KACAMATA KETULUSAN

Sudah berulangkali istri saya mengingatkan. Pakailah kacamata itu! Pakai! Namun, hati ini serasa malas untuk melakukannya meski minus sudah menggapai kisaran angka tiga. Saya paham kemalasan itu pasti suatu saat akan membawa kesialan, bahkan mungkin malapetaka. Tinggal tunggu harinya saja andai tidak percaya.

Saya sebenarnya percaya itu. Tapi, saya berharap hal itu tidak terjadi. Mosok sih hanya karena malas pakai kacamata akan didera malapetaka. Maka saat pulang ke Banjarnegara dan mesti mengantar ibu mertua pijat refleksi di sebuah rumah pada wilayah Kelurahan Blitar, saya menanggalkan kacamata saya itu di rumah.

Saya masuk ke tempat pijat refleksi dan segera mendaftarkan nama ibu mertua. Saya lihat beberapa orang sudah duduk menunggu. Cukup banyak. Mungkin sekitar sepuluh orang. Kebanyakan sudah sepuh. Ibu-ibu.

“Sigit yo….”

Sebuah suara menyapa gendang telinga saya. Lirih, ramah, meski terkesan sangat lembut. Saya langsung menggerakkan bola mata saya. Sialan! Semua serba samar. Kabur. Hampir tak terlihat. Syukurlah! Di tengah wajah yang serba tersamar dan kabur itu saya masih mampu melihat seulas senyum seorang perempuan berkerudung. Tulus. Pada pojok ruangan.

Saya mendekat. Ya Allah! Bukankah ini ibu guru paling baik yang pernah saya kenal? Bukankah ini ibu guru paling ikhlas yang pernah saya “rampas” ilmunya? Bukankan ini ibu guru yang tidak lelah bibirnya dibasahi kalimat-kalimat mulia saat berdiri di depan kelas? Tapi, bagaimana mungkin saya mengabaikan sosoknya.

Bu Titing! Saya bergegas menyalaminya dan bahkan duduk di sampingnya. Kami berbicara akrab. Dengan keramahan yang tulus dan tanpa dibuat-buat, Bu Titing bertanya kepada saya. Tinggal di mana saya sekarang? Putranya berapa? Kerja di mana? Ah, Bu Titing masih seperti dulu, tetap seperti seorang ibu yang kadang seolah tak lelah memberi perhatian berlebih terhadap anak-anak didiknya.

Bu Titing memang guru yang komplet. Tipikal pendidik di masa lalu. Bu Titing mampu menggabungkan nilai-nilai yang semestinya dimiliki seorang guru. Tegas dan berwibawa, tapi ramah dan menyenangkan. Tidak mudah. Sebab, tidak semua orang menyenangi ketegasan dan kewibawaan saat dua kata itu mampir dan menyentuh dirinya. Tentu sebagai objek penderita kala berbuat keliru.

Bu Titing berbeda dengan Bu Yuni yang lurus seumpama jalan tol, Bu Hatmi yang sedikit kenes “menggoda”, atau Bu Marhamah yang manis bak durian. Bu Titing tentu juga berbeda dengan Pak Bakir yang sumringah njawani, Pak Ilyas yang pendiam tanpa ekpresi dan impresi, atau Pak Naryo (PD) yang terkesan “bergajulan” seenaknya sendiri.

Di tangan Bu Titing semua latar belakang dan identitas personal siswa tidak bermakna apa-apa. Di SMP Negeri I Banjarnegara, ya SMP Negeri I Banjarnegara! Kala itu, sekitar duapuluh delapan tahun yang lalu. Semua siswa hadir untuk disamaratakan, tidak untuk dibedakan.

Bu Titing tidak pernah meninggikan Muslih, Haryadi, atau Sunu; Wiwin atau Esti, para siswa yang pintar, cerdas, dan sulit tertandingi. Bu Titing juga tidak pernah menghargai secara berlebih Endro, Tri Yoga, atau Agung; Retno, Hesti, atau Widiastuti, para siswa dari kalangan putra tokoh terpandang. Bu Titing tidak pernah merendahkan Harto atau Hendar (Kanthong), Fakhruddin atau Giat, para siswa yg masuk kategori “ndugal”.

Semua siswa berhak mendapatkan ilmu dan nilai moral yang diajarkan Bu Titing. Tidak untuk dihapalkan, apalagi disepelekan. Maka saya selalu ingat pesona Bu Titing dengan nyanyiannya saat tampil menghibur di kala perpisahan sekolah Angkatan 82 di Gedung DPRD dulu. Bahkan pesona itu mampu melebihi pesona band yang digawangi Wiwiex, Budi, Jatmiko, dan Hendar atau malah pesona sang pembawa acara (MC) saat perpisahan itu.

“Dadi koe neng Bogor saiki?” tanya Bu Titing lembut.

“Inggih, Bu….” jawab saya.

“Dolan yo neng omah Ibu….”

Saya hanya tersenyum, tidak menjawab. Tahu kelemahan diri. Tapi, saya sungguh malu. Amat malu. Saya mengutuki diri sendiri. Bagaimana mungkin saya menjawab dengan sekadar senyum. Apa susahnya menjawab “iya”?! Apa susahnya bersilaturahim ke tempat Bu Titing dan para guru lain yang mulia itu?! Bukankah hanya sekadar limabelas atau duapuluh menit untuk “melibas” kota Banjarnegara, tempat para guru itu tinggal?

Saya kini tahu apa yang membedakan saya dengan Bu Titing, juga guru-guru yang lain itu. Mereka –para guru yang mulia itu- selalu melihat segalanya dengan kacamata ketulusan. Sedangkan saya? * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: