“PAHLAWAN” ITU BERNAMA LUNA MAYA

Ketika seorang kawan mengatakan bahwa kasus Luna Maya vs pekerja infotainment merupakan perkara kecil yang bisa diselesaikan dengan kata “maaf”, serta merta saya menolak pendapat itu. Kasus Luna Maya vs pekerja infotainment adalah perkara yang tidak bisa diselesaikan dengan kata maaf sebagai wujud kerendahan hati pihak yang berkonflik.

Kenapa saya berpikir demikian? Karena saya pikir bahwa kasus ini -mau tidak mau- pasti akan melebar atau dilebarkan ke mana-mana, tanpa mampu dicegah oleh pihak yang terlibat atau malah siapapun juga. Apalagi bagi sebagian orang, kasus ini dianggap “seksi” sebab di dalamnya memang terkandung figur atau pihak-pihak yang pantas untuk diberitakan. Benar! Asumsi saya ternyata tidak keliru.

Kasus Luna Maya vs pekerja infotainment faktanya kini sudah melebar ke mana-mana. Bila tidak dicerdasi secara kuat, kasus ini akan bergerak liar sehingga cenderung tidak memberikan angin segar bagi perkembangan pers tanah air di masa depan. Kasus yang sebenarnya terlihat sederhana ini, bahkan telah “mengecoh” semua pihak untuk secara sadar mengaitkannya dengan persoalan-persoalan yang lebih besar dan mendasar.

Pertama, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) kembali menjadi bahan pergunjingan dalam kasus Luna Maya vs pekerja infotainment setelah sebelumnya dikaitkan dengan kasus Prita Mulyasari. Masuk akal, sebab umpatan yang dilakukan Luna Maya dilakukan di medium komunikasi jejaring sosial Twitter sehingga bila masuk ke ranah hukum dapat dipastikan bahwa aparat hukum akan menggunakan pasal-pasal dalam UU ITE untuk menjeratnya.

Kedua, kasus Luna Maya vs pekerja infotainment sudah menyangkut “persaingan” dua institusi profesi kewartawanan, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Bisa dimengerti sebab secara konsisten AJI menolak masuknya pekerja infotainment ke dalam kategori jurnalis dan apa yang dilakukan mereka tidak bisa dikategorikan sebagai pekerjaan jurnalistik, hal yang justru dilakukan PWI .

Ketiga, kasus Luna Maya vs pekerja infotainment merembet pada persoalan klasik berupa jaminan kebebasan dan kemerdekaan berekspresi. Bagi beberapa pihak, apa yang dilakukan oleh Luna Maya adalah sah karena itu merupakan bagian dari kebebasan dan kemerdekaan berekspresi. Orang bebas mengungkapkan rasa marah, jengkel, sedih, atau apa saja. Pihak yang membawa Luna Maya ke ranah hukum justru dinilai mengingkari hakikat kemerdekaan berekspresi.

Keempat, klaim dan fatwa agama diseret sebagai daya dukung untuk memperkuat asumsi salah satu pihak. Fatwa kaum agamawan adalah pemutus akhir sebuah wacana. Maka saat kasus kasus Luna Maya vs pekerja infotainment muncul, publik diingatkan bahwa infotainmet beserta seluruh perangkat kerja dan hasilnya adalah sebuah proyek yang dilarang. Haram! Ormas keagamaan Nahdhatul Ulama (NU) telah memfatwakannya.

Andai kita mampu lebih objektif dalam memandangnya, kasus Luna Maya vs pekerja infotainment sebenarnya merupakan rentetan dari kisruh perjalanan hubungan para selebriti dan pekerja infotainment yang disebabkan oleh ketiadaan rumus dan mekanisme kerja baku pada diri kedua pihak. Masing-masing pihak terlalu bersemangat dalam mengusung dirinya sendiri, tanpa memahami kehadiran pihak lain.

Pada satu sisi, tidak sedikit selebriti yang merasa diuntungkan dengan pemberitaan infotainment, andaipun pemberitaan itu menyerempet ke persoalan yang paling pribadi sekalipun. Bahkan para selebriti itu kerap memanfaatkan kerja infotainment sebagai bagian dari promosi dirinya saat tersandung kasus. Mereka menjadikan infotainment sebagai bagian dari melodrama yang penuh canda atau kecewa, marah atau menangis.

Mari bicara karya! Tidak sedikit pula para selebriti yang berbicara tegas seperti itu. Selebriti hanyalah bungkus dari profesi di dunia hiburan yang seringkali muncul di hadapan publik. Ia bisa aktor/aktris, penyanyi, atau pekerja seni yang lain. Karena itu, selebriti adalah manusia normal yang tidak berbeda dengan manusia normal lainnya. Ia tidak mau persoalan pribadinya menjadi konsumsi publik yang justru akan menggerus segala potensi dirinya.

Maka bersyukurlah karena ada Luna Maya! Umpatannya di akun Twitter-nya mungkin jauh dari sopan bagi sebagian orang. Namun, tanpa umpatan selebriti asal Bali itu tidak mungkin orang-orang dari banyak latar belakang profesi dan keahlian tiba-tiba berduyun-duyun urun rembuk tentang kasusnya. Dari artis sampai politisi, dari wartawan sampai agamawan. Mereka saling menjajal keahliannya demi sebuah wacana.

Dalam konteks ini, insan pers semestinya berterima kasih kepada Luna Maya karena kasus ini telah mengingatkan idiom fundamental dunia pers bahwa kebebasan pers bukanlah sekadar kebebasan orang-orang yang terlibat dalam pers. Kebebasan pers hakikatnya adalah kebebasan individu untuk menyatakan pendapat dengan sejujur-jujurnya, bahkan terhadap insan pers itu sendiri. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: