JOHN PANTAU, MANTAN ARTIS, DAN DUNIA INSTAN

Gara-gara ulah John Pantau saya tertawa habis-habisan. Perut saya sampai sakit tak kuat menahan tawa. Bisa-bisanya ia mempermainkan mantan artis yang kini menjadi anggota DPR-RI dari partai politik yang berkuasa. Kualat lho! Apalagi mantan artis itu adalah istri dari salah seorang menteri yang sedang duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu (Jilid II) di bawah kepemimpinan Presiden SBY.

Begini ceritanya. Siang itu (Selasa, 26/1) sekitar pukul tiga, saya sedang ada urusan di sebuah kantor notaris di kota Bogor. Sambil menunggu urusan beres, saya asyik memandangi layar televisi. Uphs! Ternyata di layar kaca sedang ada acara “John Pantau”, si polisi norma yang kocak dan doyan cengengesan tak karuan itu.

Menarik! Karena yang tengah ia kerjain ternyata ya si ibu anggota DPR-RI yang mantan artis itu. Dengan nada yang terkesan “meledek” John Pantau bertanya kepadanya.

“Hayo…Hayo…. Apa arti hak angket???”

Sang mantan artis kelabakan. Ia seperti tak siap menjawab pertanyaan itu. Lama ia terdiam. Lalu, ia menjawab sekenanya sambil malu-malu. John Pantau yang sepertinya tahu kalau mantan artis itu menjawab sekenanya segera menambahi lagi.

“Apa bedanya dengan hak interpelasi? Hayo apa bedanya???”

Si mantan artis kena batunya.

“Cut! Cut dong!” pintanya malu kepada kameramen.

Kamera tak berhenti. Kamera tetap menyorot si mantan artis yang berjalan menuju asistennya untuk meminta nasihat sembari memperlihatkan sikap John Pantau yang jumpalitan kemekelen.

Cerita tak berhenti sampai di situ. John Pantau kemudian menanyakan kepada si mantan artis itu sila kelima dari Pancasila. Dengan sigap ia menjawab.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

John Pantau langsung terkekeh. Mantan artis yang anggota DPR-RI itu seperti tersadar bila dirinya salah. Sambil mengeja pelan ia mengurutkan sila-sila Pancasila. Kamera tetap tak berpindah dari wajahnya. Namun, yang muncul dari bibir si mantan artis tetap tak berubah.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

John Pantau kembali tertawa terbahak-bahak. Ia lalu menyebutkan isi dari sila kelima Pancasila. Sang mantan artis mengangguk-angguk. Namun, wajahnya yang ayu tetap tak mampu menyimpan kegundahan hatinya. Dari semu merah di wajah, saya paham, ia malu. Amat malu!

Terus-terang saya semata-mata tidak hendak menertawakan mantan artis yang kini duduk di lembaga terhormat tersebut. Prihatin? Mungkin iya! Tapi, saya menyadari bahwa semua “kebodohan” itu tidak berpangkal hanya dari dirinya. Semua turut berperan, bahkan termasuk masyarakat yang selama ini menjadi pendukungnya hingga ia bisa terpilih sebagai anggota DPR.

Tapi, apakah anggota DPR tidak boleh salah? Apakah anggota DPR tidak boleh tidak tahu tentang hak angket atau hak interpelasi, misalnya? Apakah anggota DPR tidak boleh lupa tentang sila dari Pancasila? Tentu, boleh. Sangat boleh. Namun, melupakan hal yang sebenarnya sangat mendasar karena sebuah persoalan sungguh melekat dalam dirinya niscaya amatlah naif.

Lagi-lagi, ini bukan salah dirinya. Sebab tidak mudah bagi kita untuk mengganti “baju” hanya dalam waktu sekejap. Membuang “baju” yang lama demi memakai “baju” yang baru tetap diperlukan proses pembelajaran yang tidak ringan. Sikap, keterampilan, pengetahuan, niscaya diperlukan sebagai basis peralihan dirinya menuju wajah yang baru.

Dunia hiburan tentu bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang politisi. Tapi, dunia politik juga bukan tempat yang sepele bagi artis/aktor untuk mengekspresikan kemampuannya. Masing-masing ada tempat dan tanggung jawabnya. Apa jadinya bangsa kita ini jika masing-masing pihak berkehendak untuk mengganti baju hanya karena niat; ingin belajar dan ingin suasana lain.

Wow! Inilah lucunya bangsa kita. Kita selalu ingin terburu-buru dan serba instan. Instan memang melenakan. Tapi, kita sering dibuat tidak sadar bahwa di balik segala macam instan selalu ada bahaya yang mengancam. Makanan instan. Politisi instan. Olahragawan instan. Birokrat instan. Mereka semua membawa kenikmatan, tapi selalu tidak alamiah. Mereka karbitan. Semua tahu, karbit hanya akan membawa balon bangsa ini meledak. BUUUUMMM!!!!!!***

4 Responses

  1. haha…inilah indonesia..jadi 5 tahun mendatang harus ada test dahulu,hafal apa tidak isi Pancasila dan istilah-istilah disana…untuk mengambil kebijakan…

    • Ha..Ha… Anggota DPR mengambil kebijakan? Ha…ha…ha.. Tidaklah. Anggota DPR pengawas kebijakan. Tapi, bagaimana mengawasi bila ia tidak tahu apa yg semestinya ia awasi.

  2. kasihan bangsaq ini…..di pimpin oleh org2 yg tdk tau dasar2 bangsanya sendiri…..

  3. mengikuti ajang/audisi pencarian calon artis secara instan banyak positif dan negatifnya. Positifnya, jika si calon artis banyak memiliki uang untuk “membeli” suara dengan sms, maka ia akan menang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: