JEJAK YANG (TAK) BERBEKAS

Entah kenapa saya tiba-tiba amat ingin mengunjungi dan menyapanya

Dulu, di ujung, tempat SD Negeri Krandegan III Banjarnegara berada

ketika pulang. Pukul 11.00 WIB, siang itu. Saat matahari hampir tepat berada di atas ubun-ubun kepala. Panas terasa membakar tubuh. Keringat meleleh deras. Hal itu tidak menghalangi saya untuk sekadar menatapnya. Lalu rindu, lalu hampa, tiba-tiba menjelma.

Sebuah bangunan yang berada tepat di perempatan tugu kota Banjarnegara tercinta itu hanya bertengger satu nama. Jelas, sangat jelas. Semua mata pasti mudah membacanya. SD Negeri Krandegan IV! Hanya itu. Lalu, ke mana ia sekarang? Hilangkah? Digusurkah atau malah sengaja digusur? Lho bukankah ia merupakan sebuah tempat bagi anak-anak untuk merenda mimpi-mimpinya?

Ia bukanlah sebuah bangunan bergaya baru. Sangat jauh dari baru malah. Ia lebih mirip sebuah bangunan kuno bergaya Belanda yang sudah usang dan kusam. Tiang-tiang terpancang menghunjam ke tanah. Tembok-tembok bergaya sangat khas, tebal. Tidak seperti bangunan sekarang. Langit-langit atap terasa begitu tinggi. Tapi, karena itulah bangunan itu tampak sangat kokoh, sekokoh para penghuninya, mungkin.

Pada bangunan beruangan tiga itu saya mengenal pertemanan dalam makna yang sebenarnya. Intens, murni, gaul, dan karib. Tanpa mengenal perbedaan siapa saya, siapa dia, dan siapa mereka. Di situ saya diajarkan untuk memahami arti penghargaan dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Para guru! Para penjaga sekolah! Para orang tua! Bisa dipahami karena mereka tak cuma mengajarkan nilai, tapi menularkan sikap.

Saya berteman akrab dengan Rahayu Edy Wiyatno yang kelak lebih populer dengan Wiwiex Soedarno, mantan personil grup band “Powerslave”. Siswa yang pintar, sejak pertama kali ia masuk. Tak pernah berada di peringkat bawah atau menengah sekalipun. Tapi, siapa nyana ia akan menjadi pekerja musik andal di negeri ini. Sebab, bakat bermain musik rasanya amat sangat jarang terlihat atau malah diperlihatkan. Dulu, tidak kini.

Saya kerap terkekeh dengan tingkah “seniman nyentrik” Endro Yuwono. Pak Yatiman yang guru kelas pernah dibuat marah saat ia berharap dengan sungguh agar setiap siswa menghormati para guru. Tak dinyana, Endro langsung berdiri dan memberi hormat ibarat serdadu. “Siap, Pak!” Tangan Endro berada di dahi. Para siswa tersentak, tapi juga ngakak, meski dalam hati. Penggaris panjang menggebrak meja. Semua merinding.

Saya sering kagum dengan kecerdasan Jeri Fransidi yang pikirannya kerap melompat-lompat unik. Saya tak kaget jika ia kelak menjadi orang mumpuni. Tapi, saya tak menyangka ia mampu menjadi seorang pendidik sejati. Sebab pendidik pasti memerlukan kesabaran dan keuletan. Tak hanya itu. Karena pendidik juga memerlukan kesadaran. Kesadaran bahwa dirinya adalah seorang pendidik! Ah, saya tak mampu untuk berada di situ!

Kini, Wiwiex, Endro, Jeri, dan nama-nama lain yang saya ingat, seperti Kuat Herry Purwanto, Pujiono, Warih, Suhartono, Supriyatno, Widodo, juga teman-teman perempuan, telah menjadi sekumpulan burung terbang yang -pasti- sudah menemukan jati dirinya. Tentu, mereka bukan sekawanan pasukan ala “Laskar Pelangi” yang gempita. Tapi, mereka mungkin lebih dari itu, siapa tahu.

Saya yakin, -seperti saya- Wiwiex, Endro, Jeri, dan teman-teman lain, tidak pernah menyesal bersekolah di situ. Sekalipun di situ tidak ada “apa-apa”. Sekalipun di situ tidak ada “siapa-siapa”. Sebab “apa dan siapa” memang bukanlah penentu segalanya. Di luar “apa dan siapa” masih terhampar ribuan faktor dan -mungkin- keberuntungan yang menjadikan seseorang bisa tegak berdiri kokoh dalam hidup.

Namun, menatap bekas jejak SD Negeri III Krandegan, Banjarnegara, saya seolah tersadarkan bahwa nasibnya memang mirip siklus kehidupan para penghuninya. Awalnya lahir, berkembang, kemudian hilang. Mulanya dibangun, kokoh, lalu dibongkar. Awalnya kuat, sakit, renta, kemudian mati. Ah, ke-ADA-an memang akan selalu berakhir dengan ke-TIADA-an. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: