RUHUT SITOMPUL: Politik Akting dan Akting Politik

Ruhut Sitompul

Saya tidak pernah menonton sinetron yang ditampilkan di layar kaca setiap hari. Tidak usah ditanya kenapa saya tidak pernah menontonnya. Karena tidak menonton saya menjadi tidak pernah memperhatikan akting-akting para pemain sinetron, bahkan termasuk Ruhut Sitompul, pengacara ternama yang kini beralih jadi wakil rakyat itu.

Ha, Ruhut Sitompul main sinetron?! Ah, ketinggalan informasi loe!

Dari beberapa cerita orang yang pernah menonton sinetronnya, konon kabarnya, akting Ruhut Sitompul jauh dari standar alias di bawah rata-rata. Di layar televisi, aktingnya terlihat kaku, jauh dari luwes, dan terkesan dibuat-buat sehingga tampak tidak alami. Bahasa tubuh (gesture), mata, dan wajah tidak tampil sebagaimana biasanya seorang Ruhut Sitompul tampil di meja sidang pengadilan.

Terus-terang, saya cenderung tidak percaya cerita itu. Pasti berita semacam itu tidak dapat dipertanggungjawabkan alias gosip semata. Pasti kabar seperti itu berasal dari orang-orang yang tidak suka dengan figur komplit seorang Ruhut Sitompul yang penuh talenta. Menuduh Ruhut tidak becus dalam berakting sama saja dengan menuduh kadar intelektual dan keterampilan Ruhut rendah.

Ruhut Sitompul tidak seperti itu. Saat kuliah, ia termasuk mahasiswa yang pintar. Ruhut bahkan termasuk satu dari dua orang yang lulus kuliah hukum hanya dalam waktu empat tahun di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Karier Ruhut sebagai pengacara juga melejit dengan sangat cepat. Ruhut bahkan dinilai sebagai sedikit dari banyak sosok pengacara yang siap menangani kasus-kasus berbau kontroversial dan kurang populer di tengah masyarakat.

Jadi, kacau benar kalau ada orang yang mengatakan Ruhut tidak bisa berakting. Akting merupakan pekerjaan termudah baginya. Bukankah kehidupan itu sendiri adalah akting dari pribadi-pribadi yang hidup?

Maka apa yang terjadi dalam sidang Panitia Khusus (Pansus) “Kasus Bank Century” dengan agenda pemeriksaan saksi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/1/2010) menguatkan asumsi saya. Di sidang itu Ruhut Sitompul tampil begitu alamiah dan apa adanya. Sebagai aktor, “aktingnya” menawan. Akting itu bahkan -menurut saya- susah untuk ditandingi oleh para “aktor” senior yang sudah biasa tampil di Senayan.

Meski hanya sesaat, saya melihat penampilan Ruhut di televisi amat sempurna. Ruhut piawai mengatur mimik wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara. Mimik tertawa, sedih, atau geram saling bergantian muncul di raut wajah Ruhut. Gerak tubuh dan tangannya juga sangat alamiah saat mengawal penampilannya. Suara Ruhut begitu hidup. Kadang lembut, kadang keras.

Sebagai Wakil Ketua Pansus Century, Gayus Lumbun yang profesor hukum dan mantan pengacara itu tampak jelas dibuat kewalahan. Berkali-kali Gayus gagal menghentikan suara lantang Ruhut yang menggema di sela-sela ruang sidang. Gayus bahkan seperti terlena oleh irama gendang yang sengaja dimainkan Ruhut. Gayus akhirnya mesti rela menerima umpatan kata “bangsat” meluncur dari mulut tajam Ruhut.

Apakah dengan penampilan Ruhut Sitompul yang “menawan” itu Fraksi Partai Demokrat akan menariknya dari Pansus Century atau malah dari Gedung DPR di Senayan? Terus-terang saya tidak percaya itu!

Ruhut Sitompul adalah mutiara bagi Partai Demokrat. Ia maskot dalam partai yang kelahirannya dibidani Presiden SBY itu. Ibarat dalam permainan sepak bola, ia adalah Gennaro Gattuso bagi AC Milan. Seumpama bola basket, ia adalah Dennis Rodman bagi Chicago Bulls. Fungsi Ruhut, Gattuso, dan Rodman sama, yakni merusak irama permainan yang coba dikembangkan lawan.

Karena itu, terlalu dini jika dikatakan bahwa citra Partai Demokrat lebih-lebih SBY akan turun hanya karena faktor Ruhut, si Poltak raja minyak itu. Justru sebaliknya, dalam medan politik yang terjal dan berliku-liku, keterampilan Ruhut dalam memainkan “akting” politiknya akan memberikan hawa segar dan daya hidup bagi Fraksi Partai Demokrat di DPR. Ia berfungsi meredam, menahan, dan merusak laju partai-partai lain. Tanpa Ruhut, Fraksi Partai Demokrat akan keteteran.

Partai Demokrat sangat sadar dan paham akan potensi Ruhut. Partai Demokrat mungkin tidak akan peduli seumpama banyak orang mengritik tingkah laku politik yang ditampilkan Ruhut. Bahkan seandainya pun orang-orang menuduh Ruhut tidak mampu bermain “cantik” dalam berpolitik. Seperti halnya Gattuso dan Rodman, Ruhut memang tidak diminta untuk tampil “cantik”. Tugas dan tanggung jawab bermain “cantik” terletak di pundak teman-temannya.

Dalam konteks inilah kita niscaya bisa mencerdasi kenapa Partai Demokrat dan Presiden SBY justru menempatkan Ruhut Sitompul dalam jajaran anggota Pansus untuk mewakili fraksinya. Jawabannya mudah ditebak. Karena Partai Demokrat dan Presiden SBY memang amat berkepentingan dengan penyelesaian kasus Century agar tidak meluber ke mana-mana, termasuk tidak menyentuh Istana.

Ingat politics is the art of the possible. Politik adalah seni kemungkinan. Fraksi Partai Demokrat dan Presiden SBY pasti akan memainkan strategi komunikasi politik pembiaran terhadap Ruhut, bahkan setelah “insiden bangsat” itu. Sebab, mereka memang diuntungkan dengan akting politik sang mantan pengacara itu. Dan Ruhut sangat piawai dengan itu karena dia ahlinya. * * *

7 Responses

  1. “Saya sebagai orang batak sekaligus warga demokrat, sangat malu dengan tingkah laku ruhut “bangsat” Sitompul anak haram itu. Tidak sepantasnya negarawan berakting dan bersifat arogan. Ditambah kelakuannya yang suka menyerang dengan kata-kata kotor!!!” Semoga Tuhan Yesus memberikan karma yang terlalu buruk untuk si Babi arogan Ruhut dempul’

    • Banyak orang berharap Ruhut mau mengubah sikap dan perilaku politiknya sebagai anggota parlemen atau wakil rakyat. Namun, banyak orang pula tidak yakin Ruhut mau dan mampu mengubahnya. Tugas kita sebagai “penonton” adalah wait and see apa yang terjadi dengan nasib politik seorang Ruhut Sitompul. Akankah ia menjadi pahlawan atau pecundang?

    • ruhut adalah politikus yang mampu memadukan kecerdasan diplomasi dan sikap dhableg sebagai alat untuk menjilat sekaligus untuk menjatuhkan sby

      pembelaan yang berlebihan terhadap sby dan sikap arogan yang dipertontonkan pada waktu yang bersamaan, seperti halnya pemberian pupuk dosis tinggi pada tanaman yang justru mempercepat proses pembusukan yang lebih mematikan
      dari pada berbagai kritikan yang dilontarkan

  2. liat mukanya aja udeh empet …alias munge si muka ngehe

  3. Saya agak kaget juga ada yg sepemikiran yg sama dengan saya.
    kalau saya bilang Ruhut memang brilian, dan ada lagi lo yg setuju, Jaya Suprana!

  4. sebenarnya kita hanya mainan bagi para politikus. karna politikus hanya mementingkan diri dan partai mereka sendiri. lihat saja, sebuah pendapat akan sama jika berada dalam satu wadah kepentingan. lihat saja pendapat para anggota partai demokrat akan cenderung sama.

    negara ini tidak akan maju dan jujur selama kita semua tidak mau menjunjung satu kepentingan…. kepentingan bangsa yang berdasar kebenaran dan kejujuran…..

    btw, tulisanya hebat bos…\\
    nulis terus…..

  5. ruhut adalah politikus ulung yang mampu memadukan kecerdasan diplomasi dan sikap dhableg sebagai alat untuk menjilat sekaligus untuk menjatuhkan sby

    pembelaan yang berlebihan terhadap sby dan sikap arogan yang dipertontonkan pada waktu yang bersamaan, seperti halnya pemberian pupuk dosis tinggi bagi tanaman yang justru mempercepat proses pembusukan yang lebih mematikan
    dari pada berbagai kritikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: