas akan melepasnya dengan mencium tangan saya. Ke mana saja. Jauh atau dekat, kota atau luar kota.

Tapi, bukan itu masalahnya. Bagi saya, pulang kampung demi menengok orang tua yang sudah mendekati uzur adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Harus! Wajib! Pulang itu sesuatu yang sudah terjadwal di dalam kalender hati saya. Tidak boleh diganggu atau digugat oleh siapapun, bahkan oleh istri atau anak sekalipun.

Pulang adalah proyek amalan pribadi. Sejak saya pindah, menikah, dan bermukim di kota hujan, saya sudah meniatkan dalam hati bahwa setiap tiga bulan sekali saya harus sowan ke rumah orang tua. Sendirian, tanpa ditemani siapapun. Biarlah keluarga di Bogor saya tinggalkan barang dua atau tiga hari demi Banjarnegara. Yang penting segala tanggung jawab sebagai kepala keluarga sudah saya penuhi untuk anak-istri di rumah.

Entahlah, kenapa saya suka sekali melakukan hal demikian. Memang ada kenikmatan tersendiri bila setiap tiga atau empat bulan sekali saya bisa menatap wajah ibu-ayah di kampung. Ah, saya pasti seperti itu nantinya. Wajahnya penuh kerutan. Badannya renta. Batuknya satu-satu menyela ucapannya. Tapi, menatap wajah ibu-ayah serupa berjumpa dengan oase di tengah gurun yang panas dan gersang. Sejuk dan menyejukkan.

Bertemu dan bersalaman, ngobrol dan bercanda dengan ibu-ayah juga membuat saya bisa mempraktikkan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa halus) saat bercakap-cakap dengan mereka. Nikmat sekali rasanya merendahkan diri di hadapan dua makhluk yang melahirkan dan mendidik kita hingga usia mencapai 40 tahun kini.

Kadang saya tercenung dan bertanya-tanya. Adakah sowan saya yang setiap tiga bulan sekali itu mampu mengobati rasa luka dan sakit yang -mungkin- telah saya goreskan di hati kedua orang tua saya? Saya percaya, tidak! Namun, saya yakin, keluhuran budi dan akhlak setiap orang tua adalah selalu menyambut kedatangan anaknya dengan senyum mengembang dan tangan terbuka ketika sang anak mengetuk pintu rumah.

Maka saat istri merajuk untuk menunda kepulangan ke kampung, jawaban tegas saya ucapkan tepat di hadapan istri saya.

“Rasanya tidak. Saya tetap harus pulang!”

Istri saya mengangguk-angguk. Coba mengerti. Tapi, mulutnya berkata lain.

“Kenapa tak bisa? Bukankan lusa masih ada waktu untuk pulang?”

“Karena saya ingin anak-anak kita kelak punya kesempatan yang sama untuk melakukan seperti yang aku lakukan kini, yakni pulang. Kapan itu? Saat kita berdua sudah renta…” tutur saya.

Istri saya terdiam. Wajahnya memendam rasa kaget. Saya tahu saya telah mengunci benak istri saya. * * *

2 Responses

  1. Saya menarik nafas panjang setelah membaca tulisan Mas Sigit. Ayah dan ibu Mas Sigit pasti orang yang luar biasa. Mempengaruhi anak-anak mereka dgn menjadi teladan yang baik. Salam hormat buat kedua orangtua Mas Sigit ya….

    • Bukan, Bob. Keliru. Ibu dan ayah saya orang yg “sangat biasa”. Mereka tidak berbeda dengan ibu-ayah orang-orang lain. Menurut saya yang membedakan ayah-ibu kita dengan ayah-ibu orang lain justru adalah pada cara dan sikap kita dalam memperlakukan mereka. Ayah dan ibu kita menjadi “istimewa” jika kita memperlakukannya secara “istimewa”.
      Namun, keistimewaan ibu-ayah kita pun niscaya tidak akan luntur seandainya kita memperlakukan mereka secara “tidak istimewa”. Kenapa demikian? Karena mereka memang telah dianugerahi status sebagai “ibu-ayah”, status yang demikian terhormat di mata Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: