APA MOTIF DI BALIK BAILOUT BANK CENTURY?

Saya bukan lulusan ilmu ekonomi, apalagi seorang ekonom. Saya jauh dari ilmu yang kerap berbicara tentang uang, moneter, perdagangan, bursa saham, valas, dan sebagainya itu. Bahkan saya cenderung tidak tertarik. Namun, semalam (21/1) saya begitu menikmati paparan para ekonom kondang negeri ini dalam rapat Pansus Century DPR/RI. Kapan lagi saya bisa melihat mereka bertemu, berdebat, dan saling asah ketajaman ilmu.

Saya mengikuti keragaman argumentasi yang ditunjukkan Fauzi Ikhsan, Faisal Basri, Rizal Ramli, dan Drajad Wibowo. Lumayan, ibarat dapat mata kuliah singkat tentang perekonomian Indonesia dari mereka. Begitu menikmatinya saya sampai-sampai tidak terlalu peduli dengan rengekan dan ocehan kedua anak saya yang meminta saluran televisinya dipindah. Bosan! Bosan! Mosok isinya orang ngomong melulu, begitu kata mereka.

Saya paham keempat ekonom itu berbeda dalam menyikapi bailout Bank Century. Rizal Ramli dan Drajad Wibowo mengritik keras upaya penyelamatan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), KSSK, dan LPS sehingga pemerintah mesti mengucurkan dana Rp.6,7 trilyun kepada bank milik Robert Tantular itu. Motif dan alasan sistemik dinilainya jauh dari masuk akal. Mereka percaya pasti ada alasan dan motif yang sengaja disembunyikan oleh mereka-mereka yang mengambil keputusan.

Sebaliknya, Fauzi Ikhsan dan Faisal Basri lebih kental aromanya dalam “membela” kebijakan Boediono-Sri Mulyani sebagai Gubernur BI dan Ketua KSSK/Menkeu. Faisal Basri bahkan menyebut Sri Mulyani sebagai tokoh yang integritasnya tidak perlu dipertanyakan. Ia jujur, bersih, dan jauh dari kepentingan uang. Kata Faisal Basri, jangankan uang haram, uang yang halalpun Sri Mulyani tidak mau. Jadi, tidak pada tempatnya meragukan Sri Mulyani dalam persoalan bailout Century karena ia tidak menerima uang sepersenpun dari kebijakan itu.

Saya memahami perbedaan pandangan para ekonom itu sebagai keragaman intelektual yang memperkaya khasanah pengetahuan kita. Bukankah keragaman intelektual, bagaimanapun bentuknya akan menjadikan pikiran kita tercerahkan? Karena itu, saya berusaha mengabaikan kenyataan jika perbedaan atau persamaan pandangan dari mereka itu dilatarbelakangi oleh persoalan solidaritas almamater, aliran/mazhab ekonomi, ataupun pegangan ideologis.

Namun, dalam pengabaian itu, nalar saya yang awam tentang segala masalah ekonomi di negeri ini tiba-tiba tergelitik abis oleh fakta yang dilontarkan oleh Faisal Basri. Tidak ada motif uang di balik penyelamatan Bank Century! Sri Mulyani atau Boediono tidak menerima duit sepersen pun dari penyelamatan itu. Integritas mereka adalah taruhannya. Mereka adalah tokoh yang jujur, bersih, lurus, dan sederhana. Begitu inti rangkuman yang bisa saya catat dalam ingatan yang terbatas.

Saya mengagumi integritas Faisal Basri sebagai pribadi dan ekonom nomor wahid di tanah air. Namun, mendengar pemaparan Faisal Basri tentang motif penyelamatan di balik Bank Century, benak saya malah teringat secara langsung dengan nama-nama besar dalam khasanah pustaka ilmu sosial dunia, seperti Marx, Freud, dan Russel. Merekalah yang paling “rajin” membedah pikiran dan hati manusia sehingga dapat diketahui motif-motif di belakang sebuah dinamika sosio-politik-ekonomi massa.

Kata Marx, motif dinamika sosial yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan adalah uang. Kekayaan! Uang itu yang menggerakkan segalanya sehingga manusia berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya. Uang adalah alasan paling purba yang menjadikan manusia bisa berbuat sekehendak hatinya. Sejarah-sejarah besar selalu tercipta karena masalah uang, kekayaan, bahkan termasuk Perang Dunia I dan II. Kalau dalam sejarah besar saja uang mengambil peran utama, apalagi dinamika sosia-politik yang kecil.

Freud berbeda dengan Marx. Bagi Freud, uang bukan segalanya. Imajinasi dan hasrat yang liar merupakan dorongan yang memaksa manusia terus berusaha setelah kebutuhan-kebutuhan pokoknya terpenuhi. Bila sandang, pangan, dan papan serta kemewahan-kemewahan lain sudah terpenuhi, apa lagi yang mampu membuat manusia bergerak bebas? Kata Freud, seks! Seks yang menjadikan manusia tidak stagnan terhadap kehidupan yang dijalaninya. Seks menjadi hasrat yang diimpikan dari orang atas hingga bawah.

Betrand Russel berlainan dengan Marx dan Freud. Kata Russel, setiap orang ingin berperan layaknya Tuhan. Sebab, menjadi Tuhan itu sangat nikmat. Ia memerintah, ia menguasai, dan ia mendominasi. Ia dihormati, ia disanjung, dan ia dipuja. Jadi, bukan uang atau seks yang mempengaruhi manusia untuk bergerak dan berubah, melainkan kekuasaan. Apabila kekayaan sudah tercapai sampai tingkat memadai dan apabila seks sudah terpenuhi secara maksimal, orang akan berburu kekuasaan.

Mengapa demikian? Karena cara paling mudah untuk mencapai kejayaan atau keagungan layaknya Tuhan adalah melalui kekuasaan.

Maka mendengar pemaparan ekonom sekaliber Faisal Basri yang “lurus-lurus” saja ketika berbicara mengenai motif di balik penyelamatan Bank Century, saya menjadi terdiam. Sebaris pertanyaan menyelimuti benak saya. Benarkah tidak ada motif yang lain, selain alasan sistemik -meski alasan ini dibantah ekonom yang lain-?

Kini, saya tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling bodoh. Namun, di benak yang lain, saya percaya dan meyakini bahwa kesederhanaan tokoh publik memang ibarat cahaya. Ia kerap membuat banyak orang terpana. Tapi, orang sering lupa bahwa di balik cahaya tersembunyi kekuatan maha dahsyat. Di balik kesederhanaan tokoh publik, kadang tersembunyi imajinasi liar tentang segalanya; kepentingan, seks, kekuasaan, bahkan keagungan. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: