“KING OF FRUIT” DAN KEKUASAAN PEMIMPIN

Terus terang, saya tidak paham kenapa orang bisa begitu tergila-gila kepadanya. Orang rela berburu ke mana saja asal dapat bertemu dengannya. Saat musimnya tiba. Di kebun, di pasar, mal, atau bahkan pedagang musiman yang berada di pinggir-pinggir jalan. Uniknya, ketika belum bertemu pun orang bisa tersenyum malu-malu, tertawa-tawa, lalu menunjukkan wajah kepuasan.

Ah, aneh. Padahal, segala yang dimilikinya jauh dari kesan menarik, apalagi mengesankan. Bentuk, bau, dan rasa di lidah tidak memungkinkan setiap orang mampu bertoleransi dengannya. Bahkan tidak sedikit maskapai penerbangan yang menolak membawanya. Jadi, bagaimana mungkin saya bisa menerima kenyataan ketika banyak orang menjulukinya sebagai raja dari segala buah-buahan yang ada di muka bumi ini.

King of fruit. Durian! Bentuknya saja menyeramkan. Sangat jauh dari kesan yang menarik. Bulat, agak besar, serta bergerigi nan lancip dan tajam. Kulitnya juga kusam dan kasar. Warnanya seragam, hijau agak kekuning-kuningan. Ia jelas kalah cantik dibanding apel yang merah menyala atau hijau lumut yang mengkilat. Bahkan ia tidak sebanding dengan strawbery, anggur, atau buah naga yang anggun dan penuh pesona.

Bau durian menyengat. Tajam dan sangat menusuk hidung. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan baunya niscaya akan termehek-mehek karenanya. Pusing, mual, itu yang paling kerap dikeluhkan oleh para pembenci atau penolak kehadirannya. Namun, sebaliknya, para pecinta dirinya akan memuja habis-habisan. Bau durian adalah bau parfum yang tidak terjamah ahli parfum terbaik sekalipun. Bau surga!

Durian menghadirkan rasa yang tidak tunggal. Campur aduk. Manis. Gurih. Legit. Rasa yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata, begitu para pemuja biasa melukiskannya. Ia berbeda dengan jeruk yang manis, kecut, atau asam. Durian lain dengan anggur yang melulu manis. Ia tidak sama dengan salak yang hanya punya dua rasa, manis atau sepet.

Maka, bagi para pemujanya, harga durian yang melangit adalah wajar. Pantas. Masuk akal. Lho, King of fruit! Lihat saja harga durian yang tertera di mal atau sekadar gerai pinggir jalan. Dipastikan harganya akan melebihi harga pasaran buah-buahan lain yang berdampingan dengannya. Semua buah itu seolah tunduk dan lenyap di balik kepongahan durian yang menjerat.

Saya bukan pemuja durian. Saya bahkan termasuk penentang yang paling keras terhadapnya. Hidung, lidah, perut, dan segala perangkat kemanusiaan yang ada di tubuh saya tidak mampu berkompromi dengannya. Tidak ada rasa yang memikat pada durian. Tidak ada bau surga pada durian. Hanya ada satu kata untuk buah durian, TOLAK!

Saya sedikit beruntung karena beberapa anggota keluarga saya berada satu kubu dengan saya. Ayah-ibu, kakak, dan seorang adik saya adalah penolak kehadiran durian. Istri dan anak saya tidak berbeda jauh. Namun, seorang adik saya yang lain adalah pemuja durian, demikian pula anak sulung saya. Maka di keluarga saya terdapat dua kubu, pemuja dan penolak durian.

Dalam batas-batas tertentu durian seakan-akan menghadirkan aroma kekuasaan pemimpin dalam benak saya. Ia dirindui, tapi kerapkali ia dicaci. Ia diterima, tapi ia juga ditolak. Ia dipuja, namun tak jarang ia dicerca. Kehadirannya serta merta tidak langsung disukai karena ia tidak selalu mampu membuktikan manfaat. Kalaupun manfaatnya sudah terbentang dan terbaca, orang masih bisa pula untuk memperdebatkannya.

Pemimpin tidak mungkin berhasil, kecuali jika ia menggunakan kekuasaannya terhadap para pengikutnya. Ia dapat menggunakan kelebihan ilmu, kharisma, atau bahkan kekuatannya. Durian tidak jauh berbeda. Ia mampu memikat orang agar tertarik dengannya karena aroma, rasa, atau bahkan sekadar melihat bentuknya. Belah duren dalam makna yang sesungguhnya menjadi sebuah sensasi yang unik dalam proses menikmati buah-buahan.

Di kalangan mereka yang malu-malu, cinta terhadap kekuasaan terselubung sebagai suatu dorongan hati untuk tunduk kepada pemimpin. Ia diam karena ia paham, pemimpin itu akan membawa derajat dirinya ke arah yang lebih unggul. Ia pragmatis. Di kalangan mereka yang malu-malu menyukai rasa durian, mereka tahu durian akan membawa dirinya kepada cita rasa tertentu. Tapi, mereka tidak selalu siap dengan cercaan atau tudingan yang mengarah kepada dirinya. Mereka ingin dianggap netral. Ada di makan, tidak ada ya tidak masalah.

Namun, bagaimana dengan nasib durian busuk?

Semua orang pasti sepakat. Ia harus ditolak dan dibuang! Para pemuja durian akan merasa jijik dengannya, terlebih lagi para pembencinya. Tentu, hal ini tidak jauh berbeda dengan kekuasaan pemimpin. Jika kekuasaan pemimpin busuk, niscaya segala lapisan masyarakat akan menolak dan membuangnya. Tanpa ampun! * * *

3 Responses

  1. MASAK SEMANGKA BESARNYA SEGITU,AKU JADI TERTAWA L00 SAMPA-SAMPAI LUPA MAKAN.

  2. PUSAT PEMBIBITAN DURIAN UNGGUL.
    Pemasaran via Online.
    Kami Siap Melayani Pesanan Seluruh Indonesia.

    Menyediakan Segala Jenis Bibit Durian UNGGUL :
    Bibit Durian Unggul Lokal/Nasional.
    Bibit Durian Introduksi Thailand.
    Bibit Durian Malaysia.

    HOT LINE
    085 7297 23313.

    PIN BB 276D 9BB3.

    Website :http://durianunggul.wordpress.com/
    Facebook : http://www.facebook.com/durian.unggul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: