GUS DUR; Sesal Kemudian Tak Berguna

Gus Dur

Yogyakarta. Sembilan belas tahun yang lalu tepatnya Juli 1990. Suatu sore di sebuah rumah kost mahasiswa yang jauh dari mewah.

“Hei, mau datang nggak? Bener, aku panitia lho. Ini aku punya undangan. Kalau mau aku bisa masukkan kamu untuk hadir sebagai salah seorang peserta,” kata seorang kawan akrab saya antusias.

Saya tak menyahut, pura-pura tak mendengar. Padahal itu bukan undangan main-main. Undangan itu adalah “tiket masuk” bagi saya agar bisa ikut hadir sebagai salah seorang peserta dalam salah satu sesi pada Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial dan Konggres HIPIIS VI, 1990 di Yogyakarta. Siapa yang tidak ngiler dengan undangan semacam itu sebab di situlah kita bisa bertemu dengan semua ahli ilmu sosial kondang yang ada di tanah air.

“Ayolah, aku sudah pilihkan sesi yang paling bagus. Dijamin kamu akan senang, terhibur, dan bahkan tertawa terbahak-bahak di sana. Pokoknya gayeng,” kata kawan saya itu meyakinkan diri saya.

“Memang saya akan diikutkan di sesi apa?” tanya saya sedikit memberi perhatian.

“Islam dan Politik di Indonesia.”

“Pembicaranya?”

“Gus Dur dan Cak Nun….”

Saya tersedak. Mulut saya seketika terdiam. Bukan Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib, sang penyair dan eseis paripurna yang membuat saya tersedak dan seketika terdiam. Tapi, Gus Dur! Abdurrahman Wahid! Cucu KH. Hasyim Asyari dan anak KH. Wahid Hasyim yang Ketua Umum Tanfidzyiah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (NU) itulah yang membuat saya tersedak dan terdiam.

Sejujurnya saya tak bisa menerima Gus Dur dalam khasanah intelektual saya. Sepak terjang tokoh bertubuh tambun wong nJombang asli itu belum mampu menyentuh benak saya untuk sedikit mau mendengarnya. Meski dianggap sebagai ulama dan malah waliyullah, sangat jarang terdengar kalimat pembelaannya terhadap umat Islam yang mayoritas terpinggirkan di negeri ini. Gus Dur lebih senang bergaul dengan kaum minoritas yang Nasrani atau warga keturunan.

Pikiran-pikiran Gus Dur juga aneh dan nyleneh. Ucapan “Assalamualaikum” dibolehkannya untuk diganti “Selamat Pagi, Siang, Sore, atau Malam”. Gus Dur bahkan tetap kukuh dengan pendiriannya itu meski beberapa kyai NU, termasuk kyai kharismatik Kyai As’ad Syamsul Arifin menegur dan meminta mengoreksi pendapatnya. Gus Dur tetap bergeming. Baginya, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang biasa, walau dengan kyai yang dihormati sekalipun.

Saat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) didirikan oleh tokoh-tokoh Islam, seperti BJ. Habibie, M. Dawam Rahardjo, M. Imaduddin Abdulrahim, dan Nurcholish Madjid, Gus Dur menentang keras. Ia memilih mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) sebagai antitesis ICMI bersama Arief Budiman, Marsilam Simandjuntak, dan lain-lain. Baginya, formalisasi Islam sebagai agama dalam negara adalah sesuatu yang tidak patut dan mesti dilawan.

Sejujurnya, saya belum mampu menerima kiprah hebat Gus Dur di bidang agama, politik, dan sosial, sekalipun Fachry Ali dan Bachtiar Effendi dalam Merambah Jalan Baru Islam telah mendaulat Gus Dur sebagai tokoh besar pembawa ide-ide pribumisasi Islam. Apalagi, ketika itu saya sedang getol-getolnya menggumuli Islam dalam perspektif “garis keras”. Setiap hari tidak ada kajian Islam yang tidak saya ikuti. Halaqah menjadi makanan empuk yang saya lahap di malam-malam sesudah isya.

Gagasan-gagasan Islam yang “hidup” lebih saya ikuti dibanding Islamnya Gus Dur. Bolehlah jika banyak orang mengungkapkan bahwa Islam di tangan Gus Dur menjadi sangat toleran. Namun, Islamnya Gus Dur niscaya telah mengabaikan prinsip-prinsip syariat yang menjadi landasan bagi umat Islam dalam menata kehidupan di bumi. Bagi saya, Islamnya Gus Dur adalah Islam yang lemah, mandeg, dan tidak bergerak.

“Maaf. Saya nggak bisa,” cetus saya beralasan. “Saya ada acara lain, ”

Teman saya tidak terkejut. Ia malah tersenyum. Manggut-manggut. Saya tahu, ia sangat mengerti segala aktivitas saya, termasuk pandangan saya tentang Gus Dur. Teman saya itu hendak beranjak pergi. Namun, sebelum pergi saya dibuat terkesiap dengan ucapannya.

“Ternyata kamu tidak secerdas yang saya kira. Bagaimana mungkin otak kamu itu bisa terpasung oleh pikiran-pikiran yang dogmatis. Aku yakin, suatu saat kamu akan mengakui kehebatan dan kebenaran gagasan-gagasan Gus Dur….”

Saya tersinggung berat. Tapi, saya tak mampu membalasnya. Saya hanya mampu mengutuk dalam hati. * * *

3 Responses

  1. Terlalu banyak cerita negatif ketika Gus Dur masih hidup.
    Gus Dur hobinya jalan-jalan setelah jadi presiden, keputusan Gus ur dipengaruhi para pembisik, Gus Dur dibaptis (ini yang paling aneh).
    Setelah beliau meninggal keluarlah cerita-cerita engagumkan dari anak-anak, istri dan orang-orang terdekat beliau. Anak paling kecil Gus Dur Inayah, suatu malam bapak bilang :”Maafkan bapak ya nak, karena tidak memprioritaskan keluarga, bpk lebih mementingkan agama, negara, maafkan bpak ya nak…Dgn jiwa besar beliau rela meminta maaf kepada anaknya…Salam salut.

    Saya jadi merasa bersalah karena salah menilai belau. Maaflan saya Gus Dur….Saya sangat mengagumimu…

  2. bagus2 mas tulisannya !🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: